PLANET NUFO DIDESAIN SEBAGAI PESANTREN SUPER MODERN

Kalau mendengar kata pesantren, maka di antara yang muncul adalah pertanyaan: salaf atau modern? Pesantren salaf adalah pesantren yang menitikberatkan kepada pengajian kitab kuning dengan metode bandongan dan juga sorogan dengan kepemimpinan berpusat pada seorang kiai. Sedangkan pesantren modern atau khalaf disamping memiliki orientasi kajian keislaman dengan kurikulum kitab kuning, juga menekankan kepada penguasaan bahasa non-Arab untuk percakapan sehari-hari. Biasanya bahasa Arab dan Inggris. Kepemimpinan di dalamnya biasanya sudah mengarah kepada model kolektif kolegial.

Pesantren Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau yang dikenal dengan Planet NUFO didesain sebagai pesantren “super modern”. Ada empat alasan yang membuat Planet NUFO menamakan diri sebagai pesantren super modern, bukan sekedar modern, yaitu:
Pertama, dari aspek bahasa. Yang dipelajari di Planet NUFO, bukan hanya sekedar bahasa Arab dan bahasa Inggris, tetapi juga bahasa Mandarin. Bahasa Arab tentu saja menjadi bahasa yang wajib dipelajari oleh santri, karena harus memahami al-Qur’an, hadits, dan juga kitab-kitab kuning. Selain itu, bahasa Inggris juga menjadi bagian dari kurikulum wajib, karena para santri Planet NUFO adalah juga murid Sekolah Alam Planet NUFO. Yang bukan murid SMP Planet NUFO adalah siswa di sekolah negeri atau swasta dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kurikulumnya.
“Di sini, di samping bahasa Arab dan bahasa Inggris, ada juga cluster bahasa Mandarin. Saya dan istri saya yang dipercaya untuk memimpin cluster bahasa Mandarin”, kata Ustadz Suudut Tasdiq, S.H., L.L.M., yang juga Wakil Syuriah PCI NU Tiongkok. “Terlebih setelah Planet NUFO kedatangan dua santri dari Taiwan, cluster bahasa Mandarin menjadi semakin diminati oleh lebih banyak santri di Planet NUFO”, terang lulusan S2 hukum di Shanghai itu.
Kedua, pendidikan dan pengajaran di Planet NUFO dilakukan secara super intensif. “Sebelum berdiri Planet NUFO, pengasuh kami, Abah Nasih, mempersiapkan pendidik dalam jumlah yang bisa dikatakan banyak, bahkan melampaui jumlah murid yang diterima di tahun pertama. Ada 14 orang mahasantri beliau di Monasmuda Institute Semarang, yang sedang studi S2 yang berkomitmen untuk menjadi ustadz/ah di pesantren dan sekolah yang saat itu akan didirikan, salah satunya adalah saya. Dan kini jumlahnya terus bertambah. Dengan jumlah guru yang banyak itu, kami mencanangkan sistem pendidikan dengan rasio guru:murid 1:4. Dengan demikian, setiap santri-murid akan mendapatkan pembinaan secara super intensif.” kata Ustadz Abdul Rozaq, M.Ag., Kepala SMP Alam Planet NUFO.
Rasio guru:santri-murid di Planet NUFO yang sangat besar ini mengalahkan rata-rata rasio guru:murid di Finlandia yang hanya 1:11. Rasio yang besar ini dimaksudkan agar setiap santri-murid mendapatkan perhatian yang sangat cukup. Dengan demikian, mereka bisa belajar dengan bimbingan optimal.
Ketiga, Planet NUFO menekankan fokus kepada pengembangan sains dan teknologi. Wujud paling sederhana kepada fokus ini adalah sistem pengajaran dan pendidikan di Planet NUFO memanfaatkan perkembangan teknologi mutakhir. “Di sini, tidak ada ngaji bandongan yang disampaikan oleh pengasuh. Pengasuh dan semua ustadz/ah di Planet NUFO sudah merekam kajian kitab kuning. Para santri-murid mendengarkan rekaman itu di bawah bimbingan para ustadz/ah agar bisa membaca teks kitab yang jadi bahan ajar. Semua guru wajib memiliki rekaman full surat Yusuf, karena ayat-ayat di dalam surat Yusuf relatif mudah dipahami oleh santri belia sekalipun.” terang Ustadz Abdurrahman, S.H., M.H. yang juga bertanggung jawab pada jaringan IT di Planet NUFO.
Penggunakan rekaman ini, membuat santri menjadi semakin fleksibel dalam belajar. Mereka tidak harus menunggu waktu ustadz/ah mengajar, tetapi juga bisa menyetel rekaman. Pun bisa mengulangnya sesuai dengan kebutuhan masih-masing sesuai dengan daya tangkap dan serap mereka. Dengan demikian, para santri-murid bisa belajar memaknai teks Arab kapan pun dan di mana pun, tanpa membuat pendidik merasa bosan atau kesal, walaupun harus mengulang berkali-kali. Cara ini melahirkan cara dan bahkan budaya baru dalam belajar, karena tidak lagi menghadirkan guru secara fisik.
Keempat, menjadikan keterampilan hidup berupa kewirausahaan dan kepemimpinan sebagai bagian integral dalam kurikulum pesantren. “Islam memandang materi sebagai sarana untuk berjihad. Karena itu setiap santri harus memiliki ketrampilan hidup untuk membiayai idealisme yang didapatkan dari belajar Islam, baik al-Qur’an maupun hadits, ditambah dengan khazanah intelektualnya berupa kitab-kitab kuning. Mereka harus punya uang yang cukup, agar tidak tamak bayaran ketika mengajar dan berdakwah nanti. Dan yang tak kalah penting adalah mereka harus memiliki kemampuan memimpin organisasi. Di sini, tidak hanya ada organisasi OSIS dan pengurus pesantren, tetapi juga ada IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’), PII (Pelajar Islam Indonesia), dan juga HPI (Himpunan Pelajar Islam).” kata pendiri dan pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si., yang juga adalah pengajar ilmu politik di FISIP UMJ, Jakarta.
Keberadaan banyak organisai untuk para santri-murid itu diharapkan bisa memicu jiwa kepemimpinan mereka sesuai dengan latar belakang keluarga masing-masing. Di samping itu, mereka terbiasa dengan berbagai perbedaan yang bisa dijadikan sebagai modal untuk tidak hanya bekerjasama, tetapi bahkan bersinergi. Bukan untuk berkompetisi apalagi berkonflik disebabkan oleh afiliasi ormas sebagaimana sering terjadi di berbagai tempat, terutama di kalangan akar rumput.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *