Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia bahkan di dunia. Sebagai lembaga Pendidikan islam, pesantren diharapkan supaya hadir ditengah-tengah masyarakat untuk menjawab berbagai persoalan, lebih-lebih berkait dengan masalah keislaman dan keummatan. Tugas besar dan mulia ini harus terus menjadi nafas-juang pesantren dalam melaksanakan aktifitasnya sehari-hari.

Mulai awal berdirinya sebagai Lembaga Pendidikan islam, pesantren terus mengalami tantangan. Agar mampu menghadapi tantangan ini, Pesantren dituntut membuka diri menerima segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga keberadaannya mampu beradaptasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Memfasilitasi kebutuhan masyarakat ditengah kehidupan yang semakin maju dan berkembang, maka pesantren alternatif menjadi sebuah pilihan yang baik.

Adalah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur yang diasuh KH. Moh. Zuhri Zaini salah satu pesantren alternatif yang mampu mengharmonisasi sistem salaf (tradisional) dan sistem khalaf (modern). Pesantren ini bisa dikatakan sebagai pesantren salaf, karena tetap eksis menjaga turats atau dikenal dengan kajian-kajian keislaman dan kebangsaan melalui kitab kuning. Bisa juga Pesantren Nurul Jadid dibilang sebagai pesantren modern. Sebab, pesantren ini mampu mengola lembaga pendidikan dan pengajarannya menyesuaikan segala kebutuhan masyarakat dari berbagai sektor kehidupan saat ini.

Pesantren yang tidak mampu menawarkan solusi terhadap kebutuhan zaman, ia akan tergilas waktu, karena tidak lagi menjadi pilihan utama masyarakat. Perbedaan tuntutan pesantren dari waktu kewaktu mengalami dinamisasi, oleh karena kecerdasan pengelola pesantren membaca pangsa pasar menjadi modal baru agar pesantrennya mampu bertahan dan memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakatnya.

Baca Juga  Reinkarnasi Paradigma Pendidikan

Pesantren alternatif yang dimaksud, bukanlah pesantren yang harus meninggalkan pola manajemen lama yang telah berjalan di pesantren, baik berkait dengan kurikulum maupun tradisi-tradisi pesantren. Namun pesantren alternatif terampil mencetak manusia yang memiliki skill dalam berbagai bidang.

Nurul Jadid melalui trilogy dan panca kesadaran santrinya menunjukkan bahwa pesantren ini telah mempersiapkan diri untuk menciptakan kader yang siap mengisi ruang-ruang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kata Nurcholis Madjid (Caknur) Pesantren harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhuan sosialnya.

Trilogy Pesantren Nurul Jadid merupakan tolak ukur yang paling mendasar terhadap santrinya, dimana santri yang mondok di pesantren ini harus memperhatikan furudhul ‘ainiyah, mawas diri dari dosa-dosa besar dan berbudi pekerti kepada Allah dan kepada mahluk-Nya. Ketiga trilogy tersebut menjadi materi dasar yang “wajib” diberikan Pesantren ini sebelum mempelajari pengembangan pengetahuan lainnya. Hal tersebut, Pesantren Nurul Jadid menyadari tugasnya sebagai lembaga islam yang harus terus melakukan transmisi ajaran islam kepada siapapun terutama pada masyarakatnya di Pesantren.

Sedangkan panca kesadaran atau bisa disebut 5 kesadaran santri yang dimiliki Pesantren Nurul Jadid salah satu konsep spektakuler untuk mempersiapkan kader keummatan dan kebangsaan. Panca kesadaran itu berupa kesadaran beragama, kesadaran berilmu, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berbangsa dan bernegara dan kesadaran berorganisasi. Maka darinya, KH. Abdul Hamid Wahid Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid berkata, lulusan Pesantren Nurul Jadid harus mampu memberikan kontribusi baik ditengah-tengah masyakat.

Jalur juang disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing. Ini tidak lepas dari cita-cita pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Zaini Mun’im yaitu  “Seorang muslim yang konsekuen adalah disamping di aitu memikirkan agama, dia juga harus memikirkan masyarakat dan negara”.  Kenyataannya lulusan Pesantren Nurul Jadid mampu berkiprah mengisi pos-pos yang dibutuhkan masyarakat dan negara, mulai ditingkat kabupaten, regional, nasional maupun internasinal.

Baca Juga  Menjaga Keuangan Selama Ramadhan

*Oleh : Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Syekh Ali Jaber: Amalan yang Paling Dahsyat agar Doa Kita Cepat Terkabul

Previous article

Tepis Kabar “Mbah Kasmi” Tidak Pernah Dapat Bantuan, Sekdes: Kita Kasih Kok!

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan