Cara mendidik ayah yang keras dibandingkan dengan cara ibu dalam mendidik yang terasa lebih lembut, mengayomi, mengasihi dan sangat perhatian. Namun membandingkan cara didik ayah dan ibu kurang tepat, karena keduanya mempunyai sifat yang berbeda selayaknya antara laki-laki dan perempuan. Sekeras apapun ayah dalam mendidik tetap ada rasa belas kasih dalam diri sang ayah terhadap sang anak.
Ayah mana yang memiliki niatan buruk terhadap anaknya sendiri. Pastinya tidak ada, kecuali memang mereka yang tidak waras. Ayah dalam mendidik tentu memiliki niat baik kepada sang anak. Meskipun cara yang digunakan kurang menyenangkan, tetapi perlu tahu bahwa sesuatu yang ayah lakukan semua didasarkan pada kebaikan sang anak kelak. Kalau kita cermati lebih jauh lagi ayah tidak selalu keras dalam mendidik anak. Semua tergantung kebaikan apa yang ingin sang ayah itu ajarkan.
Ayah mendidik dengan keras, keras disini tidak selamanya dikonotasikan sebagai kontak fisik melainkan kedisiplinan. Seperti dipotongnya uang jajan, penerapan batas waktu keluar malam, atau peraturan untuk tidak berpacaran. Salah satu contoh lagi, ketika sang anak membuat kesalahan dan akhirnya sang ayah kecewa, sudah pasti ia akan memarahi sang anak. Namun, takaran marah sang ayah tergantung pada seberapa parah kesalahanmu. Agar anak tumbuh menjadi anak yang disiplin, cara keras tersebut dimaksudkan juga agar sang anak menjadi pribadi yang tangguh dan kuat.
Hubungan seorang ayah dan anak memang tidak sesedarhana hubungan ibu dan anak. Namun, bukan sebagai alasan untuk menaruh rasa ketidak sukaan terhadap cara mendidiknya yang keras. Kita sebagai anak harus memahami bahwa ada alasan yang baik didalamnya, tidak lain agar kita tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Kita harus tahu bahwa cinta kasih ayah tak kalah besar dari cinta seorang ibu pada anaknya.





