Sudah tidak perlu ditanyakan lagi bahwa kisah yang baik dan menarik akan banyak digemari oleh setiap manusia. Setiap alur demi alur akan diikuti tanpa rasa bosan dan jenuh, karena unsur-unsur yang terdapat pada kisah-kisah yang asyik dan menarik akan lebih mudah dijelajahi oleh akal. Beda lagi dengan kisah-kisah yang memiliki komposisi agak berat, manusia akan lebih mudah untuk bosan dan mengantuk, apalagi anak-anak.
Faktor lain yang dapat menyebabkan bosan dalam menerima materi adalah metode yang digunakan dalam mengajar. Metode yang disampaikan dengan ceramah akan lebih cepat menimbulkan bosan, bahkan sulit untuk diikuti sepenuhnya oleh generasi-generasi masa kini, karena tidak ada interaksi dua arah. Interaksi dua arah ini merupakan salah satu cara untuk membangkitkan gairah para pendengar (anak-anak), karena antara pembicara dan pendengar memiliki tugas yang sama yaitu sama-sama menyampaikan. Oleh karena itu, metode itu sangat diperlukan dan dapat memberikan faedah.
Pada umumnya, anak-anak suka mendengarkan cerita, memperhatikan dan mudah untuk mengingat sesuatu yang baru saja disampaikan. Kemudian ia akan menirukan dan memperagakannya dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini merupakan sebuah peluang dan harus dimanfaatkan oleh para pendidik dalam mengajar.
Kisah-kisah yang ada di dalam Al-Qur’an bisa dijadikan sebagai bahan ajar. Berita-berita mengenai para nabi, umat-umat terdahulu dan kejadian alam semesta ini menarik sekali untuk dikaji dan diajarkan kepada anak-anak. Dalam menyampaikan, para pendidik harus menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami dan disesuaikan dengan nalar anak-anak. Sebuah kisah yang disampaikan dengan metode dan suasana yang tepat akan berdampak positif pada otak, karena otak akan menerima materi sesuai dengan suasana yang dialami. Tak hanya itu, kalbu dan perasaanya juga akan digiring untuk mengikuti nilai-nilai yang terkandung dalam kisah tersebut. Saat inilah transfer ilmu sedag berlangsung, tidak hanya otak saja yang terus bekerja, akan tetapi kalbu juga ikut andil dalam hal ini.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, alangkah baiknya kisah-kisah ini tidak hanya diajarkan di sekolah, akan tetapi di rumah juga harus lebih di intensifkan. Menurut Ismail, dalam bukunya yang berjudul Paradigma Pendidikan Islam dijelaskan bahwa cerita memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pengetahuan manusia. Secara alamiah, manusia menyukai cerita. Oleh karena itu, wajar jika cerita dijadikan sebagai salah satu metode dalam pengajaran. Metode ini sangat penting, karena dapat mengasah intelektual dalam menanamkan nilai-nilai moral serta humanisme yang benar.
Dalam dunia pendidikan, metode cerita harus disesuaikan dengan perkembangan anak-anak. Pada usia di bawah 9 tahun, seorang pengajar bisa memberikan cerita dengan cara mendongeng. Materi dongeng bisa berasal dari cerita-cerita nabi dan sebagainya. Menurut penelitian Ernest Harms, konsep belajar pada usia anak-anak banyak dipengaruhi oleh kehidupan fantasi, sehingga hal-hal yang bersifat serius masih dijadikan sebagai mainan saja. Untuk menghasilkan kualitas mengajar yang baik, seorang pengajar harus bisa menarik perhatian anak-anak dan mampu untuk merangsang otak anak-anak agar mengikuti alur yang disampaikan oleh pengajar. Di antara cerita-cerita yang bisa menarik perhatian anak-anak yaitu cerita-cerita yang mengandung hikmah dan dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mendengarkan cerita, anak-anak akan merasa senang dan antusias sehingga mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah Saw, beliau sering bercerita tentang umat-umat terdahulu agar bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bi al-shawaab







