Semenjak kejadian yang terjadi pada Bulan Oktober 2020, aku enggan melihat Ibu menangis. Ketika Ibu menangis, hatiku terasa sakit. Ketika Ibu mengangis, di pikiranku langsung tebersit pertanyaan,
“Salah apa aku, hingga membuat Ibu menangis?”
Walaupun aku tahu, bahwa penyebab Ibu menangis bukan karena aku. Rasa bersalah tetap tebersit di dalam diriku.
Aku juga enggan membuat Ibu kecewa. Ibu tidak pernah mengatakan bahwasanya Ibu kecewa denganku. Tapi, aku yakin, bahwa Ibu sering kecewa kepadaku. Selama di rumah, Ibu selalu memerintahku banyak hal. Aku tak pernah membantah perintah dari Ibu. Contohnya, untuk makan, jika sudah menyuruhku untuk makan. Aku tak bisa mengelak. Hal-hal yang Ibu peringatkan pasti yang terbaik untukku.
Ibu adalah definisi sempurna bagiku. Ia tak hanya baik, tapi juga pintar. Ketika aku tidak dapat menyelesaikan tugas, orang pertama yang aku tanyai adalah Ibu. Sampai terkadang ketika Ibu sedang masak di dapur, aku menanyainya soal pekerjaan rumahku. Ibu merupakan sosok penyabar, Ibu mampu menenangkan anaknya ketika gelisah. Ibu akan menjadi orang pertama yang menanyakan keadaanku. Aku juga enggan melihat Ibu sakit, ketika Ibu sakit, rumah terasa sepi. Pekerjaan bersih-bersih jadi tanggungan Bapak. Sedangkan jika adikku tiba-tiba rewel, Ibu yang sedang sakitpun harus menenangkan adikku yang rewel.
Ibu bukan sepenuhnya ibu rumah tangga. Ibu juga seorang pebisnis, sama seperti Bapak. Namun, saat ini Ibu sedang vakum dari dunia bisnis, untuk merawat adikku yang masih bayi. Dulu, Ibu pernah mencoba mendaftarkan diri menjadi guru. Tetapi, ia tidak diterima. Tak apa, Ibu tetap menjadi guru, tapi bagi anak-anaknya.
Ibu adalah madrasatul ula. Tempat belajar pertama bagi anak-anaknya. Ibu menjadi tempat pertama bagiku untuk belajar banyak hal. Ibu yang mengajariku berbicara, mulai dari mengajariku untuk memanggil Ibu, Bapak, hingga lancar berbicara. Ibu yang mengajariku menulis, hingga aku dapat menulis tulisan ini. Ibu juga mengajariku menjahit, sehingga aku dapat menjahit bajuku ketika sobek.
Ibu juga mengajariku cara hidup mandiri, sehingga aku disekolahkan di pondok milik temannya Bapak, untuk belajar di sana. Aku dapat mempraktekkan hal-hal yang pernah Ibu ajarkan kepadaku. Aku pikir, aku tak akan bisa hidup tanpa arahan secara langsung dari Ibu. Namun, kenyataannya, aku dapat menjalani keseharianku di sini dengan baik-baik saja. Pernah suatu waktu, aku sedang menangis hebat di kamar, dan Ibu masuk untuk menghampiriku. Ia menenangkanku, hingga aku benar-benar tenang.
Di sore harinya, Ibu membuatkanku teh hangat dan gorengan. Itu bukan kali pertama bagi Ibu, menenangkan tangisku hingga benar-benar tenang. Selama aku di rumah, aku dan Ibu sedang berbagi cerita satu sama lain. Ibu lebih sering bercerita tentang masa lalu. Sedangkan diriku lebih senang bercerita tentang kegiatanku di sekolah. Aku dan Ibu sangat mirip, begitu kata orang-orang, Aku dan Ibu menyukai kopi, makanan pedas, dan berkuah.
Jika aku tak ada jadwal sekolah, hingga siang hari. Aku memilih untuk membuat kopi bersama Ibu. Kami sering menonton televisi berdua, ketika Bapak keluar rumah, dan adik-adik sedang tidur di waktu petang. Aku membantu Ibu memasak di dapur. Tapi, selama di dapur, aku lebih sering membuat keributan. Menyebabkan aku diperintah untuk menunggu saja, sembari menonton televisi.
Ibu, terima kasih atas kasih sayang yang engkau beri. Tak dapat ku hitung, seberapa banyak Ibu memberi kasih sayang kepadaku, dan adik-adikku. Juga berkat kasih sayang yang engkau berikan, kami dapat tumbuh menjadi orang yang kau harapkan. Ibu, terima kasih telah merawatku dari kecil hingga saat ini. Maafkan aku, Ibu, jika aku sering mengecewakan dirimu. Kesabaranmu dalam merawatku tak akan pantas, dengan segala hal yang telah ku perbuat kepadamu, Ibu.
Terima kasih atas segala pengorbanan yang telah engkau lakukan demi diriku. Semua hal di dunia, tak akan ada yang dapat membayar keringatmu selama merawatku. Letih, tak kau hiraukan. Ibu, maafkan kesalahan yang pernah ku perbuat. Maafkan diriku karena telah menyakiti hatimu. Maafkan aku karena telah membuat repot dirimu.
Pesan-pesan yang pernah engkau berikan, tak akan kulupakan. Pesan-pesan itu selalu ku ingat, dan pesan-pesan Ibu lah yang membawa kebaikan kepada diriku. Selamat Hari Ibu, untuk seluruh ibu yang ada di Indonesia. Jasa para ibu tak akan bisa dilupakan. Terima kasih untuk para ibu yang telah sabar merawat anak-anaknya dengan sepenuh hati.
Selamat Hari Ibu, untuk Ibuku. Terima kasih sudah merawatku dengan penuh kasih sayang. Terima kasih atas segala hal yang telah Ibu berikan kepadaku. Aku tak dapat membalas atas apa yang telah Ibu berikan kepadaku. Ibu, maafkan aku, karena belum bisa menjadi anak yang baik. Maafkan aku karena diriku sering membuat sakit hati dan menangis. Ibu, maafkan aku karena belum bisa menjadi anak seperti yang engkau harapkan.
Mom, please remember this. I don’t wanna make you crying again. I don’t wanna make you dissapointed. I will make you proud of me. I will do a good thing for you. Mom thank you for being the great mom. Once again, thank you, and Happy Mother’s Day in Indonesia.
By : Ashila Nayla A. A, Sanja of Junior Highschool of Planet Nufo Grade VII, A Member of Education and Language Division in OSIS, A Member of Commissariat of Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama Planet Nufo







