Sudah mafhum bahwa dalam diskursus keagamaan kontemporer, sering kali terjadi ketegangan antara narasi wahyu dan temuan sains. Salah satu perdebatan yang paling menarik namun sensitif adalah mengenai sosok Nabi Adam as. Apakah beliau adalah sosok historis tunggal, ataukah Adam adalah simbol dari sebuah fase evolusi manusia, yakni munculnya Homo sapiens yang memiliki kesadaran ruhani?
Dalam kajian kitab “Jawahirul Qur’an” episode ke-26, kita diajak oleh Gus Ulil Abshar Abdalla untuk melakukan pembacaan yang melampaui tekstualisme sempit. Melalui ayat-ayat yang menegaskan penciptaan langit, bumi, dan proses penciptaan manusia, Gus Ulil membuka pintu diskusi mengenai bagaimana kita seharusnya memandang asal-usul kita tanpa harus mengabaikan nalar kritis yang dianugerahkan Tuhan.
Epistemologi Penciptaan dan Narasi Semesta
Ayat-ayat yang menjadi fokus dalam kajian ini, khususnya yang berbicara tentang “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar,” merupakan titik tolak teologis yang sangat fundamental. Dalam kacamata “Jawahirul Qur’an”, penciptaan bukan sekadar peristiwa “sekali jadi” yang statis, melainkan sebuah proses yang berkelanjutan dan terukur.
Ketika Al-Qur’an menyebutkan “Dialah yang menciptakan kamu dari satu jiwa,” muncul pertanyaan teologis yang krusial: Apakah “satu jiwa” (nafs wahidah) ini harus dipahami secara biologis-individual, atau secara antropologis-kolektif? Gus Ulil, dengan kecerdasan hermeneutiknya, sering menekankan bahwa Al-Qur’an bukanlah buku teks sains, melainkan hudan (petunjuk).
Oleh karena itu, jika sains menunjukkan bukti-bukti evolusi atau transisi biologis manusia, hal tersebut tidak serta-merta menggugurkan status Adam sebagai “manusia pertama” dalam pengertian teologis, yaitu manusia pertama yang “ditiupkan ruh” dan diberi kesadaran akan keberadaan Tuhan.
Jika kita menafsirkan Adam sebagai simbol bagi Homo sapiens, maka “kejatuhan” atau “keberadaan di bumi” adalah metafora bagi momen ketika manusia purba mulai memiliki kesadaran moral (akhlak), rasa malu, dan kapasitas untuk mengenal Tuhan. Ini adalah lompatan besar dari sekadar makhluk biologis menuju makhluk spiritual.
Perjalanan Intelektual Nabi Ibrahim
Kajian ini juga menyoroti kisah Nabi Ibrahim as. yang mengamati bintang, bulan, dan matahari. Kisah ini adalah mahakarya pedagogi dalam Al-Qur’an. Ibrahim tidak menemukan Tuhan dengan cara “diberitahu” oleh otoritas tradisi semata, melainkan melalui observasi dan refleksi kritis.
Gus Ulil menekankan bahwa Ibrahim menunjukkan kepada kita sebuah metode inkuir (pencarian). Bintang, bulan, dan matahari adalah simbol-simbol otoritas atau kekuatan yang sering disembah manusia di masa lalu (bahkan di masa kini, simbol-simbol tersebut bisa berubah wujud menjadi kekuasaan politik, harta, atau ideologi).
Ketika Ibrahim berkata, “Aku tidak menyukai yang terbenam,” beliau sedang mengajarkan kepada kita bahwa apa pun yang sifatnya fana, apa pun yang muncul dan tenggelam, tidak layak dijadikan Tuhan.
Di sinilah relevansi hubungan antara “Adam” dan “Ibrahim”. Jika Adam adalah titik awal manusia menyadari eksistensi Pencipta, maka Ibrahim adalah model bagaimana manusia menyempurnakan kesadaran tersebut melalui penolakan terhadap berhala, baik berhala fisik maupun berhala intelektual.
Menembus Batas Materialisme: Pembelah Bulir Padi
Ayat-ayat yang berbicara tentang Allah sebagai “Pembelah bulir padi dan biji kurma” membawa kita pada pemahaman tentang Al-Khaliq yang terus bekerja. Tuhan tidak berhenti setelah menciptakan semesta; Dia terus “membelah” kehidupan dari kematian.
Dalam konteks sains modern, ini selaras dengan hukum termodinamika atau proses biogenesis. Namun, bagi orang beriman, proses-proses ini hanyalah “pakaian” dari tangan Tuhan yang halus.
Gus Ulil mengajak kita untuk tidak menjadi “buta” di tengah dunia yang penuh tanda. Dengan kata lain, jika kita terjebak dalam materialisme, kita akan melihat biji kurma hanya sebagai nutrisi. Namun, jika kita memiliki mata spiritual, kita akan melihat di sana ada “tanda-tanda bagi orang yang mengerti.”
Inilah inti dari “Jawahirul Qur’an”: kemampuan untuk melihat yang gaib di balik yang nyata. Ketika kita bertanya apakah Adam adalah Homo sapiens, kita sebenarnya sedang mencoba menghubungkan narasi asal-usul biologis kita dengan narasi spiritual kita. Keduanya tidak perlu saling menegasikan. Sains menjelaskan bagaimana (mekanisme) tubuh kita terbentuk, sementara wahyu menjelaskan mengapa (tujuan) kita diberikan ruh dan akal budi.
Kritik atas Antropomorfisme
Salah satu bagian terpenting dari episode ini adalah penegasan bahwa Tuhan tidak memiliki pasangan dan tidak memiliki anak. Gus Ulil sering mengulas ini sebagai kritik keras terhadap kecenderungan manusia untuk “memanusiakan” Tuhan.
Sering kali, manusia ingin Tuhan bersikap seperti “ayah yang memanjakan” atau “raja yang membalas dendam,” sesuai dengan keinginan ego kita sendiri. Namun, Al-Qur’an menegaskan, “Tidak ada penglihatan yang dapat melihat-Nya, tetapi Dia melihat segala penglihatan.”
Tuhan adalah The Great Observer. Upaya manusia untuk membayangkan Tuhan dalam wujud-wujud tertentu (termasuk keterikatan pada figur-figur tertentu) sering kali menghambat kita untuk benar-benar berserah diri kepada Allah yang Maha Meliputi.
Etika Ekologis: Mandat bagi Khalifah
Pesan penutup dari rangkaian ayat ini adalah tentang israf (berlebih-lebihan). “Makanlah buahnya ketika berbuah dan berikanlah hakmu pada hari panennya. Dan janganlah berlebihan.”
Ini adalah dasar teologis bagi etika lingkungan. Sebagai keturunan “Adam” yang diberi mandat sebagai khalifah, manusia memiliki kewajiban menjaga keseimbangan ekosistem. Jika kita merusak bumi, kita sebenarnya sedang menentang kehendak Sang Pencipta yang telah mengatur segala sesuatu dengan presisi. Fenomena kerusakan alam hari ini, menurut Gus Ulil, adalah cerminan dari kegagalan manusia dalam memahami posisi dirinya di hadapan Tuhan dan alam.
Menuju Integrasi Iman dan Nalar
Diskusi mengenai apakah Adam adalah simbol Homo sapiens sebenarnya hanyalah pintu masuk untuk perdebatan yang lebih besar: bagaimana menjadi orang beriman di tengah dunia modern?
Gus Ulil, dengan latar belakang pesantrennya, tidak berusaha membuang warisan klasik. Sebaliknya, beliau justru menggunakan kekuatan turats (khazanah klasik) untuk membedah tantangan kontemporer.
Beliau mengajarkan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus mematikan nalar. Sebaliknya, semakin dalam kita memahami tanda-tanda alam (sains), seharusnya semakin dalam pula rasa syukur dan iman kita kepada Tuhan.
Setiap jiwa memang menanggung bebannya sendiri. Tidak ada “beban warisan” dosa asal (seperti dalam beberapa doktrin lain). Setiap individu bertanggung jawab atas pencariannya sendiri akan kebenaran. Jika kita sampai pada kesimpulan bahwa ada harmoni antara narasi Al-Qur’an dan perkembangan sains, itu adalah bagian dari “cahaya” yang diberikan Tuhan kepada mereka yang mau berpikir.
Catatan Akhir: Refleksi bagi Kita
Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali firman-Nya yang berbunyi:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًۭا وَعَدْلًۭا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Artinya: “Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur`an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [6]: 115).
Apapun kesimpulan kita mengenai Adam (baik sebagai sosok historis maupun simbol evolusi) esensi dari narasi tersebut tetap sama: bahwa manusia adalah makhluk yang unik, yang ditiupkan ruh Ilahi, yang diberi kebebasan memilih (free will), dan yang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Mari kita terus belajar, terus bertanya, dan terus merenung. Seperti halnya Ibrahim yang mencari Tuhan di tengah kerumunan kaumnya yang tersesat, kita pun harus berani mencari kebenaran di tengah keriuhan informasi hari ini. Janganlah menjadi “buta” dengan menutup diri dari realitas, dan janganlah pula menjadi “sombong” dengan menganggap akal kita sudah mampu menjangkau segalanya.
Kajian “Jawahirul Qur’an” episode ke-26 ini adalah pengingat bagi kita semua untuk tetap rendah hati di hadapan misteri semesta, sembari terus menatap masa depan dengan iman yang kokoh dan nalar yang jernih. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, sebagaimana Ia memberikan petunjuk kepada Ibrahim, agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tersesat. Wallahu a’lam bisshawab.
*) Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo dan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.






