Islam menganjurkan umatnya agar tidak miskin. Anjuran ini, kita bisa dapatkan banyak dalam pedoman hidup umat Islam, Alquran. Salah satu anjuran tersebut kita bisa temukan dalam perintah untuk mendirikan shalat dan memberikan zakat. Filosofi perintah shalat yang selalu bersamaan dengan zakat seharusnya menyadarkan Umat Islam bahwa agama Islam bergaul dalam dua aspek, yakni vertikal dan horizontal. Aspek vertikal dapat dilihat dalam kegiatan shalat karena shalat merupakan hubungan antara individu denan Sang Khaliq. Sedangkan aspek horizontal dapat dilihat dalam kegiatan zakat karena zakat merupakan hubungan individu dengan makhluk-Nya.
Dalam konteks berhubungan dengan makhluk-Nya melalui zakat, kita dapat memahami bahwa Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk menjadi miskin. Sebab, secara logika, bagaimana umat Islam mau memberikan zakat, jika kita tidak mempunyai kemampuan finansial yang lebih?
Justru yang dianjurkan Islam adalah al-ghaniy. Menurut penulis, pemaknaan al-ghaniy yang paling tepat ada dalam Tafsir An-Nashihah karya Dr. Mohamad Nasih. Dalam Tafsir an-Nashihah, dijelaskan bahwa al-ghaniy merupakan lawan kata dari miskin. Namun, Nasih mengartikan al-ghaniy bukanlah kaya, tetapi laa hajata (tidak butuh). Dengan kata lain, orang yang hartanya melimpah ruah tetapi masih merasa butuh, maka dia masih tetap saja dalam keadaan miskin.
Abana adalah panggilan yang digunakan disciples untuk Dr. Mohammad Nasih M.Si. Dia adalah pendiri Ponpes Monash Institute Semarang, selain di Semarang Abana juga mengajar di Rembang dan Jakarta. Ponpes ini membuka tiga program yang salah satunya harus dipilih oleh disciples sebagai passionnya selama dikader. Tiga pilihan itu, antara lain; Menghafal al-Qur’an dan Berwirausaha, Menghafal al-Qur’an saja, dan Berwirausaha saja.
Abana sampai saat ini masih membayarkan UKT para diciples di Monash Institute. Saat tahun 2011, para disciples dibayarkan UKT oleh Abana sampai tahun 2013. Seiring berjalannya waktu, Abana merubah peraturan tentang pembayaran UKT. Untuk tahun 2013 sampai saat ini yang dibayarkan UKT oleh Abana adalah penghafal al-Qur’an saja. Mengapa demkian? Yah, agar disciples termotivasi untuk mrnghafal al-Qur’an.
Abana memiliki pemikiran lain selain untuk memotivasi disciples lain, Abana mendidik kita agar ketika disciples sukses bisa melakukan hal seperti abana lakukan, dan disciples dididik selain menghafalkan al-Qur’an juga harus bisa bertani, berjualan, dan mengajar. Semua itu dipraktekan langsung oleh Abana. Mungkin di luar sana banyak yang membeli makanan yang enak akan tetapi, mereka tidak melihat kesehatannya.
Selain itu, Abana tidak pernah memakan makanan mewah seperti yang dimakan orang lain, misalnya burger, hotdog, ayam krispy dan lain-lain. Padahal, Abana sendiri sebetulnya mampu membeli makanan sama seperti yang orang-orang beli di luar. Akan tetapi, Abana memilih untuk tidak membeli dan mengkonsumsi makanan demkian, karena makanan itu semua tidak baik bagi kesehatan tubuh.
Orang yang pantas dianggap kaya adalah orang sudah tidak bergantung pada orang lain. Contoh kecil ketika hendak membangun sekolah, orang kaya akan menggunakan uang sendiri, dan tidak memerlukan dana bantuan dari pemerintah atau pihak lain. Karena, menggalang bantuan dana dari pihak yang lain termasuk perilaku yang tidak mencerminkan orang yang kaya.
Pada saat hati kaya (merasa berkecukupan) dengan Allah Azza wa Jalla, pengetahuan tentang-Nya dan hakekat-hakekat keimanan, maka akan merasa cukup dengan rezeki dari-Nya dan menerimanya dengan tulus (bersifat qanâ’ah) dan berbahagia dengan apa yang telah Allah Azza wa Jalla berikan kepadanya. Seorang hamba yang telah sampai ke derajat ini, tidak akan merasa iri terhadap (kekayaan) raja-raja dan pemegang kekuasaan. Hal ini disebabkan dia telah memperoleh kekayaan yang tidak ia harapkan digantikan dengan yang lainya; kekayaan yang membuat hatinya tentram, menjadikan ruhaninya merasa damai dan menyebabkan jiwanya merasa senang dengannya.
Kita memohon semoga Allah Azza wa Jalla memperkaya hati kita dengan hidayah, cahaya dan ma’rifah dan sifat qanâ’ah, dan juga membentangkan keluasan karunia-Nya dan rezeki halal kepada kita sekalian.
Ketika orang lain sibuk dengan kegiatan seperti berkerja, sekolah, membersihkan rumah, dan sebagainya. Abana memberikan contoh yang berbeda ketika di perjalanan contohnya, Abana tidak diam ketika perjalanan akan tetapi, diselingi oleh menulis atau muroja’ah hafalan al-Qur’an. Abana tidak membiarkan waktunya terbuang sia-sia dengan bermalas-malasan.
Peneliti Jerman, Rainer Zitelmann meneliti tentang karakter mana yang ditemukan oleh orang-orang yang sangat kaya. Ternyata pemilik pabrik, surat kabar dan pengusaha sukses lainnya memiliki persamaan mendasar, orang kaya cenderung memiliki emosi yang stabil. Emosi mereka tidak menentukan cara mereka memecahkan masalah. Sebaliknya, mereka lebih suka mengandalkan logika. Dan benar saja yang saya perhatikan selama ini tentang abana itu ketika ada masalah abana tidak emosi langsung akan tetapi, abana memberdayakan logika dan gigih dalam mencapai tujuan. Tidak langsung marah karena, marah itu butuh tenaga.Tuturnya.
Orang-orang yang memiliki pendapatan rata-rata lebih suka membeli barang-barang mewah demi mendapat pengakuan bahwa mereka sukses. Sedangkan, Abana lebih suka memikirkan cara baru untuk mendapatkan uang daripada membelanjakan harta yang sudah ada.
Orang yang benar-benar kaya dan menguasai dunia memilih gaya hidup yang sangat sederhana. Prinsip yang dipegang teguh oleh Abana adalah memiliki semua yang dibutuhkan tetapi tidak semua yang mereka inginkan. Untuk mendapatkan lebih banyak uang, Abana harus berhemat dan melewati pesta untuk bekerja sepanjang hari.
Cara berbusana Abana pun cenderung sederhana. Alih-alih memikirkan penampilan tertentu, Abana cenderung berpenampilan apa adanya dan tidak merias diri. Semua orang tentu pernah mendengar pepatah kuno, ‘banyak anak banyak rezeki’. Ternyata hal itu dilakukan oleh Abana. Menurut statistik di Amerika, sebanyak 87% orang terkaya di planet ini memiliki keluarga dan menjadi orang tua dari tiga anak atau lebih. Wallahu a’lam bi al-shawab
Oleh: Syukur Abdillah, Disciple 2019 Monash Institute







