Budaya konsumtif bukan lagi sebuah hal yang tabu. Maraknya generasi muda yang sekarang banyak menjadikan trend sebagai patokan kebahagiaan seseorang.
Generasi yang konsumtif ini cenderung lebih banyak dari generasi Z, dan milenial. Hal ini dapat dikarenakan FOMO (Fear of Missing Out) yang mana merujuk pada perasaan cemas atau kekhawatiran melewatkan sebuah momen, kesempatan yang sedang dialami orang lain.
FOMO sering terjadi pada sosial media, di mana pengguna dapat melihat aktivitas dan momen-momen seseorang, sehingga menimbulkan perasaan ingin, dan tidak puas.
Fenomena ini dipicu dari beberapa faktor, yaitu pengaruh media sosial, yang mana akses sekrang cenderung lebih mudah dengan informasi tanpa batas, bahkan melalui iklan mampu mendorong perilaku konsumtif dari beberapa individu.
Adanya budaya-budaya luar negeri yang membuat generasi sekarang cenderung mengikuti alur trend di era sekarang. Adanya tekanan sosial yang membuat seseorang terdorong untuk tampil sesuai dengan standar tertentu, hal ini mampu mengarah pada pengeluaran dari fashion-fashion terkini.
Hal lain seperti kondisi ekonomi yang baik mampu membuat individu kalap mata untuk memiliki barang-barang yang tidak dibutuhkan. Juga teknik marketing pada produk, seperti menawarkan diskon dan promo yang mampu megundang pembeli.
Dalam konteks ini, banyak dari individu-individu yang gencar akan trend dari sebuah fast fashion atau mode busana cepat. Fast fashion merupakan model bisnis yang memproduksi trend mode terkini dan desain busana dengan proses produksi massa (dalam jumlah besar) sampai menyortir produk tersebut dengan harga rendah.
Dengan produksinya yang dilakukan dalam jumlah besar dan dengan waktu yang cepat sehingga produk tersebut ditawarkan ke konsumen pada waktu singkat.
Gaya hidup dari fast fashion ini cenderung membuat individu menjadi konsumtif dan FOMO tanpa memperdulikan tanggung jawab pada lingkungan. Dampak-dampak lingkungan dari fast fashion sendiri yang pertama adalah, polusi air dan tanah, yang mana fast fashion menyumbagkan emisi gas buang yang cukup tinggi.
Poduksi tersebut mampu menghasilkan limbah kimia dan mikroplastik yang mampu merusak lingkungan. Kedua, dampaknya mampu merusak aliran air dan debu iritasi lahan yang bisa memperngaruhi keaneragaman hayati yang tumbuh, serpihan sisa produksi busana tersebut bisa ikut larut ke laut yang mana hal ini bisa merusak rantai makanan di laut.
Tak hanya dampak pada lingkungan, fast fashion juga memiliki dampak sosial, yaitu ekspoitasi tenaga kerja, fast fashion sering melibatkan pekerja imigran yang diperkerjakan tanpa keamanan yang seharusnya diberikan dengan baik, juga dengan produksi dalam jumlah besar, pekerja tersebut tidak memiliki waktu yang baik untuk istirahat dan bahkan upah yang diberikan sangat tidak sesuai dengan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan kurangnya hak asasi manusia dari produksi fast fashion yang masih marak di era sekarang.
Laporan-laporan dari tindakan pekerja dibawah umur, diskriminasi, bahkan sampai laporan tentang gangguan seksual di beberapa wilayah tekstil di dunia.
Dengan begini, masyarakat harus lebih aware lagi terhadap fashion, dengan menggunakan busana dalam negeri yang mampu menerapkan ekonomi siklus (penggunaan ulang, daur ulang, dan pembaharuan) yang mampu mengurangi jumlah limbah dan polusi.
Penting juga dalam memilih pakaian yang memiliki dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat supaya dapat membantu menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Setiap lamgkah kecil yang Anda ambil dengan benar akan menghasilkan dampak yang signifikan.
*Oleh: Tiara Febrianti, mahasiswi KPI UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.







