…..Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji…
Aku awali tulisan ini dengan salah satu lirik lagu dalam buku “Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa 1998”, tulisan Muridan Satrio. Ya, lagu ini berjudul “Darah Juang”. Sebuah lagu wajib yang menjadi pengobar semangat setiap aksi turun jalan yang dilakukan mahasiswa. Disaat masa-masa gelap “pembungkaman” atas ketidakadilan yang dilakukan rezim yang berkuasa, lagu “Darah Juang” menjadi semacam suara bersama yang bergema di hati banyak orang. Ia ada bersama aksi mahasiswa dan aktivis secara besar-besaran maupun diskusi-diskusi kecil, sebagai pembakar semangat pergerakan terhadap penindasan.
Sengaja Aku menulis ini sebagai sebuah komitmen dan idealisme. Sebagai seorang anak manusia yang secara faktisitas dilahirkan di sebuah Rahim Ibu Pertiwi yang bernama Indonesia. Dalam tulisan ini akan Aku ceritakan sebuah keadaan dilematis yang (mungkin) dialami oleh setiap mahasiswa yang mengaku sebagai “Parlemen Jalanan”
Ma, tempo hari Mama pernah berpesan kepadaku lewat sebuah pesan singkat dengan disertai emot masam dan tangisan diakhirannya. “Ayik tesise sampon dikerjakke nopo dereng? Koq mboten nate update status kepanggih kaleh dosen?”
Memang, harus Aku akui bahwa akhir-akhir ini status WA-ku lebih sering dihiasi oleh kritik dan keadaan tidak baik-baik saja Indonesia-ku. Dalam beberapa status, Aku bahkan menyertakan beberapa situs berita online dari beberapa media mainstream yang berani mengorek borok pemimpin negeri ini.
Jujur saja, Aku terperanjat membaca pesan dari Mama. Sejenak, Aku termenung dan mencernanya. Berusaha untuk memahami jalan pikiran Mama. Barangkali, ketidaktahuan yang memantik jemari Mama untuk menulis pesan seperti itu. Karenanya, lewat surat ini, Aku akan menjeskan semuanya. Dan semoga mama berkenan membacanya.
Ma, sebagai Mahasiswa, dan sebagaimana yang Mama ketahui, bahwa Aku telah memantapkan diri sebagai seorang aktivis Mahasiswa. Maka dari itu, sudah seyogyanya Aku harus memiliki skala prioritas dalam hidup. Karena pada dasarnya, kehidupan akan selalu menghadapkan Kita pada pilihan. Dimana pilihan tersebut harus berani Kita ambil dengan segala konskuensinya, termasuk resiko terburuk di dalamnya.
Ma, Aku memilih menjadi seorang “maniak jalanan” bukan tanpa alasan. Karena bagiku, konsekuensi logis dari menjadi seorang Aktivis adalah berdemonstrasi.
Harus Mama ketahui bahwa setiap demonstrasi yang Aku lakukan merupakan salah satu bentuk dari pengejawantahan sebuah keyakinan atas idealisme. Dimana Aku berusaha untuk menunjukkan komitmenku kepada Kaum-kaum mustad’afin. Atau yang sering Mama sebut sebagai masyarakat melarat nun termarginalkan karena belenggu kemiskinan struktural.
Ma, mungkin terdengar aneh, atau bahkan nyeleneh bagi Mama. Disaat teman-teman sebayaku sedang asyik memainkan Game di smartphone mereka. Atau beberapa diantara teman sebayaku yang sedang asyik bermain dengan anak-anaknya, dan acapkali sering membuat Mama memaksaku untuk segera memberikan Cucu. Aku justru memilih jalan yang tak pernah dilirik orang. Bahkan banyak yang mencela.
Mama pernah kan mendengar orang-orang berucap bahwa demonstrasi hanya menciptakan kemacetan saja? Atau orang yang berucap bahwa Mahasiswa itu seharusnya kuliah yang rajin biar cepet lulus, IPK tinggi, dan setelah wisuda langsung diterima di perusahaan elit di Ibukota?
Lucu kan, Ma. Tertawalah, Ma. Barangkali itu bisa mengurangi kadar kedurhakaanku pada Mama. Karena pada dasarnya. tawa dari seorang Mama merupakan kebahagiaan juga bagiku.
Ma, sekali lagi Aku tegaskan. Bahwa ini merupakan sebuah resiko dari jalan yang sudah Aku pilih. Bagiku, menjadi seorang Aktivis merupakan sebuah perjuangan besar.
Ya, Aku, juga teman-teman parlemen jalanan yang lain menyebut ini sebagai perjuangan, karena tujuan yang kami canangkan jelas, yakni untuk merombak sistem represif dan bobrok ini untuk digantikan dengan sebuah sistem baru yang lebih baik. Sebuah sistem demokratis, yang lebih memungkinkan pelaksanaan hak asasi manusia yang hakikiah. Juga lebih memungkinkan untuk mewujudkan keadilan sosial, lebih memberikan kesempatan kepada rakyat banyak untuk menikmati hasil-hasil pembangunan.
Dan aku yakin betul, kita memang harus berjuang, jika kita mengiinginkan hidup ini mempunyai makna.
Ma, Aku akhiri tulisan ini. Nanti akan Aku sambung lagi dengan tulisan-tulisan yang lain. Aku mohon maaf bila dengan hadirnya tulisan ini, Mama akan tersinggung. Karena memang banyak kata-kata yang kurang berkenan. Namun yakinlah, Mama adalah sebaik-baikya tempat berpulang dan muara dari perjuangan ini. Jadi, jangan labeli anakmu ini dengan merk “durhaka” ya, Ma.
~Diadaptasi dari sebuah tulisan yang sempat berseliweran di beberapa Grup WA







