Meneladani Nabi Ibrahim AS

Takbir, tahlil, dan tahmid menggema selama Hari Raya ‘Idul Adlha hingga hari Tasyrik. Demikian juga penyembelihan hewan kurban masih terus dilaksanakan hingga di akhir hari Tasyrik.. Penyembelihan hewan kurban sendiri merupakan ibadah yang diunggulkan di Hari Raya ‘Idul Adlha dalam rangka berbagi seperti dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Belajar dari kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, dalam kehidupan mereka, banyak sekali prinsip-prinsip hidup yang dapat diteladani. Setidaknya ada empat prinsip hidup yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara personal, keluarga, masyarakat, maupun bangsa.

Pertama, berdoa. Salah satu yang sangat penting dilakukan dalam hidup ini adalah berdoa kepada Allah Swt. Doa bukan hanya menunjukkan rendah diri kepada Allah Swt., tapi sebagai manusia memang sangat memerlukan bantuan dan pertolongan Allah Swt. Doa Nabi Ibrahim AS yang sangat popular adalah agar negeri yang ditempati dalam keadaan aman. Allah Swt. berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim AS dalam Q.S. Ibrahim ayat 35: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”.

Nabi Ibrahim AS juga berdoa agar negerinya diberikan rizki yang cukup seperti difirmankan Allah Swt dalam Q.S. al-Baqarah ayat 126: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kimat”. Selain itu, doa yang sangat penting dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim AS adalah agar diri dan keturunannya terhindar dari kemusyrikan, yakni menuhankan dan mengagungkan selain Allah Swt.

Bacaan Lainnya

Kedua, semangat berusaha. Sesulit apapun keadaan di tengah pandemi Covid-19, peluang mendapatkan rizki tetap terbuka lebar. Siti Hajar, isteri Ibrahim AS, telah membuktikan betapa dia berusaha mencari rizki meski berada di daerah yang saat itu belum ada kehidupan. Kegigihan inilah yang dalam ibadah haji dan umrah dilambangkan dengan sai yang artinya usaha.

Ketika sudah berdoa, jangan sampai mengkhianati doanya sendiri. Misalnya, berdoa minta ilmu tapi tidak mau belajar, berdoa minta anak shalih tapi tidak mencontohkan keshalihan dan tidak mendidik mereka. Berdoa minta sehat tapi bergaya hidup tidak sehat. Berdoa minta rizki tapi tidak mau berusaha meraih yang halal, dan seterusnya. Hal ini inkonsisten dengan doa yang dilakukan. Seharusnya doa dan usaha selalu paralel dalam satu variabel. Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah azza wa jalla (HR. Ahmad).

Ketiga, memiliki hati yang bersih dan tajam. Seperti halnya badan dan benda-benda, hati bisa mengalami kekotoran. Kotornya hati bukanlah dengan debu. Hati menjadi kotor apabila ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada dosa. Padahal dosa seharusnya dibenci. Apabila dosa disukai apalagi sampai melakukan, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga hati menjadi bersih kembali. Nabi Muhammad Saw. bersabda: Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa (HR. Thabrani).

Hati yang bersih akan membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa merupakan kotoran yang merusak. Setelah bersih, hatipun menjadi tajam. Orang yang hatinya tajam sangat mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang diperintah dan mana yang dilarang. Nabi Ibrahim AS ketika diperintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS cepat paham meskipun hanya dengan isyarat mimpi. Banyak orang yang hatinya tumpul karena sudah berkarat dengan dosa. Jangankan dengan isyarat, bahasa yang terang, jelas dan tegas saja bahwa hal itu diperintah atau dilarang tetap saja tidak paham atau tidak mau dipahamkan.

Keempat, di hadapan Allah Swt. manusia egaliter  dan imparsial. Allah Swt. tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, jabatan, kekuasaan dan atribut-atribut sosial lainnya. Berkumpulnya umat Islam dalam menjalankan ibadah haji sebagai kewajiban yang juga sebagai napak tilas Nabi Ibrahim AS, menjadi simbol kesamaan di hadapan Allah Swt. Semua berbaur menjadi satu dengan atribut sebagai hamba Allah Swt. Tidak ada bedanya antara pejabat dengan rakyat biasa. Tidak ada bedanya antara pengusaha dan petani dari desa. Bahkan ketika ihram, sekaya apapun dan setinggi apapun jabatan seseorang, mereka berbalut pakaian yang sama, yaitu dua helai kain ihram yang tidak berjahit. Itulah pakaian yang akan dipakai ketika dikuburkan nanti.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *