Pendidikan telah banyak mengubah warna dunia. Dunia pendidikan menjadi salah satu hal yang diharapkan di waktu yang akan dating di setiap negara. Hampir semua pendidikan kiranya tidak memiliki imbas negatif dan hal ini banyak sudah dirasakan oleh semua pihak dan semua bidang.
Jalan dalam menempuh sebuah idealisme pendidikan yang kita jalani tak selamanya berjalan mulus. Bahkan, kefatalan biasa terjadi tanpa disadari dalam dunia pendidikan. Hal ini seharusnya tidak dapat ditolerir lagi dan dan harus dijadikan pembelajaran karena hal itu bisa jadi dapat memutus urat nadi kehidupan yang mendatang. Karenanya visi yang diidealismekan tidak terealisasikan. Bahkan akan terkonstruksi menjadi sebuah sirkuit kebodohan. Lantas bagaimana mendekontruksikannya?
Namun terjerumus dalam sebuah sirkuit kebodhan bukan menjadi alasan untuk stagnan apalagi berjalan di medan tersebut, apalagi dijalani secara terus-menerus tanpa ada aksi sama sekali. Kita semestinya memaksimalkan kesempatan yang ada. Sisi yang selama ini menjadi titik terlemah pendidikan kita yaitu tidak sadar bahwa kita terjerumus dalam kefatalan metode pembelajaran. Dan kita telah merasa nyaman terhadap zona yang seperti itu. Budaya kurangnya muhasabah sudah telanjur melekat betapa sulit untuk dikikis.
Betapa selama ini tanpa kita sadari kita telah menjadi pendidik dan anak didik dengan menyia-nyiakan waktu, dalam arti para pendidik belum memiliki kemampuan yang optimal untuk mentransferkan pengetahuannya kepada anak didik, yang terjadi para anak didik bisa membaca dan menulis. Namun, tidak pernah bisa memahami logika pengetahuan secara layak.
Para anak didik dapat membaca namun hanya sebatas untuk tulisan dan hal yang membaca sederhana semacam itu. Bisa juga menulis tapi menulis hal yang sebegitu sederhana dan hal ini hanya dimanfaatkan untuk menulis kolom-kolom pada suatu dokumen atau seenis itu yang tidak memerlukan daya kreativitas.
Pembelajaran merekayangdapatkan belum sampai pada upaya memperkaya nilai-nilai kehidupan. Bahkan membaca dan menulis juga belum menyentuh sisi-sisi yang bisa membangkitkan kreativitas dan inovasi. Maka tidak mengherankan apabila merunut pada data PISA (The Programme for International Student Assement), level literasi Indonesia berada dalam tahap mengkhawatirkan, yakni berada dalam level 64 dari total 65 negara. Sungguh setali tiga uang bila penyair tersohor Indonesia: Taufiq Ismail, menyentil masyarakat kita dalam antologi puisinya yang terkenal Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI).
Selain itu, kurang memahaminya konsep guru itu harus memintarkan seorang murid bukan sebaliknya, yang hanya menyatan bahwa yang penting mengajar. Jika usaha yang mereka lakukan tidak maksimal, maka sesuatu tersebut juga tidak mengasilkan yang maksimal pula.Dalam tanda kutip guru tersebut tidak mengajarkan secara tersirat bahwa menjadi sesorang yang pintar adalah sebuah kewajiban untuk mencapai idealitas sebuah pendidikan.
Oleh: Naila Rifqiyani Muhasshonah, Mahasisiwa Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang.





