Para Debu

Penulis: Raeesa Farras Fisabilillah, Santri-Murid Kelas VII SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Pamotan Rembang.

Di suatu kota, terdapat rumah kecil di pinggir jalan. Rumah itu sudah sangat lama ditinggalkan. Pemiliknya adalah seorang wanita yang bekerja di sebuah perusahaan yang letaknya tak jauh dari rumah tersebut. Lalu, karena tiba-tiba wanita tersebut dipindah ke pusat kota, akhirnya rumah tersebut ditinggalkan. Saking lamanya kosong, rumah tersebut menjadi sangat berdebu. Sehingga muncullah 4 debu bersaudara. Namanya, Debby, Dessy, Derry, dan Decky. Setiap hari, mereka bermain di sebuah ruangan kosong yang dulunya adalah gudang. Setiap malam, mereka akan berkumpul bersama debu-debu lain di sebuah kamar yang sangat luas.

Pada suatu hari, di saat Debby berjalan di ruang tamu, tak sengaja ia mendengar percakapan antara seorang wanita dan pria paruh baya. Debby merasa tak enak hati saat mendengar percakapan tersebut. Hingga ia mendengar bahwa rumah tersebut akan dijual. Ya, wanita pemilik rumah itu ingin menjual rumah ini kepada seorang pria. Seolah-olah terlintas begitu saja, Debby teringat akan suatu benda yang sangat ditakuti oleh para debu, yaitu penyedot debu. Bagi para debu, rumah dengan penghuni artinya adalah musnah. Mereka akan musnah karena tersedot ke dalam alat tersebut.

Debby yang panik pun akhirnya berlari kedalam sebuah kamar di mana para debu – debu berkumpul. Sesampainya di kamar, ia naik di atas sebuah pijakan yang cukup tinggi. Lalu, ia berseru dengan sangat lantang. Mendengar suara Debby. Seketika semuanya pun menoleh.

“Hei para debu!” seru Debby.

“Sebentar lagi rumah ini akan dijual. Itu artinya rumah ini akan berpenghuni.” Sambung Debby.

Semuanya menjadi sangat ricuh. Para debu terlihat sangat khawatir, juga sangat panik. Mereka kebingungan harus melakukan apa. Debby turun dari pijakan tersebut lalu menghampiri saudara-saudaranya. Salah satu dari mereka angkat bicara.

“Debby, benarkah itu?” tanya Dessy.

“Tentu saja. Aku dengar dengan telinga kepalaku sendiri.” saut Debby.

“Jadi, kita harus melakukan sesuatu. Kita saat ini sedang sangat terancam.” ujar Derry

Mereka terdiam memikirkan sesuatu yang bisa menyelamat kan mereka. Di dalam otak Debby satu-satunya cara adalah keluar dari rumah ini. Akan tetapi, bagaimana caranya. Akan sangat sulit jika lewat pintu. Debby kembali memutar otak. Lalu, Decky yang sedari tadi diam akhirnya pun angkat bicara.

“Bagaimana dengan lubang ventilasi. Itu sudah cukup besar untuk kita semua.” kata Decky.

“OH! Aku tahu,” seru Dessy.

“Bagaimana kalau kita naik ke atas lubang ventilasi lalu terbang dengan bantuan angin,” sambung Dessy.

“Bagaimana cara memanggil angin?” tanya Derry.

“Tenang saja, aku tahu caranya.”

“Bagus. Sekarang ayo kita beritahu para debu lainnya.” ucap Debby.

“Aku akan memberi tahu mereka.” kata Decky yang kemudian disetujui dengan anggukan oleh ketiga saudaranya.

Decky akhirnya berjalan menuju sebuah pijakan yang cukup tinggi. Ia berdehem. Lalu, ia berkata dengan lantang dan tegas.

“Tenang teman-teman debuku! Ada cara untuk keluar dari sini. Kita akan keluar melewati lubang itu, lalu terbang dengan arus angin.” seru Decky dengan sangat yakin dan berani.

“Mana bisa kita naik ke atas.” ucap salah Satu debu tua.

“Dengan bekerja sama kita pasti bisa.” kata Decky.

Semua debu kembali ricuh. Mereka berdiskusi. Keputusan mereka adalah penentu takdir mereka sendiri. Satu persatu sudah yakin dengan keputusan mereka. Lalu, ketika mereka semua telah memutuskan, mereka menyampaikannya kepada debu yang paling tua. Setelah sudah benar-benar yakin dengan jawabannya, akhirnya debu tertua pun maju dan berkata.

“Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu. Jadi sekarang, apa yang harus kita lakukan?”

“Ayo kita pikirkan bersama-sama bagaimana cara kita agar bisa sampai di sana.”

“Bagaimana dengan tali.” ujar salah satu debu kecil.

“Jangan! Tali tidak akan sampai sejauh itu.” tolak debu lain.

“Tenang saja, aku akan membawa tali tersebut sampai ke atas sana.” ucap Derry.

Semuanya menjadi sangat senang. Semuanya bergerak mengambil tali. Derry loncat ke salah satu balok yang cukup tinggi. Salah satu debu melemparkan talinya ke pada Derry. Setelah itu, Derry loncat dari benda satu ke benda yang lainnya. Sesampainya di atas Derry mengaitkan ujung talinya. Saat kaitannya sudah cukup kencang Derry menurunkan sisa tali yang tidak dikaitkan.

Satu per satu debu naik dengan tali tersebut. Saat semua debu telah naik, Dessy meniupkan peluitnya dengan sangat keras dan nyaring. Tak lama, hembusan angin terasa sangat kencang. Sehingga nampaklah Yie, angin yang sering berkelana kemana-mana dan akan datang saat mendengar suara peluit.

“Hei yie. Maukah kamu membawa kami pergi dari sini?” tanya Dessy.

Yie nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Seluruh debu berseru kegirangan. Satu persatu dari mereka loncat dan terbang bersama Yie. Akhirnya mereka berhasil keluar dari rumah tersebut dan terbebas dari ancaman. Sejak saat itu, mereka tahu bahwa dengan bekerja sama dan saling mengandalkan pasti tidak merugikan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *