NABI MUHAMMAD TERNYATA PERNAH BERBUAT KESALAHAN

Dalam pemikiran orang-orang Islam, Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat bisa dijadikan contoh dan teladan dalam bertindak. Sebagai umat muslim, kita dituntut untuk memakai al-Qur’an sebagai landasan. Oleh sebab itu, kita juga harus tahu makna dari setiap ayat yang ada dalam al-Qur’an dan kenapa ayat tersebut diturunkan.

Dari sekian banyak kisah perjalanan Nabi Muhammad yang dijadikan teladan umat muslim dan sebagai orang yang dipilih Allah untuk mengemban misi kenabian dengan diberikan wahyu yang tak terbantahkan sebagai seorang Rasul, Nabi Muhammad tentu saja juga memiliki sifat yang sama dengan manusia lainnya yang tidak luput dari salah. Inilah salah satu sisi yang perlu diperhatikan dan perlu dijadikan pembelajaran.

Dalam QS. At-Tahrim ayat 1 dijelaskan bahwa Allah memanggil Rasulullah dengan kalimat sapaan yang mulia” يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ /wahai nabi” sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Bacaan Lainnya

Artinya: “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. At-Tahrim: 1)

Dalam Bahasa kita seakan-akan Allah bertanya,

“kenapa kok kamu mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah? Apalagi kamu berani mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah hanya gara-gara untuk menyenangkan hati istri-istrimu”.

Lalu mengapa Rasulullah dipanggil oleh Allah dan langsung dengan teguran mengharamkan sesuatu yang dihalalkan? Tentu ada sebab turunnya ayat ini.

Sebagaimana umumnya, rumah tangga Rasulullah juga rumah tangga yang berasal dari manusia biasa. Sehingga keluarga Rasulullah itu manusia biasa yang tak luput dari kesalahan yang bersifat manusiawi. Namun, Allah mengajarkan kita melalui QS at-Tahrim bahwa sebaik-baik manusia yang bersalah adalah mereka yang siap ditegur oleh Allah dan siap memperbaikinya. Begitulah juga yang diajarkan oleh Allah kepada keluarga Rasulullah.

Kisahnya dimulai dari sayyidah Hafsah dan Sayyidah Aisyah istri Rasullah yang merupakan puteri dua orang sahabat besar, sayyidina Umar dan sayyidina Abu Bakar. Meskipun keduanya ialah manusia biasa, tapi Allah menjadikan kisah mereka menjadi project pilot dalam memperbaiki satu kesalahan yang ada di masyarakat pada saat itu.

Sebagai perempuan, sealim-alimnya para istri Rasulullah, pasti punya perasaan cemburu juga. Dalam suatu periwayatan Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Saya bertanya kepada ‘Umar bin al-Khaththab tentang siapa kedua perempuan itu? Ia berkata, ‘Aisyah dan Hafsah. Dia mengawali cerita tentang Ummu Ibrahim (Mariyah) al-Qibthiyyah yang digauli Nabi di rumah Hafsah pada hari (giliran)nya, lalu Hafsah mengetahuinya. Hafsah lalu berkata, ‘Wahai Nabi Allah, engkau telah memperlakukan saya dengan perlakuan yang tidak engkau lakukan kepada istri-istrimu yang lain pada hari saya, rumah saya, dan di atas tempat tidur saya. Nabi berkata, ‘Senangkah engkau bila saya mengharamkannya dengan tidak menggaulinya lagi? Ia menjawab, ‘Baik, haramkan dia! Nabi lalu berkata, ‘Janganlah engkau katakan hal ini kepada

siapa pun. Tetapi Hafsah mengatakannya kepada ‘Aisyah. Kemudian Allah memberitahukan hal itu kepada Nabi saw, lalu menurunkan QS at Tahrim ayat 1

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa sayyidah Hafsah dan Aisyah merasa cemburu dengan sayyidah Mariah Al qibtiyah. Kecemburuan inilah yang akhirnya membuat mereka gelap mata lalu menyusun skenario agar Rasulullah tidak lagi mengunjungi Mariah Al qibtiyah.

Dijelaskan bahwa Rasulullah kerap singgah ke kediaman sayyidah Mariah untuk sekedar meminum madu kesukaannya yang selalu tersedia (distok) oleh sang istri. Walaupun hanya sekedar mencicipi madu, ternyata hal itu menimbulkan rasa tidak suka sayyidah Hafsah yang menginginkan hari gilirannya tidak terganggu sedikitpun oleh kebiasaan Rasulullah singgah untuk minum madu di tempat sayyidah Mariah.

Sayyidah Hafsah pun kemudian bercerita kepada sayyidah Aisyah perihal rasa tidak sukanya itu. Kemudian akhirnya mereka membuat skenario di mana ketika sayyidah Hafsah menunggu kedatangan Rasulullah di dalam kediamannya, ia meminta agar sayyidah Aisyah sudah terlebih dahulu mencegat Rasulullah yang baru singgah minum madu dari tempat sayyidah Mariah. Pada harinya, mulailah keduanya bermain peran dengan mengatakan bahwa bau mulut Rasulullah yang baru keluar dari kediaman sayyidah Mariah beraroma tidak sedap.

Sebagai seorang suami yang amat menghargai dan menjaga perasaan istrinya, Rasulullah pun merasa risih dengan mengatakan bahwa beliau baru saja minum madu kesukaannya di tempat sayyidah Mariah. Kekompakan sayyidah Hafsah dan Aisyah pun menyebabkan Rasulullah merasa tidak nyaman atas keluhan keduanya. Maka pada saat itulah Rasulullah mengharamkan madu dan juga mengharamkan tidak akan lagi mendatangi sayyidah Mariah Al qibtiyah. Maka kemudian turunlah ayat tersebut yang menegur sikap Rasulullah dan menceritakan skenario dua istrinya yang lain.

Kita tahu kalau Nabi Muhammad itu Rasul utusan-Nya yang juga harus mengikuti apa yang diinginkan oleh Allah melebihi keinginan istri-istrinya. Di sisi lain, Allah Subhanahu WWT mengedepankan adab dalam menegur Rasulullah. Oleh karena itu ketika kita menegur sikap seseorang maka kedepankan pula adab. Bahwa menegur itu untuk memperbaiki kesalahan dan bukan untuk merusak martabat, tidak dengan memanggil dengan panggilan menghina, tapi tetap dengan panggilan yang memuliakan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *