Merancang Merdeka Belajar Melalui P5: Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar untuk membimbing, membina dan mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan melalui visi dan misi.

Sebagai lembaga yang mempunyai karakteristik tersendiri, sekolah bukan hanya mengembangkan potensi siswa yang bersifat keilmuwan dan perekayasaan saja, tetapi mampu membimbing mereka agar memiliki perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Sebab, pancasila sebagai cermin dari adanya berbagai agama, suku, dan budaya di Indonesia.

Tugas sekolah yang satu ini memang berat karena memang pembentukan watak dan perilaku peserta didik memerlukan waktu yang lama dan tidak mudah untuk menilai keberhasilannya. Untuk menuju sebuah keberhasilan ini dapat diperoleh melalui proses pembelajaran, sebab pembelajaran merupakan inti dan muara segenap proses pengelolaan pendidikan.

Kualitas sebuah lembaga pendidikan hakikatnya diukur dari kualitas proses pembelajarannya, di samping output dan outcome yang dihasilkan.

Namun, pada dewasa ini proses pembelajaran dianggap oleh sebagian guru sebagai formalitas mengajar yaitu sebatas menyampaikan teori tanpa implementasi, mengajar tanpa memberikan nilai-nilai. Padahal proses belajar dan mengajar bagaikan dua mata rantai yang tidak dapat dipisahkan, menurut Paulo Freire proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara pengajar dan pembelajar (peserta didik) dalam memahami makna dari realitas dunia.

Sejak beberapa dekade terakhir, pendidik dan praktisi pendidikan di seluruh dunia mulai menyadari bahwa mempelajari hal-hal di luar kelas dapat membantu peserta didik memahami bahwa belajar di satuan pendidikan memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jauh sebelum itu, Ki Hajar Dewantara sudah menegaskan pentingnya peserta didik mempelajari hal-hal di luar kelas, namun sayangnya selama ini pelaksanaan hal tersebut belum optimal.

Projek penguatan pelajar pancasila, sebagai salah satu sarana pencapaian profil pelajar pancasila, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mengalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya. Dalam kegiatan ini, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari tema-tema atau isu penting seperti perubahan iklim, anti radikalisme, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi sehingga peserta didik dapat melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut dengan tahapan belajar dan kebutuhannya.

Dimensi pelajar pancasila mencakup, pertama bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kebhinnekaan global, gotong-royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa profil pelajar pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.

Pelaksanaan merdeka belajar sebagai bentuk kepedulian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dirancang oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju melalui P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Merdeka identik diartikan sebagai keleluasaan bergerak, atau pun kebebasan menentukan masa depan, dan belajar adalah usaha sadar dalam memperoleh ilmu yang didapat dari latihan dan pengalaman.

Dapat tarik kesimpulan bahwa merdeka belajar memberikan ruang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengeksplor kemampuan diri dengan melalui proses belajar, dari kemerdekaan belajar diharapkan timbul kebahagiaan dan sikap positif peserta didik untuk membangun image bahwa sekolah dengan adanya proses belajar mengajar di dalamnya bukanlah sesuatu yang membosankan dan menyeramkan.

Ketika perasaan positif muncul dalam otak, hal tersebut akan mempengaruhi proses pengolahan informasi yang berlangsung di dalam kerja memori. Berdasarkan riset neuroscience, perasaan positif tertentu akan menstimulasi munculnya informasi yang relevan dalam memori jangka panjang, merangsang kreatifitas.

Proses pengolahan informasi merupakan proses penting yang dilalui peserta didik dalam proses pembelajaran. Pada level tinggi seperti problem solving, kreatifitas menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dilatih dan dikembangkan. Perasaan positif tertentu akan mendorong peserta didik untuk menjadi lebih kreatif.

Oleh karena itu dengan berbagai problematika yang terjadi di dunia pendidikan dari adanya merdeka belajar dan implementasi P5; Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam proses belajar mengajar dengan berbagai tema yang telah ditentukan, pelajar Indonesia diharapkan memiliki kompetensi untuk menjadi warga negara yang demokratis, memiliki nilai-nilai pancasila pada dirinya serta menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21, dan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

 

Oleh: Dewi Witasari, S. Pd., Guru SMK Muhammadiyah 2 Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *