Mengajar bagi sebagian orang adalah beban atau paksaan. Karena berbagai macam hal salah satunya ialah ekonomi. Dengan mengajar seorang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal inilah yang terkadang membuat guru hanya transfer of knowledge bahkan itu hanya didalam kelas. Setelah selesai mengajar di kelas guru tak lagi bertanggung jawab atas sikap muridnya. Namun, berbeda hal dengan Husen. Ia adalah seorang santri sekaligus ustadz di pondok yang diasuh oleh pamanya di Aceh Kota. Bukan faktor ekonomi dan bukan duniawi yang ia inginkan. Karena ia tak mendapatkan apa-apa. Tiada gaji atau upah yang ada hanyalah lelah yang terasa ni’mat karena semua lillah.

“Ustadz Husen, saya tadi diminta menyampaikan dari ayah ustadz. Katanya ustadz diminta pulang karena ada  hal penting.” Pemberitahuan dari anak pamannya.

“Baik. Terima kasih, Kak. Insya’allah.” Sanggup Husen dengan wajah agak memikirkan prihal kepentingan apa yang mengundang ayahanda untuk memanggilnya. Namun, tanda tanya hanya akan menjadi tanda tanya jika tidak langsung ditanyakan kepada ayahnya.

Sore mengawali perjalanan pulang husen. Sore menjadi waktu yang dipilih. karena pada saat itu jam mengajarnya yang telah terjadwal sudah selesai. Motor yang sudah dipanaskan sejak tadi nampaknya terasa hangat untuk mengarungi panasnya kota aceh. Dengan jalanan yang sedikit ramai tak banyak hal yang menarik perhatian husen untuk melabuhkan motornya ke sebuah tempat. Karena rasa penasarannya lebih menguasai diri dari pada hanya sebuah resto di pinggir jalan.

“Assalamu’alaikum, Yah.” Dengan wajah penuh sumringah berbaur aura damai menyelimuti wajah Husen dan hal yang tak tertinggal adalah sungging senyumannya sambil mencium tangan ayahnya.

“Wa’alaikum salam, akhirya kamu datang juga. Ini makmu dari kemarin sudah kangen katanya. Nggak tahu mau ngapain. Mak, Ini anak kau tercinta sudah balek.” Basa basi ayah husen yang hampir selalu diperlihatkan orang tua ketika menyambut anak-anaknya yang pergi dari rumah entah dengan alasan finansial atau  Tholabul Ilmi.

“Ayah, ini sukanya hemm” jawab mak husen sambil menyambut tangan salaman ala seorang anak yang mencium tangan orang tua dibarengi senyum bahagia dan disusul ciuman yang mendarat ke kening anak satu-satunya itu.

“Gimana, Nak. Sehat?” tanya kabar mak Husen

“Alhamdulillah. Insya’allah Husen selalu baik. karena Husen percaya ada do’a mak yang membayangi langkah kaki husen saat dimanapun berpijak.” Jawab Husen dengan senyum manisnya.

Baca Juga  Sepekan Bulan Ini

“Mak, kalau boleh tahu, apa hal yang membuat ayah dan amak meminta saya balik ke rumah. Macam tak biasa saja. Baru kali ini saya diminta pulang. Sedangkan tempo dulu husen nyantri tak pernah diminta untuk pulang. Apa hal alasan yang penting sangat hingga saya harus pulang, Bu?” Timpal tanya Husen kepada Maknya’

Mak Husen memandang wajah ayah lalu mereka saling bertatapan seolah saling mengisyaratkan agar mengambil alih perbincangan tersebut hingga akhirnya ayah husen menjawab teka-teki yang dilontarkan anaknya tersebut.

“Begini, Anaku. Kalau kita membuka kitab tanbih al-ghafilin disebutkan ada suatu hadist tentang hak anak atas orang tua. Yang petama, memberikan nama yang bagus. Yang kedua, mengajarkan kitab atau pengetahuan dan yang ketiga adalah menikahkannya.”

“Maksudnya, Yah?” husen mencoba meminta penegasan maksud dari ayahnya yang menyampaikan prolog tentang sebuah hadis tersebut.

Sambil tersenyum ayahnya menjawab.”Ayah percaya kamu sebetulnya sudah mengerti. Tapi, tak apalah biar ayah jelaskan biar kamu tidak berspekulasi. Hehehe.”

“Kami mencoba mengamalkan apa yang ada pada hadist itu. Ayah sudah memberikan nama yang insy’allah bagus. Husen Huseini, seperti nama cucu nabi Muhammad. Baguslah. Yang keduan Ayah juga sudah mengajarimu walau secara tidak langsung dengan mengirim dirimu ke pesantren. Karena ayah sadar, ayah belum bisa mendidikmu dengan baik. oleh karena itu, saya kirim dirimu ke pesantren. Dari ketiga hal yang ada dalam hadist ada satu tugsa yang ayah belum tunaikan. Kamu tahukan?” jelas ayah husen dan diakhiri dengan tanya retorik.

“Sebetulnya apa yang membuat ayah tiba-tiba ingin saya menikah?” tanya husen dengan segala kebingungan yang menggantung dalam hati husen.

“Hem… dulu ayah pernah membuat perjanjian dengan kawan ayah. Kami membuat perjanjian bahwa kami akan menjodohkan kalian. Tetapi, setelah waktu telah berlalu lama. Ayah berfikir kembali mengenai keputusan ayah saat itu. Apakah layak ayah ini menentukan kebahagianmu? Hingga akhirnya ayah menncari sebuah cara agar tidak mendholimi kalian dan melanggar janji dengan kawan ayah….” uacapan ayah husen membuat semua yang ada di dunia ini seakan mematung mendengarkan kisah perjanjian dua orang pemuda tersebut.

“….. Tuhanlah yang mengetahui segala apa yang di bumi dan di langit dan di hati setiap hamba-Nya. Kawan ayah menelpon bahwa ia memikirkan hal yang semisal dengan ayah. Akhirnya kami bersepakat bahwa kami tetap menjodohkan kalian tetapi itu pun dengan persetujuan kalian.” Pungkas ayah husen dalam memaparkan asal muasal sebuah keputusan untuk menyatukan hati anaknya dengan seorang gadis anak kawannya.

Baca Juga  Rangkaian Kata dalam Bentang Jarak

“Jadi, intinya???” tanya penegasan husen mengenai apa yang harus ia lakukan.

“Intinya, jika kamu setuju dengan gadis anak  kawan ayah. Maka ayah akan kawinkan kamu dengan dia. Dengan catatan juga, ia juga menerima pinanganmu, nak.”

“em….em…..” pikir husen dalam dialog dengan ayahnya

“kamu tak usah risau untuk menentukan hatimu. Karena kamu belum pernah melihatnya. Besok datanglah kamu ke sebuah surau di daerah Fatahilah. Biasanya hari ahad dia datang kesebuah pengajian disana. Namanya, Hafizah. Firda Nur Hafizah panjangnya” Jawab ayahnya seolah mengerti apa yang anaknya pikirkan.

“Kalau semacam itu, Insya’allah, Yah. Husen akan melihat sosok bidadari yang seperti apa dia. hingga ayah mau menjodohkan anak ayah ini dengan bidadari tersebut.” Sanggup Husen.

***

Tuhan punya cara mengenalkan manusia pada kebahagian bisa melewati datangnya seseorang atau perginya seseorang. karena hidup ini tentang siapa yang pergi dan siapa yang datang untuk mengganti. Husen mendatangi suarau yang disebutkan ayahnya. Dalam keadaan tengok kanan tengok kiri semacam orang yang kebingungan sabab memikirkan cara menemukan perempuan yang akan dijodohkan denganya.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Terdengar suara pembicara dalam pengajian tersebut sudah dimulai. Semua mata tertuju pada pembicara yang kebanyakan adalah kaum hawa. Mungkin karena yang menjadi pembicara adalah Perempuan. Hal ini sebab kesan perempuan dianggap sebagai golongan yang dibawah laki-laki. Oleh karena itu laki-laki merasa superior.  Alasan inilah yang membuat pendengar dari golongan adam sedikit. Terlepas dari semua itu husen masih sibuk mencari sosok hafizah yang diceritakan ayahnya. Namun, suatu hal tak disangka.

“Pada kesempatan ini, kita masih diizinkan Tuhan untuk bertemu lagi dalam kajian dengan saya, Firda Nur Hafizah. Semoga kita yang hadir pada majlis ini mendapat ridho allah. Karena sejatinya tugas kita di dunia ini adalah Ibtigha’a Mardhatillah ” Sapa pembicara dalam majlis tersbut.

Mendengar hal yang demikian Husen seolah senang karena orang yang ia cari ada didepan matanya. Begitulah Tuhan, cara-Nya mempertemukan dengan skenarion-Nya tak terduga manusia. pada saat itulah Husen mulai timbul rasa tertarik dengan sosok perempuan yang akan dijodohkan dengan dia.

“Cinta itu adalah sebuah anugrah. Salah satu bukti seseorang yang jatuh cinta adalah selalu menyebut nama yang dicintai. Begitu juga sejatinya seorang hamba yang beriman, Ia akan selalu menyebut nama yang dicintainya. Siapa? Tuhan. Kenapa? Alasanya simpel karena kita hidup di dunia ini sebab Tuhan dan untuk Tuhan. Oleh karena itu, kita sebagai hamba seharusnya rindu pada Tuhan. Jadi, Innama al-Mu’minuuna aladziina idza Dzukirallahu wa Jilat Quluubuhum Wa Idza Tuliat Alaihi Ayatuhu ZaaDathum Iimaanan. Ketika disebut nama Tuhan, Maka, hati orang mu’min itu bergetar dan ketika dibacakan ayatnya, maka keimanan mereka bertambah.” Terang seorang pembicara tersebut dengan nada yang lembut namun tegas mengena hati setiap orang yang mendengarkan kajian tersebut.

Baca Juga  Perbaiki Hubunganmu Dengan Tuhanmu

Mendengar kata- kata yang begitu indah dan penuh makna hingga menggerakan hati. Husen mulai berfikir bahwa mungkin hafizah inilah yang tuhan takdirkan untuk menjadi petnernya berjuang menegakkan agama Tuhan. Cukup mendengar beberapa bait yang keluar dari sosok yang menjadi perhatiannya. Husen memutuskan untuk pulang dan memikirkan apa nasib hatinya, yang ia sadari mulai terpaut rasa cinta.

Dalam perjalanan pulang ia masih terngiang bagaimana seorang perempuan bisa mengatakan kata-kata yang dalam. Dalam bayangan itu ia berkata pada Tuhan

“Tuhan, Jika ia mendekatkanku pada-Mu, maka, jodohkanlah dia untuku. Tetapi, Jika rasa cintaku ini menghalangi cintaku pada-Mu. Maka, Kuatkanlah hatiku ini.” Pinta Husen pada Tuhan.

Masih dalam hangat ngiangan kata-kata hafizah. Husen sampai dirumahnya yang sesampainya disana seolah-olah kedua orang tuanya sudah menunggu untu menyambut kedatangannya.

“Bagaimana, Husen? Apa keputusanmu?” tanya Ayah husen.

“Insya’allah, Husen sanggup menerima konsekuensi yang akan terjadi.”

“Alhamdulillah, Siapkan hatimu, Nak. Hati itu prihal tentang pembolak balikan-Nya. Dia yang menentukan itu. Berdoalah semoga ia memang jodohmu.” Tanggap ayah husen seolah mengetahui isyarat husen yang mau untuk dijodohkan.

Mendengar kesanggupan husen membuat ayah husen senang dan was-was. Senang karena perihal ia akan menepati janji dengan kawan lamanya dan was-was ketika anak kawanya tidak menerima lamaran tersebut. Namun, konsekuensi itu selalu ada dalam setiap keputusan. Hari peminaganan pun ditentukan untuk Husen dan perempuan yang dijodohkan dengannya sebagai awal untuk melanjutkan ke jenjang bantera Rumah Tangga. Namun, Tuhan berkata lain. Perempuan itu menolak dengan alasan ia belum sanggup membuat sebuah komitmen ketika jauh. Karena ia ingin menempuh pendidikan strata satu di Jawa

Moch Rosyad Among Rogo
Ketua Umum HMI Komisariat Persiapan Febi Walisongo Semarang Mahasiswa FEBI UIN Walisongo Semarang dan Peneliti di LeSAN (Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme)

    Bangkitlah, Kartini Masa Kini!

    Previous article

    Dalam Keheningan Malam

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Cerpen