Menurut Harold D Laswell, media massa termasuk “Channel (media)” untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada audien. Sudah tidak asing lagi bagi kita tentang model komunikasi laswell, baginya model komunikasi ialah jawaban atas Who, What, In with Channel, To Whom, What Effect.
Secara sederhana, komponen dasar komunikasi itu terbagi menjadi komunikator, pesan yang disampaikan, media atau chanel, audien, dan efek yang terjadi setelah proses komunikasi (Dedy Mulyana 2000). Maka, tujuan dari komunikasi itu terletak pada efek yang terjadi setelah proses komunikasi. Tujuan komunikasi sebagaimana digambarkan oleh Carl I Hovland ialah untuk membentuk opini publik (Public Opinion) dan prilaku publik (Public Attitude) melalui pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Carl I Hovland juga mengatakan bahwa peran komunikasi sangat penting untuk mempengaruhi masyarakat, baik secara kognitif, afektif maupun behavior. Konsep ini dipertegas oleh Wilbur Scramm bahwa, komunikasi bisa efektif apabila pembicara (komunikator) dapat memahami latar belakang audien (Frame of reference) seperti pameo “Ich Kenne Mein Volk (aku kenal rakyatku)” harus menjadi pedoman para pembicara atau komunikator (Onong Uchjana Efendi 2017 ). Namun, pada media massa tentunya memiliki suatu penekanan tertentu pada wilayah komponen komunikasi.
Maka, tidak heran jika dikatakan media massa sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang, terutama anak di usia dini. Pola pemikiran atau Mindset yang terbangun pada seseorang selalu merujuk pada sesuatu yang sering kali mereka konsumsi, sehingga sikap dan prilaku mereka juga dibentuk olehnya.
Di dalam dunia pendidikan, lambaga pendidikan formal dikenal sebagai tempat pembangunan karakter (Character Building) menuju pribadi yang lebih baik, sebagaimana tujuan bangsa ini, yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”, hal tersebut tidak hanya di capai dalam lembaga pendidikan formal, media massa juga berperan besar didalamnya.
Charles Wright (1959) membagi fungsi media massa menjadi 4 bagian, diantaranya yaitu; Surveillance, artinya media massa bertugas untuk menyampaikan informasi kepada khalayak tentang kejadian-kejadian tertentu, fungsi ini sangat mudah ditemui, terutama saat membaca, mendengar atau melihat pemberitaan. Correlation, media massa akan membangun asumsi-asumsi tertentu berdasarkan informasi yang mereka dapat, disini media massa berfungsi untuk mempengaruhi opini khalayak. Transmission, selain menyebarkan informasi, media massa juga berfungsi untuk menyerbarkan nilai-nilai bahkan hingga norma sosial budaya dari satu generasi ke gernerasi berikutnya, hal ini sangat bermanfaat untuk menjaga suatu keutuhan nilai-nilai tertentu agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Entertaiment, fungsi terakhir dari Charles Wright, yakni media massa bisa menjadi sebuah fasilitas hiburan bagi khalayak, dalam fungsi ini biasanya tidak ada pengharapan untuk terjadi efek-efek tertentu, komunikasi yang ada hanya bersifat menghibur semata. Media massa meliputi media cetak, media elektronik dan media online. Media cetak terbagi menjadi beberapa macam diantaranya seperti koran, majalah, buku dan sebagainya, begitupula dengan media elektronik terbagi menjadi dua macam, diantaranya radio dan televisi, sedangkan media online meliputi media internet seperti website, dan lainnya (Syaifuddin Yunus 2010).
Pada fungsi Transmission, media massa sangat berperan dalam menyebarkan nila-nilai moral dengan kepentingan kebudayaan, melalui tayangan informasi yang dipaparkan oleh media massa, membentuk pola pemikiran tentang bagaimana prilaku dari asumsi mereka, hal ini bisa di amati dari prilaku remaja, generasi penerus bangsa saat ini, sikap dan cara mereka mengahapi realitas sosial. Dalam jurnal pendidikan dan pembelajaran, (M. Zainuddin 2009, volume 16, nomor 1) disinggung bahwa Pada tahun 1980-an di Amerika Serikat muncul gerakan konservatif apa yang disebut “family values” sebagai bentuk kekhawatiran masyarakat terhadap peningkatan angka-angka perceraian, anak-anak yang dibesarkan hanya oleh satu orang tua, dan hal-hal negatif yang diakibatkannya. Media massa merupakan salah satu penyebab, dan dituduh berperan banyak dalam situasi yang tidak kondusif bagi kehidupan keluarga. Demikian pula ketika tindak kekerasan serta angka kriminalitas dianggap meningkat, masyarakat Amerika Serikat kembali mencurigai media massa. Berbagai penelitian dilakukan dalam memerinci prngaruh ini pada masyarakat, tetapi asumsi dasar yang berlaku umum adalah media massa terlalu banyak menayangkan bentuk kekerasan dan tayangan-tayangan itu memiliki korelasi dengan peningkatan kekerasan dalam masyarakat.
Komunikasi massa melalui teknologi telematika tentunya bukan komunikasi yang dilakukan oleh perseorangan, melainkan bentuk tim. Burhan Bungin mengatakatan bahwa komponen dasar komunikasi massa adalah, komunikator, media massa, informasi (pesan), gatekeeper, khalayak dan umpan balik (feedback). Tambahan gatekeeper disini berarti penyeleksi informasi yang betugas menyeleksi informasi (pesan) yang akan disampaikan ke khalayak (publik), memiliki kewenangan memperluas serta membatasi informasi yang akan disampaikan. Bagian-bagian gatekeeper pada media massa bersifat dimensional. Dari pemaparan diatas bisa disimpulkan bahwa aktifitas komunikasi massa dijalankan oleh beberapa orang dalam media massa yang terorganisir, dengan persiapan dan proses yang bertahap untuk mencapai tujuan komunikasi massa. Pada pembahasan ini, media massa mempunyai visi terorganisir untuk mencapai tujuan operasional media massa, maka yang harus diutamakan adalah kepentingan pendidikan dan pengembangan kebudayaan masyarakat, melalui tayangan-tanyangan positif.
Pada kategori penyampaian pesan, selain sebagai menyajikan informasi, media massa juga berfungsi sebagai pengawasan terhadap aktifitas masyarakat pada umumnya, fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif. Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan melalui tayangan preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masyarakat. Contoh, akhir-akhir ini media massa baik televisi, radio dan surat kabar menyampaikan beberapa informasi tentang bahaya virus corona atau Covid-19 serta cara penanggulangannya, agar terhindar dari serangan virus mematikan ini, berikut dengan teknis mencuci tangan dan tata cara berkontak dengan lawan bicara. Akibat dari media massa, masyarakat dari berbagai lapisan dapat memahami dan mengambil gambaran tentang bahaya virus tersebut. Efek yang terjadi pada masyarakat sebagai komunikan ialah lebih waspada dan berhati-hati. Fungsi lain dari media massa adalah hiburan yang seirama dengan fungsi-fungsi lain.
Senada dengan yang diakatakan oleh Burhan Bungin bahwa fungsi utama dari komunikasi massa ialah pendidikan sosial (Social learning), dimana semua bentuk informasi yang diproduksi oleh media massa harus bisa memberikan pendidikan terhadap publik atau khalayak. Tugas utama media massa memberikan pencerahan-pencerahan terhadap masyarakat dimana komunikasi massa itu berlangsung. Komunikasi massa dimaksutkan agar proses pencerahan itu berlangsung efektif dan efesien dan menyebar secara bersamaan di masyarakat secara luas. Fungsi komunikasi massa ini merupakan sebuah andil yang dilakukan untuk menutupi kelemahan fungsi-fungsi pedagogi yang dilaksanakan melalui komunikasi tatap muka, dimana karena sifatnya, maka fungsi pedagogi hanya dapat berlangung secara eksklusif antara individu tertentu saja (Burhan Bungin 2006). (Melalui peran komunikasi massa maka publik dapat menambah wawasan baru dan aktual untuk tambahan kajian keilmuan dan peningkatan civitas akademika.
Media massa yang berbentuk cetak (surat kabar), audio (radio), dan audio visual (televisi) harus mengedepankan konsep ideal dari komunikasi massa itu sendiri, memahami audien atau komunikan sebagai sasaran komunikasi, menghindari konten yang tidak mendidik atau merusak mental, seperti menanyangkan berita-berita bohong (hoaks) dan provokatif seperti tayangan kriminal, apalagi menebar kebencian dan fitnah. Karena semua pesan (informasi) yang di siarkan oleh media massa akan membentuk opini publik dan prilaku public secara tidak sadar, maka ketelitian menjadi prioritas dalam media massa. Terutama pada media-media mainstream yang mempunyai kapabilitas dan kredibiltas tinggi di masyarakat, harus senantiasa menyediakan konten-konten mendidik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai sasaran komunikasinya, mengemas informasi tersebut dengan pendidikan serta meminimalisir unsur-unsur siaran tidak produktif.
Dalam karyanya “How Communication Work” oleh Wilbur Scramm mengatakan bahwa Informasi (pesan) hendaknya dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik sasaran yang dimaksud. Informasi (pesan) hendaknya menggunakan tanda-tanda yang menunjukkan pengalaman yang sama antara sumber dan sasaran sehingga sama-sama dapat dimengerti. Kemudian juga pesan hendaknya membangkitkan kebutuhan pribadi pihak sasaran dan menyarankan beberapa cara untuk memproleh kebutuhan itu. Tekahir dari pernyataannya ialah, pesan hendaknya menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi.
Disini komunikasi massa dengan media massa merupakan strategi pendidikan, sebagaimana di singgung di awal. Di dunia pendidikan kita mengenal metode pedagogi dan andragodi, yakni pendidikan anak-anak dan pendidikan orang dewasa, namun sering perkembangan ilmu pengetahuan, banyak dijumpai strategi pendidikan maupun belajar, berikut salah satunya dengan media massa, sebagai sarana ampuh mempengaruhi sasaran komunikasinya. Maka memanfaatkan komunikasi massa melalui media massa akan lebih berhasil memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat.
Berhasil tidaknya suatu tujuan komunikasi (pendidikan), dalam hal ini sebagai strategi pendidikan terletak pada keterampilan pembicara (komunikator). Jelas bahwa komunikator dalam komunikasi massa selalu berbetuk tim dan harus memiliki kemampuan sebagaimana telah digambarkan diatas, yang menjadi prinsip komunikasi massa. Komunikasi massa bersifat publisitas, artinya informasinya diperuntukkan untuk umum, juga bersifat universalitas, artinya pesan yang disampaikan bersifat luas, nasional maupun internasional, serta bersifat aktualitas, artinya infomasi (pesan) bersifat segar dan aktual, bukan berita bohong atau basi. Ketiga sifat ini merupakan subpoin dari komunikasi massa sebagai strategi pendidikan dan pengembangan kebudayaan
Perlu digaris bawahi bahwa, selain pembahasan tentang reposisi fungsi media massa, sebagai strategi pendidikan dan pengembangan kebudayaan, peran pimpinan nasional juga dibutuhkan untuk revitalisasi strategi baru dalam pendidikan dan pengembangan kebudayaan. Perlu ada kesatuan visi antara perusahan media massa dan pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui media massa. Hal ini bisa dilakukan melalui lembaga-lembaga yang dimiliki pemerintah, seperti KPI (komisi penyiaran Indonesia), dewan pers, dan seterusnya. Lembaga-lembaga tersebut berfungsi menjalankan kebijakan pemerintah dalam mengatur proses program tayangan media massa, mulai dari media elektronik sampai media online. Maka, kolaborasi antara pemerintah dan media massa dalam merumuskan kehidupan bangsa sangat dibutuhkan, melalui program-program mendidik dan konten-konten positif serta komitmen keduanya untuk mengantarkan bangsa ini kepada kehidupan yang cerdas. Oleh karena itu, untuk saat ini tidak perlu lagi diadakan penelitian tentang bahaya media massa, melainkan kita berupaya bagaimana media massa menayangkan sesuatu yang mendidik, terdapat nilai-nilai moral dalam setiap program tayangan, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap konten media massa.
Media massa, pendidikan dan kebudayaan memiliki hubungan yang jelas, bukan hal yang dapat dipikirkan dengan sederhana. Pengaruh media massa dalam pembentukan karakter seseorang sangat besar, bahkan lebih besar dari institusi pendidikan formal, karena daya komsumsi masyarakat di luar lembaga formal lebih banyak menggunakan media massa, ini terbukti dari pola pemikiran dan attitude masyarakat dalam etika sosial dan cara mereka bersikap. Sebab, media massa dan lembaga pendidikan memiliki fungsi yang serupa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini harus menjadi perhatian bersama oleh setiap elemen masyarakat, mulai dari akademisi, praktisi dan masyaraat itu sendiri, bagaimana menggunakan media massa dengan bijak, serta memilih program-program yang positif, agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang merusak mental seseorang.
Capaian target dari media massa sebagai strategi pendidikan terletak pada efek audien (komunikan). Bagaimana audien dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya melalui konten-konten yang disajikan oleh media massa, kemudian pada kemampuan afektifnya yang terbangun malalui efek komunikasi massa, banyak contoh kasus pemabahsan tentang ini, kemudian yang terkahir pada segi behavior atau tingkah laku publik yang dibentuk akibat komunikasi massa. Mari maksimalkan segala penunjang pendidikan di lingkungan kita.
*Ahmad Ma’mun, Penulis adalah mahasiswa IAIN Jember, Aktivis HMI Jawa Timur.





