Remaja sebagai generasi penerus perjuangan bisa dikatakan menjadi tiang suatu Negara. Generasi bangsa yang berkualitas dengan karakter yang unggul, akan mendorong terwujudnya suatu bangsa yang maju dan bermartabat. Salah satu karakter yang perlu dibangun sejak dini adalah karakter agamis. Melalui lembaga pendidikan, agama harus menjadi ajaran yang menginspirasi untuk mewujudkan henerasi yang damai dan penuh kasih sayang sesama manusia. Dengan demikian, pendidikan menjadi sarana yang mampu mencerahkan. Kolaborasi keduanya membentuk pendidikan karakter dan pendidikan agama yang saling berkaitan bak sekeping mata uang yang memiliki dua sisia, yang apabila tidak ada salah satunya sama dengan ketiadaan keduanya.
Degradasi moral generasi bangsa, terutama di kalangan pelajar, menjadi indikator kurangnya pendidikan agama dan karakter. Kasus tawuran antarpelajar, menyontek saat ujian, dan terlambat datang ke sekolah, tidak jarang masih kita temui. Berbagai isu generasi bangsa yang mulai menyimpang dari nilai-nilai agama, menjadi sorotan yang harus segera dibenahi. Dan dari semua itu, karakter adalah sendi utamanya. Oleh karena itu, perlu adanya genjotan pendidikan karakter sejak dini. Sebab, mereka yang sekarang masih duduk di bangku-bangku sekolah kelak akan menjadi pengemudi kemajuan bangsa tercinta.
Selamatkan Generasi dari Radikalisme
Dalam ihwal ini, seorang guru sebagai orang tua di sekolah tentunya berperan mencari cara dan memiliki pandangan yang bisa mengarahkan murid-muridnya menuju tercapainya kepribadian yang kedamain dan penuh kasih sayang di esok hari. Di tengah keragaman hidup sekarang ini, peran pengajar yang mencerahkan dan berkompeten di bidangnya sangat dibutuhkan. Apalagi seorang pengajar agama harus benar-benar terseleksi terutama dari radikalisme dan ekstrimiesme. Sudah semestinya yang bersangkutan dengan keagamaan lebih tepat disampaikan oleh orang yang ahli di bidangnya.
Perlu kita tahu, 2019 lalu pernah ada isu bahwa pendidikan agama dinilai ini tidak selaras diterapkan di sekolah karena dipandang sebagai akar radikalisme. Sehingga ada permintaan oleh beberapa oknum agar pendidikan agama dihapuskan. Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan karena jika direalisasikan maka tidak akan konsisten dengan pancasila dan UUD 1945 yang sudah jelas berdasarkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila itulah yang kita pegangi sebagai bagian dari jiwa berkehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikan agama yang sudah diterapkan di Indonesia belum sepenuhnya mencapai kesempurnaan. Dipungkiri atau tidak, adanya korupsi menjadi sebuah pelajaran bagi kita bahwa kurang adanya penguatan pendidikan agama yang akan sangat menentukan karakter seseorang. Basic pendidikan agama lebih tepat jika didapatkan sejak usia dini. Sebab saat itu juga semua akan cepat dan mudah terekam dalam diri seseorang. Benteng-benteng karakter mulai dibangun dan nantinya akan menjadi penopang yang permanen dalam dirinya.
Dalam kacamata penulis, selain pendidikan karakter ada pendidikan agama yang perlu diberikan, tidak hanya diselip-selipkan tapi harus diutamakan. Pendidikan agama yang berbasis keimanan dan ketakwaan pada Tuhan. Sejatinya pendidikan karakter itu kali pertama diterapkan di kalangan keluarga. Namun, jika keluarga kurang mengambil peran dalam hal ini, maka akan menjadi tanggung jawab sekolah dalam menentukan karakter.
Semua harus didasari dengan pendidikan agama termasuk pendidikan karakter yang menjadi prioritas pendidikan nasional. Sebab inilah yang menjadi titik poin dari segala macam pendidikan yang ada. Tanpa adanya pembekalan nila-nilai keagamaan, seseorang tidak akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kepercayaan akan adanya balasan bagi yang berbuat baik dan hukuman bagi yang berbuat buruk itu bisa diperoleh dengan adanya pendidikan agama. Maka dari itu, pendidikan agama lebih tepat untuk dijadikan terobosan untuk membangun karakter generasi bangsa dalam mencapai peradaban umat yang sempurna.
Penempatan pengajar-pengajar agama yang benar-benar mengerti ajaran agama dan mengamalkan agama secara moderat, sangat penting dilakukan untuk menghasilkan generasi yang unggul dan berbudi luhur, selain tentu saja cerdas dan bersahaja. Generasi yang ingin kita ciptakan melalui pendidikan agama adalah generasi yang damai dan penuh kasih sayang, sebagai bagian dari implementasi ajaran agama sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallahua’lam bi al-shawwab.





