Dalam kurun waktu 76 tahun terakhir Indonesia telah menggemakan kemerdekaan ke seluruh dunia. Kemerdekaan yang didapatkan tentu merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Negara Indonesia. Namun tidak seluruh rakyat Indonesia merasakan betul perjuangan para pejuang. Hal ini disebabkan semakin bertambah tahun kemudahan dan kenyamanan berhasil membuai jiwa rakyat Indonesia. Hal ini terbukti dengan memudarnya nilai-nilai gotong royong di masyarakat.

Memaknai gotong royong bukanlah perkara mudah dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab gotong royong bukanlah perilaku individu yang lalu dijadikan satu, tapi makna kesatuan bermasyarakat dalam bernegara pada diri individu. Gotong royong secara formal telah diusulan Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam asas dasar negara. Dalam pidato Soekarno menyampaikan bahwa rakyat Indonesia akan memiliki lima dasar negara ialah Pancasila lalu diperas dalam Trisila lalu diperas lagi dalam Ekasila ialah gotong royong. Pemerasan dasar negara ini bukanlah meniadakan dua atau empat asas penting, namun hanya merangkum dalam tiga dan satu istilah yang mampu mewakili atas lima asas Pancasila.

Pemerasan menjadi Ekasila (gotong royong) bukanlah suatu rumus sederhana. Gotong royong telah berlangsung sejak zaman kerajaan. Hidup saling tolong menolong, asih dan asuh, sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam menghadapi segala fase dan fenomena hidup. Bukan hanya menjadi keterikatan sosial bermasyarakat namun juga menjadi makna religiusitas yang sakral.

Selain itu pemerasan menjadi Ekasila, disebabkan masyarakat Indonesia tidak hanya terdiri atas satu suku budaya melainkan berjuta-juta ragamnya. Sehingga dapat memudahkan seluruh rakyat tetap melaksanakan dan menjadikan gotong royong sebagai dasar berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 dan Peran Media

Dewasa ini, gotong royong telah memudar ditengah masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, rasa asih dan asuh antar sesama sudah sukar ditemukan dalam sekup-sekup masyarakat kecil. Sulit ditemukan lagi nuansa tolong menolong dengan sukarela seperti halnya saat ada tetangga memiliki hajjad atau acara-acara penting. Contoh lain misalnya saat ada tetangga sakit atau terkena musibah biasanya masyarakat akan saling bahu-membahu ikut andil dalam membantu. Namun sekarang hal itu sulit dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Terlebih kemerdekaan Indonesia yang ke 76 tahun ini.

Ironi memang gotong royong sukar lagi ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di usia kemerdekaan ke 76 tahun, Indonesia dan seluruh negara di dunia dihadapkan pada masa sulit. Pandemi berkepanjangan karena penyebaran virus corona yang sulit dikendalikan. Harusnya khittah gotong royong rakyat Indonesia tetap dijaga dan dipraktikkan hingga kini. Sebab di masa yang sulit ini seluruh masyarakat harus saling bahu-membahu mengejawantahkan tolong menolong dalam seluruh sendi kehidupan.

Hendaknya harus saling memberikan support dalam melawan corona baik bagi yang terjangkiti virus maupun yang terdampak pandemi. Yang kaya menolong yang miskin, sebab tidak dapat dipungkiri, di masa pandemi seluruh kebijakan pemerintah sangat berdampak besar terhadap sektor ekonomi masyarakat. Yang tidak terkena virus memberikan dorongan ruhani bagi yang terpapar agar lekas sembuh.

Meski pemerintah sudah melakukan segala skenario untuk menaggulangi bencana pandemi, hal ini tidak akan cukup tanpa adanya kerjasama dari seluruh bagian negara ini, baik wilayah, pemerintah maupun rakyat. Wilayah atau lingkungan harus bersih, terapkan kebersihan pada setiap sudutnya, tidak ada lagi pembalakkan kayu dan perusakan cagar alam yang lain, saling hidup berdampingan dalam alam yang asri. Pemerintah, memberikan dorongan berupa kebijakan yang adil tidak timpang dan bersifat humanis (memanusiakan manusia). Sedangkan rakyat melaskanakan segala aturan pemerintah dan tertib dalam mengaktualisasikan pola hidup sehat baik di lingkugan sekitar maupun di lingkungan luar.

Baca Juga  Jangan Remehkan Ma'ruf Amin!

Semangat gotong royong nyatanya dapat memberikan kehidupan baru bagi rakyat Indonesia sebelum 76 tahun kemerdekaan. Artinya gotong royong harusnya bukan hanya sekedar simbol dan semboyan kemerdekaan setiap tahunnya, namun hendaknya menjadi asas hidup yang terus dipupuk dan diperbaiki setiap waktu baik dalam diri individu maupun kelompok masyarakat.

 

Oleh : Mukoyimah, Dosen Jurnalistik Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Pekalongan

Menjunjung Nasionalisme lewat Pemasangan Bendera

Previous article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan