Memahami Sebab Kemerosotan Ummat

Kemajuan, keagungan, kemuliaan, dan keperkasaan kini hanyalah sejarah bagi umat Islam. Semua itu, hampir tidak ditemui lagi di zaman modern ini. Yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Umat Islam berada dalam jurang kehinaan, kemunduran, dan kejahilan. Seolah kembali pada 1300 tahun yang lalu.

Apa yang menyebabakan umat Islam hingga seperti ini? Apa karena para alim dan ulama telah berhenti mengajar? Ataukah karena usaha dakwah telah memudar? Jawabannya bukan itu. Justru zaman sekarang lembaga-lembaga pendidikan Islam telah banyak berdiri di berbagai tempat. Seperti rumah tahfidz, madrasah, pondok pesantren bahkan Universitas Islam telah membumi di setiap daerah. Tidak hanya itu para pendakwah juga telah lahir di berbagai daerah dan berdakwah hingga ke pelosok.

Lantas apa yang telah membuat umat Islam saat ini mengalami kemerosotan? Kemerosotan umat islam saat ini dikarenakan oleh beberapa  sebab

Penyebab Pertama, anggapan bahwa agama tidak lagi mempunyai eksistensi dalam kehidupan.

Bacaan Lainnya

Jika ada yang membawa agama dalam pembicaraan, maka akan dianggap sebagai sesuatu yang  tabu. Mereka menganggap agama adalah sesuatu yang terpisah dari tatanan sosial. Secara tidak langsung pemahaman sekuler masuk dalam pemikiran setiap orang. Padahal dengan agamalah tatanan sosial dapat teratur dengan baik.  Di dalam agama ada pedoman hidup yang mengatur segala sendi kehidupan manusia, yaitu Alquran dan hadits. Jika umat islam mengikuti tuntunan yang ada pada keduanya, maka umat islam akan kembali pada kejayaannya.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

Penyebab Kedua, ketidakpahaman terhadap agama.

Karena menggagap agama adalah sesuatu yang tabu, maka tidak ada lagi keinginan untuk belajar agama. Akhirnya, lembaga-lembaga pendidikan islam mulai ditinggalkan. Mereka lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah umum. Dengan harapan, agar anaknya menjadi orang yang sukses dan mendapatkan pekerjaan di masa depan nanti. Padahal, kesuksesan yang dimaksud itu hanya kesuksesan di dunia saja yang sifatnya sementara. Mereka lupa dengan kesuksesan yang sebenarnya, yaitu kesuksesan di akhirat.

 فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun. (Q.S. Al-Baqarah ayat 200)

Bukannya tidak boleh belajar ilmu dunia. Akan tetapi, jangan sampai kita melupakan ajaran agama karena sibuk belajar ilmu dunia. Justru akan sangat baik bila ilmu dunia itu dilandasi dengan ajaran agama. Paham akan dunia, dan paham akan agama. Inilah yang telah membuat umat Islam di masa lalu menjadi peradaban yang maju saat itu. Para ilmuan muslim mampu menemukan inovasi-inovasi baru melalui pentadabburan Alquran.

Sebagai contoh, Abbas bin Firnas yang mendapatkan inspirasi setelah melakukan pentadabburan terhadap ayat 19 surah al-mulk

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِير

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.

Dari ayat ini, Abbas percaya bahwa manusia juga bisa berada di atas udara. Setelah itu  ia membuat konstruksi alat yang bisa terbang dan menuliskan penelitiannya. Namun beliau wafat setelah melakukan percobaan. Wrigth bersaudara datang ke Andalusia dan menemukan kitab kontruksi alat terbang yang dibuat oleh Abbas. Setelah itu keduanya mengembangkan konstruksi tersebut dan jadilah pesawat pertama kali di dunia.

Jika para ilmuwan di masa lampau dengan keterbatasan teknologi mampu membuat teknologi baru, maka seharusnya kita yang hidup di zaman yang penuh kecanggihan ini mampu menciptakan lebih banyak lagi teknologi. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam di masa modern ini sudah seharusnya menjadikan alquran dan ajaran islam sebagai sumber pengetahuan. Bertadabbur dan bertaffakur terhadapnya karena  masih banyak rahasia dari ayat-ayat alquran yang belum ditemukan. Dengan begitu umat ini akan kembali pada masa kejayaannya.

Penyebab Ketiga, kurangnya dukungan terhadap usaha dakwah.

Hilangnya keinginan belajar agama menyebabkan umat islam saat ini enggan untuk mendengarkan seruan-seruan para da’i. Seolah angin yang lewat, seruan para da’i hanya didengarkan begitu saja tanpa digubris sedikit pun. Ketidakpedulian ini menyebabkan para da’i kehilangan semangat dakwahnya. Lebih parah lagi, para da’i dijadikan sasaran kritik. Bukan kritik yang membangun, tapi kritik yang menjatuhkan. Sedikit saja kesalahan yang dilakukan para da’i pasti akan dikritik habis-habisan. Padahal para da’i juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sungguh mengherankan, padahal usaha dakwah ini bukan hanya dibebankan kepada para da’i. Akan tetapi, seluruh umat islam mempunyai tanggung jawab dakwah.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Q.S. Ali Imran ayat 110)

Bagaimana bisa kita menjadi umat terbaik, sedang kita masih saling menjatuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, tolong-menolonglah yang bisa membawa umat ini pada perbaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-Maidah ayat 2).  Wallahu A’lam bi as-ashwab

Oleh: Fajri Rafly, Mahasiswa Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir FUHUM UIN Walisongo Semarang,

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Penyebab Pertama, anggapan bahwa agama tidak lagi mempunyai eksistensi dalam kehidupan.

    jgn pakai agama tetapi pakailah berserah diri atau kepatuhan kepada Allah S.W.T,jika kita pakai agama tidak akan mengena ke ummat karena ini adalah masalah pribadi bukan kelompok atau golongan.

    Penyebab Kedua, ketidakpahaman terhadap agama.
    Karena menggagap agama adalah sesuatu yang tabu, maka tidak ada lagi keinginan untuk belajar agama. Akhirnya, lembaga-lembaga pendidikan islam mulai ditinggalkan. Mereka lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah umum. Dengan harapan, agar anaknya menjadi orang yang sukses dan mendapatkan pekerjaan di masa depan nanti. Padahal, kesuksesan yang dimaksud itu hanya kesuksesan di dunia saja yang sifatnya sementara. Mereka lupa dengan kesuksesan yang sebenarnya, yaitu kesuksesan di akhirat.

    ummat sudah capek terhadap tingkah laku pembawa agama karena banyak komersial dan bergantung pada golongan dan organisasi ,soal akhirat adalah masalah pribadi setiap diri dan soal dunia sebenarnya kasih sayang sesamanya saling membantu.

    Penyebab Ketiga, kurangnya dukungan terhadap usaha dakwah.

    Hilangnya keinginan belajar agama menyebabkan umat islam saat ini enggan untuk mendengarkan seruan-seruan para da’i. Seolah angin yang lewat, seruan para da’i hanya didengarkan begitu saja tanpa digubris sedikit pun. Ketidakpedulian ini menyebabkan para da’i kehilangan semangat dakwahnya. Lebih parah lagi, para da’i dijadikan sasaran kritik. Bukan kritik yang membangun, tapi kritik yang menjatuhkan. Sedikit saja kesalahan yang dilakukan para da’i pasti akan dikritik habis-habisan. Padahal para da’i juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sungguh mengherankan, padahal usaha dakwah ini bukan hanya dibebankan kepada para da’i. Akan tetapi, seluruh umat islam mempunyai tanggung jawab dakwah.

    Bukan umat islam tetapi katakanlah umat Muhammad s.a.w.
    oleh sebab itulah berdakwah dengan akhlak yg mulia .

    wassalamualaikum wr,wb,
    ustadz sayyid habib yahya