Lemahnya Kesadaran Literasi Orang Indonesia

Mengapa Budaya literasi sangat penting di zaman sekarang? Dan apa makna literasi sebenarnya?

Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemampuan menulis dan membaca. Sedangkan menurut istilah, literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengelola atau memahami informasi dalam menulis dan membaca. Mungkin bagi masyarakat Indonesia, kata literasi sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Karena literasi sudah sangat dikenal dan dianjurkan bagi masyarakat Indonesia untuk menerapkan pembiasan literasi sebelum menelan berita dari luar.

Literasi menurut Alberta “Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi Dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.”

Sedangkan menurut Education Development Center (EDC) ” Literasi tidak hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis. Tetapi literasi adalah kemampuan individu dalam menggunakan potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Literasi mencangkup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.”

Literasi sendiri memiliki banyak variasi, seperti literasi media, literasi perpustakaan, literasi dasar, literasi visual, dan literasi teknologi. Literasi sangat dibutuhkan tetapi masyarakat Indonesia belum sadar akan pentingnya literasi tersebut.

Di Indonesia banyak orang-orang yang dengan gampangnya terprovokasi dengan  berita hoax, mengapa demikian? Karena mayoritas orang Indonesia belum sadar akan pentingnya literasi. Apalagi ketika banyak berita yang bermunculan di media Sosial. Kebanyakan dari mereka belum mengetahui hal yang sebenarnya, tetapi sudah mencela dan memakan berita-berita yang tidak benar. Mayoritas lebih percaya dengan kata-kata orang yang belum pasti kebenarannya ketimbang membaca dan mencari tahu penyebab kebenaran berita tersebut.

UNESCO mengatakan bahwa Indonesia adalah negara urutan kedua dari bawah di dunia dengan kesadaran literasi yang masih sangat memprihatinkan. Perbandingan orang Indonesia yaitu ketika ada 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang suka membaca. Bagaimana dengan 999 orang lainnya?

Kesadaran membaca di Indonesia memang sangat memprihatinkan, khususnya para remaja sekarang, ketika disuruh baca buku padahal baru beberapa menit sudah merasa bosan dan mengantuk. Apalagi ketika diminta untuk membaca buku tentang pengetahuan, mereka pasti lebih memilih tidur ketimbang membaca. Apa lagi Ketika membaca buku diselingi dengan bermain HP, membacanya hanya beberapa menit saja, tetapi hampir setengah waktu untuk bermain HP. Sebenarnya alat teknologi jaman sekarang sangat membantu dan banyak manfaatnya, apalagi sekarang sudah ada buku yang berbentuk E-book lebih simple dan tidak ribet. Tetapi semua Kembali lagi kepada penggunanya. Namun pada kenyataannya orang Indonesia lupa dengan fungsi gadget, mereka malah terbuay dengan dunia maya yang belum pasti kebenarannya dan juga belum bisa memfungsikan gadget sebagaimana mestinya. Jika masalah ini masih saja terus-menerus dilakukan tanpa adanya solusi dan kesadaran kolektif, maka apa yang akan terjadi pada masa depan Bangsa Indonesia di masa mendatang?

Maka dari itu, pemerintah Indonesia harus lebih memperhatikan budaya literasi agar warganya berbudaya literasi dan tidak hanya sekedar memegang teguh budaya “JARENE” Jarang Benere atau lebih percaya dengan perkataan orang lain tanpa adanya bukti. Mungkin itu juga yang menyebabkan Indonesia dicap sebagai netizen yang bar-bar. Dan kita sebagai remaja Indonesia yang berada di zaman teknologi ini harus bisa merubah kebiasan-kebiasan yang tidak baik. Harus bisa lebih berpikir ke depan dan berpikir kritis terhadap semua hal termasuk hal-hal kecil sekalipun.

Dengan diadakannya budaya literasi ini, kita dapat menggenggam dunia. Karena dengan membaca kita bisa mengetahui semua berita yang ada di dunia. Pengetahuan kita juga bisa menjadi luas. Kita bisa menjadi remaja yang berwawasan luas, bukan hanya sekedar remaja yang tong kosong bunyinya nyaring, banyak omong tetapi tidak ada isinya.

Peran pemerintah dalam  membudayakan literasi dirasa perlu, terlebih bagi anak-anak usia dini. Hal ini dikarenakan, anak pada usia dini cenderung mudah untuk dididik dan diarahkan. Peran pemerintah sebagai pelaksana kebijakan diharapkan mampu membantu terbentuknya budaya literasi yang akhirnya akan menghasilkan generasi-generasi yang melek akan pengetahuan dan tidak mudah termakan berita bohong atau hoax. Hal ini juga termasuk upaya bentuk pembiasaan anak-anak dengan budaya literasi dan juga sudah tertanam pada diri sejak kecil. Sangat diharapkan bahwa rencana-renca itu bukan hanya sekedar wacana belaka yang tanpa adanya aksi. Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi. Lebih baik berubah sedikit demi sedikit daripada tidak sama sekali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *