Al-Qur’an sudah menjadi pedoman hidup umat Islam sejak Muhammad diangkat sebagai Rasul utusan Allah. Betapa pentingnya al-Qur’an menjadi pedoman umat Islam untuk menciptakan akhlak dan kepribadian umat Islam yang berada di seluruh penjuru dunia. Akhlak dan kepribadian menjadi sangat penting untuk kehidupan maka perlu adanya menerapankan nilai-nilai al-Qur’an sejak dini.
Menerapkan nilai-nilai al-Qur’an kepada anak sejak dini memiliki beberapa tahapan atau yang harus dilakukan, meliputi beberapa tahapan berikut.
Penerapan Keteladanan
Keteladanan adalah nilai yang tepat untuk menerapkan nilai al-Qur’an sejak dini. Hal ini dikarenakan keteladan akan mudah melekat pada anak-anak yang berada di usia dini. Anak-anak usia dini seringkali melakukan apa yang dia lihat disekitar. Oleh karena itu penerapan nilai keteladan sangat berpengaruh bagi anak usia dini baik dari aspek moral, spiritual serta aspek bersosial. Bimbingan yang diberikan kepada anak pun perlu diperhatikan agar tidak terjadi hal yang buruk bagi anak ataupun orang tuanya.
Orang tua menjadi figur paling penting dalam nilai keteladanan karena orang yang paling dekat pada anak. Segala tangkah dan perlakuan kepada anak ataupun dalam kegiatan sehari-hari secara tidak langsung orang tua menjadi pendidik. Dan seorang anak pun akan belajar dan menirukan apa yang dilihat.
Metode Latihan Pengamalan
Metode latihan pengamalan merupakan metode yang pernah dilakukan oleh Rasulullah. Metodi ini dapat dikatakan berhasil dalam perkembangan Islam yang mampu merangkul para sahabat nabi. Metode mendidik yang dilakukan nabi ini perlu diterapkan pula untuk mendidik anak usia dini.
Nah, bagaimanakah caranya? Misalnya, mendidik anak dalam mengajarinya untuk bersuci dan melaksanakan sholat. Menerapkan pendidikannya tidak hanya secara teorits melalui ucapana saja. Perlu adanya mendidik dengan mempraktekan secara langsung dan tidak langsung sekali. Perlu tahapan agar bias terus mengamalkan sehingga secara tidak langsung menjadi kewajiban setiap hari.
Bermain, Bernyanyi, Bercerita
Mendidik anak tidak hanya menuntun atau memerintahkan saja namun perlu adanya pedidikan yang membuat anak-anak senang. Belajar dengan bermain adalah salah satu metode yang tepat dan membuat anak tidak tertekan. Penerapn bagaimana yang cocok bagi anak agar nilai al-Qur’an tetap ada dalam mendidik anak?
Dunia bermain bagi anak usia dini tidak dapat dihilngkan. Oleh kerana itu seorang anak perlu diberikan kebebasan untuk dapat berinteraksi bersama alam. Berkomunikasi dengan sesama teman seusianya dan dalam bermain tetap menjaga akhlak. Apa yang ditonton anak pun jangan asal film yang tanpa didikan. Selain itu anak perlu diajak untuk bercerita dan menceritakan apa yang dia lakukan dan dilihat agar bisa belajar komunikasi sejak dini.
Targhib dan Tarhib
Di dalam Islam, ada metode mendidik anak usia dini perlu adanya sebuah imbalan atau hadiah dan konsekuensi yang disebut dengan Targhib dan Tarhib. Mendidik anak dengan targhib dan tahrib adalah metode yang terbilang ampuh karena anak akan mudah untuk melakukan apa yang diinginkan oleh pendidik. Targhib yang biasanya diartikan dengan memberikan janji berupa pujian atau sebuah hadiah jika anak telah melakukan tugasnya dengan benar. Sedangkan tarhib adalah konsekuensi apabila anak melakukan kesalahan atau perbuatan yang tidak sesuai dengan perintah.
Menanam Kebaikan
Menanam kebiasaan berbuat kebaikan kepada anak usia dini lebih mudah daripada saat dewasa. Seperti halnya sebuah pondasi yang kokoh. Penanaman kebaikan sejak dini akan membuat orang tua mendapatkan hasil positif saat tumbuh dewasa kelak.
Metode-metode di atas tidak akan berjalan tanpa adanya peran dan perhatian orang tua kepada anaknya. Seperti yang ditulis oleh Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, menuliskan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tentang pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Keluarga menjadi sebuah pusat pendidikan. Sejatinya pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab bagi orang tua. Walaupun Orang tua mungkin dapat mendelegasikan pengajaran kepada kaum ahli.
Peran orang tua tidak dapat tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidikan, ataupun lembaga bakat. pada Tulisan Ki Hadjar Dewantara dalam buku Bukik mengingatkan arti penting tentang peran orang tua dalam pendidikan yang mengatakan, “Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.”
Masa pandemi covid-19 yang semakin bertambah bahkan hingga muncul bvarian baru. Segala kegiatan tatap muka makin sulit untuk dilakukan. Program PPKM yang dilukakan pun makin sulit bagi para pedagang dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Mereka kesulitan dalam memberikan fasilitas kepada anaknya yang belajar di rumah masing-masing.
Peran orang tua yang seharusnya memberikan pendidikan kepada anaknya dengan dibarengi fasilitas memadai dari pemerintah pun belum sepenuhnya memadai. Namun jika diambil dari positif dari dampak covid-19 ini maka anak akan lebih intensif mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Orang tua akan menjadi peran yang sangat peting pada pencapaian anak kedepannya.
Oleh: Mochamad Faqih Mahasiswa UIN Walisongo Semarang Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam.







