Tepat hari ini, tanggal 17 Agustus 2022 seluruh masyarakat Indonesia tengah merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-77 tahun. Indonesia telah merdeka selama 77 tahun sejak diproklamirkan kemerdekaan oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno tanggal 17 Agustus 1945. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa walaupun negara Indonesia sudah merdeka selama 77 tahun masih ada yang belum paham dan mengerti dengan baik tentang makna kemerdekaan itu sendiri, apalagi dalam perspektif Al-Qur’an. Hal ini perlu untuk disadari bahwa mengentahui makna kemerdekaan sejak dini itu penting guna memelihara power semangat kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan para pahlawan sesuai dengan perkembangan zaman.
Kemerdekaan atau kata merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) setidaknya memiliki tiga makna yaitu bebas dari penjajahan, bebas dari tuntutan serta tidak terikat atau tergantung kepada pihak manapun. Sedangkan makna yang sama juga dapat diperoleh di dalam kitab suci Al-Quran tentang kemerdekaan yakni segala bentuk kebebasan atau ketundukan kecuali kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Allah Swt melalui firman-Nya tersebut sangat melarang manusia untuk tunduk dan patuh kepada manusia yang lain. Sebagaimana yang firman Allah Swt. berikut ini:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al-Hujarat 49: 13)
Berdasarkan ayat tersebut secara tegas Allah menjelaskan bahwa orang yang paling mulia di antara manusia adalah orang yang paling bertakwa. Jadi, bukan siapa yang paling kaya raya, pintar atau tertinggi jabatannya. Adapun yang mengetahui kadar ketakwaan seseorang hanya Allah Swt. Oleh karena itu, tidak dibenarkan apabila seseorang merasa hina di hadapan orang lain hanya karena orang tersebut memiliki jabatan yang lebih tinggi, hartanya lebih banyak, dan lain sebagainya.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh orang lain tersebut tidaklah bersifat esensial melainkan merupakan sistem dari kehidupan di dunia agar sesama manusia itu saling mengenal, menghormati, dan tolong menolong satu sama lain, baik lali-laki maupun perempuan sebagaimana yang telah Allah sampaikan dalam firman-Nya.
Menjadi seorang laki-laki tidaklah untuk merasa lebih hebat, lebih baik dari pada kaum perempuan, akan tetapi perbedaan yang ada adalah hanya sebatas sarana untuk saling mengenal, mendukung, melengkapi, agar terciptanya keserasain dan daya untuk mewujdkan tujuan serta cita-cita bersama menjadi khalifah di muka bumi ini. Demikian pula halnya dengan perbedaan-perbedaan yang lainnya, bisa jadi hanya sebatas sebuah kelebihan yang harus dianggap menjadi hal wajar.
Selain seseorang itu dilarang menghambakan diri kepada orang lain maksdunya sesama makhluk Allah, larangan menghambakan diri juga Allah sampaikan larangan-Nya untuk menghambakan diri kepada hawa nafsu yang ada di dalam diri setiap manusia sendiri. Hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh Allah pada ayat berikut ini:
أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ٤٣
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,” (Q.S Al-Furqan 25: 43)
Maksud dari ayat tersebut yaitu manusia sebagai makhluk sempurna yang dikaruniai oleh Allah akal untuk dapat berpikir dan hati untuk merasakan itu menjadi tunduk dan patuh kepada keinginan atau hawa nafsu. Angan-angan yang tiba-tiba muncul menjadikannya lalai untuk menuruti semuanya sehingga mereka melangkah jauh tanpa arah dan tujuan yang jelas sehingga kadangkala menabrak apa yang menjadi batasan-batasan yang telah Allah tetapkan.
Wlaupun demikian, Allah tetap memberikan hambanya kesempatan untuk memilih hendak melangkah meneruskan hawa nafsunya atau memilih kembali pada ajaran yang telah Allah tetapkan. Semua petunjuk yang manusia butuhkan tersedia di dalam Al-Qur’an, tergantung dari manusia itu sendiri mau bergerak untuk mengakses Al-Qu’ran itu sendiri atau tidak. Konsekuensinya, apabila tidak berpedoman pada Al-Qur’an maka dapat dipastikan tersesat kearah yang tidak diinginkan, karena Al-Qur’an adalah pedoman petunjuk untuk hidup di dunia. Setiap hamba Allah diberikan kebebasan untuk menentukan hidupnya, kemerdekaan dalam menjalani kehidupan.
Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para utusan Allah, yaitu Nabi dan Rasul. Para utusan Allah tersebut juga menyampaikan pilihan kepada pengikutnya dalam menentukan pilihan untuk beriman kepada Allah setelah mereka berdakwah atau sebaliknya tanpa ada unsur memaksakan kehendak. Keimanan itu pada dasarnya adalah sebuah pilihan yang diambil secara sukareka oleh seseorang. Sukarela tanpa ada unsur paksaan dan merupakan ketundukan kepada sang kuasa inilah yang dinamakan dengan merdeka.
Lalu, bagaimana dengan makna kemerdekaan Indonesia yang sudah memasuki usia 77 tahun ini?. Apakah setiap individu yang tinggal di negara Indonesia sudah merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya?. Misalnya kemerdekaan berpikir, menyatakan pendapat, mengkritik yang seharusnya dikritik atas sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja berjalan di negeri ini?. Sepertinya kemerdekaan ini belumlah didapatkan, masih banyak suara-suara yang seharunya disuarakan justru yang menyuarakan dibungkam dengan berbagai macam cara. Selain itu, masih adanya para pemimpin yang didekte oleh orang lain tanpa berpikir sendiri. Padahal, Al-Qur’an juga sangat tegas mengkritik siapapun yang melakukan perbuatan yang tidak sebagaimana mestinya, mengikuti para pendahulu dan enggan untuk mempelajari ilmu yang baru. Sehingga dampak negatifnya adalah kemerdekaan hanya sebatas ungkapan atau status belaka tanpa ada sebuah makan yang dapat membawa perubahan lebih baik untuk kedepannya.
الله لمُ بالـصـواب





