Masihkah Percaya dengan Organisasi Tarekat?

Masihkah Percaya dengan Organisasi Tarekat?

Pasca pecah kongsi antara PBNU dengan Habib Luthfi bin Yahya, seratus persen realitas itu yang akhirnya membuat saya tidak percaya dengan adanya organisasi tarekat. PBNU tetap keukeuh setelah berhasil “mengambil” dengan tetap mengamankan JATMAN dari kekuasaan Habib Luthfi, sementara Habib Luthfi memilih mengalah dengan mendirikan organisasi tarekat baru bernama JATMA Aswaja.

Bagaimana bisa, organisasi dengan level tertinggi yang selama ini telah berulang kali menyelenggarakan forum ulama tasawuf sedunia justru berakhir kisruh. Puncak kemarahan publik dan PBNU, sedikit banyak dipengaruhi oleh tata kelola organisasi tarekat yang kurang profesional dan huru-hara klan Ba’lawi yang hingga kini masih memanas, di mana Habib Luthfi diduga kuat terlibat dalam banyak kasus kapitalisasi agama dan tarekat.

Yang lebih miris lagi, organisasi tarekat sekarang justru banyak dikendalikan oleh mereka yang selama ini terlibat dalam politik praktis. Bagaimana mungkin, ajaran tarekat yang sangat mengedepankan kezuhudan dalam hidup, realitasnya bertolakbelakang. Organisasi tarekat tak ubahnya partai politik yang sarat akan kepentingan dan kekuasaan. Terus terang, polemik tarekat ini yang menjawab sejumlah kegelisahan dan ganjalan.

Lebih dari itu, apa yang selama ini kerap dikaitkan dengan aspek spiritualitas mestinya tidak perlu diorganisasikan secara legal-formal. Pengalaman spiritualitas merupakan pengalaman intim dan rahasia seorang hamba dengan Allah Swt. Seandainya ada seorang hamba telah mengalami pengalaman spiritual lalu diceritakan sedemikian rupa, apalagi dilegal-formalkan, tanpa ragu saya menyeru agar umat Muslim tidak mempercayainya. Ia tidak lebih sebatas spiritualitas semu.

Benar belaka, terutama berkenaan dengan penyebab utama mengapa umat Muslim di Indonesia khususnya masih terbelakang, sebanyak-banyaknya diakibatkan karena praktik tarekat yang dilegal-formalkan. Akhirnya umat Muslim menjadi pemalas, penakut dan fatalnya bermental penjilat. Polemik organisasi tarekat belakangan ini betul-betul pembuktian yang nyata.

Saya jadi ingat dengan maqalah-maqalah sederhana para Kiai saya dulu di Pesantren, bahwa menurut para Kiai saya ini, tarekat santri dan umat Muslim itu bekerja keras, mempelajari ilmu pengetahuan dan ibadah harian. Bukan mengikuti tarekat yang dilegal-formalkan menjadi organisasi yang sarat akan kepentingan.

Termasuk ada pengalaman di wilayah III Cirebon, salah seorang katakanlah Kiai yang dikenal pernah mengasingkan diri dari segala ingar-bingar dunia. Ia tinggalkan keluarga, harta dan segala unsur-unsur dunia. Ia lalu pergi ke tempat-tempat sepi seperti hutan, laut dan tempat-tempat sepi lainnya. Setelah sekian lama tidak muncul, ndilalah sekalinya muncul ia memang banyak dikenal orang. Jamaahnya beragam, mulai dari orang awam, pejabat, pengusaha, intelektual dan lain sebagainya.

Bahkan ritual menyendiri di tempat-tempat sepi yang dulu pernah ia lakoni, lalu digetoktularkan kepada jamaahnya, lalu dijadikan ritual berjamaah. Sejak saat mengetahui perkembangan Kiai ybs seperti demikian, untuk yang ke sekian kalinya, saya sudah tidak percaya lagi dengan tingkah polah tasawuf yang dioorganisir.

Walhasil, polemik organisasi tarekat ini sungguh membuka mata kita semua. Sehingga ke depan, semoga saya dan umumnya umat Muslim dapat mengambil pelajarannya. Aktivitas ibadah, zikir, do’a dan lainnya silakan tetap dilakukan, akan tetapi tidak perlu dilegal-formalkan menjadi organisasi laiknya struktur organisasi dalam partai politik. Wallahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)

Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah, 7 Juli 2025, 18.37 WIB

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *