Saat saya mengajar materi ke-NU-an siswa kelas XII di Madrasah Aliyah Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada waktu itu membahas tentang firqoh-firqoh yang ada dalam islam. Kebetulan ideologi yang ada pada firqoh itu, saya menyandingkan dengan ideologi organisasi keagaman yang ada di Indonesia, baik organisasi keagamaan Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, HT, JT dan beberapa organisasi keagamaan lainnya.
Tidak ada satu siswapun yang melewatkan penjelasan saya, padahal pada hari-hari sebelumnya, sebagian dari mereka ada yang ngantuk, ijin ke kamar mandi. Mungkin saja karena materi yang saya sampaikan berkaitan dengan kondisi riil yang dialami oleh masyarakatnya ataupun karena saya menjelaskan dengan gamblang dan dengan suara yang nyaring. Sebagaimana biasa, sebelum saya mengakhiri pelajaran, saya membuka ruang pertanyaan bagi siswa untuk di diskusikan.
Salah satu dari mereka bertanya pada saya dengan pertnyaan sebagaimana berikut. Pak, mungkinkah NU dan Muhammadiyah bisa bergandengan tangan, mengingat banyak perbedaan yang cukup mendasar terjadi bagi dua organisasi besar ini?, kemudian saya menimpalinya, perbedaan apa yang ananda ketahui dari dua organisasi ini. Ia pun melanjutkan, salah satunya perbedaan tentang pelaksanaan tahlilan, qunnut dan niat dalam salat, serta banyak yang lainnya pak.
Saya mencoba memberikan pemahaman bagi seluruh siswa yang ada di kelas itu. Saudara-saudara sekalian, perbedaan demikian yang terjadi bagi dua organisasi NU dan MD merupakan khilafiyah dalam fiqh, perbedaan itu tidak sampai mengganggu pada hal yang sifatnya mendasar, seperti ajaran tauhid dalam agama dan kebangsaan dalam bernegara.
Dengan runut saya menjelaskan sehingga para siswapun memahaminya dengan baik. Dalam hal aqidah tidak ada perbedaan yang mendasar antara keduanya. Jadi bergandengan tangan itu sangat bisa dilakukan. NU akan bergandengan tangan dengan organisasi agama apapun, asal untuk kemaslahatan agama dan bangsa. Begitupun sebaliknya, Muhammadiyah akan bergandengan tangan dengan organisasi apapun demi mewujudkan kemaslahatan agama dan bangsa.
Kedua organisasi ini memiliki komitmen yang sama untuk mewujudkan negara islami demi tegaknya kesatuan, keadilan dan persamaan dimata hukum. Bisa saja jalur yang dipakai keduanya berbeda, seperti NU menggunakan jalur kultural sedangkan Muhammadiyah menggunakan jalur structural. Tapi hal itu, tidak menghalangi dakwah keduanya di dalam mewujudkan visi-misinya untuk agama dan Indonesia.
Perbedaan cara pandang keduanya dalam menyikapi persoalan kebangsaan, itu bagian dari dinamika organisasi. Sebagai organisasi besar yang sama-sama memiliki jutaan ribu massa, dan diantara keduanya memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, tentu terjadinya dinamika sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu, perbedaan yang terjadi pada keduanya merupakan tanda bahwa organisasi ini sedang on fire dan menujukkan bahwa keduanya adalah organisasi yang harus diperhitungkan.
Harus diakui, dua organisasi ini sangat mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, bahkan juga mewarnai pemikiran keagamaan. Cita-cita pendiri keduanya tidak lepas dari beberapa hal salah satu diantaranya menjaga kemaslahatan agama serta kemaslahatan bangsa dan negara. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk membentengi warga nusantara dari prilaku jahiliyah juga pun ingin menyelaraskan dakwahnya dalam menghadapi penjajah kala itu. Karena Muhammadiyah didirikan ditengah masyarakat perkotaan, tentunya kondisi sosial keagamaan dan sosial politiknya menjadi pertimbangan yang sangat baik.
Sementara Nahdhatul Ulama yang berdirinya di pelopori Kiai Hasyim As’asyri juga mengalami hal demikian. Salah satunya, Kiai Hasyim Asy’ari ingin menyelamatkan ideologi masyarakat muslim dari ideologi-ideologi transnasinal yang mulai merasuki anak bangsa dikala itu. Tentu tidak kalah pentingnya Kiai Hasyim Asy’ari ingin menyelamatkan bumi nusantara dari jajahan biadab yang pada saat itu ingin menguasai dan merebut bumi pertiwi dengan cara apapun.
Singkatnya, saudara sekalian. Terjadinya perbedaan kedua organisasi ini hingga meruncing kepermukaan, bahkan seakan tidak bisa didamaikan, itu tidak lepas dari permainan orde baru yang “memiliki” kebiasaan mengadu demi menyelamatkan kekuasaannya. Sebab, dinamika intelektual tidak hanya terjadi era itu. Pada masa ulama terkemuka telah terjadi perbedaan pandangan-pandangan keilmuan, namun tidak mengakibatkan satu sama lain saling bermusuhan.
Saat ini organisasi NU dan Muhammadiyah sangat mesra ibarat pengantin baru. Bahkan kedua ketua umumnya sering bertemu dan bercanda gurau di meja makan. Mereka seakan memberitahukan bahwa organisasi keduanya milik umat yang terus mengedepankan persamaan daripada perbedaan demi terwudnya baldatun, thayyibatun warabbun gafurun. Teruslah bergandengan tangan…… Wallahu’alam





