Lebaran merupakan kata yang terkadang digunakan untuk menyebut Hari Raya Idul Fitri khususnya oleh masyarakat Jawa. Memang secara bahasa, lebaran adalah ungkapan yang berasal dari bahasa Jawa yaitu kata lebar dan berakhiran an. 

Lebar berarti telah berakhir dan lebaran berarti berakhir dari. Artinya, lebaran  berarti telah mengakhiri ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan sehingga umat Islam harus mengakhirnya dengan parayaan lebaran (Idul Fitri).

Namun demikian penyebutan lebaran bisa berkonotasi tidak baik manakala dimaknai bar-baran atau bubaran. Maksudnya kegiatan ibadah selama Ramadhan sudah bubar yang ditandai dengan perayaan Idul Fitri.

Selama Ramadhan memang terlihat begitu semarak nuansa ibadah. Banyak kegiatan keagamaan seperti pengajian khusus Ramadhan, tadarus, dan sedekah dengan berbagai ta’jil baik diadakan di Masjid, Mushala hingga perkantoran. Bahkan pembagian ta’jil juga terkadang dilakukan di jalan-jalan. Al-Qur’an juga menjadi bacaan rutin setiap hari selama Ramadhan. Tidak sedikit di Masjid dan Mushala dipancarkan lewat pengeras suara sehihgga terdengar saling bersahutan.

Setelah lebaran, tidak terdengar lagi bacaan al-Quran di masjid dan mushala yang bersahutan. Masjid, Mushala pun kembali ditinggalkan jama’ahnya. Semarak kehidupan beragama pun kembali redup. Semuanya sudah bar-baran atau bubar, ditandai dengan Perayaan Idul Fitri dengan hiruk-pikuknya termasuk pancaran kembang api dan dentuman suarat mercon. Jika demikian faktanya, tampaknya lebaran benar-benar telah bar-baran, telah berakhir semarak Ramadhan. Makan dan minum yang teratur yakni saat berbuka dan makan sahur, kembali menjadi tidak beraturan. Nafsu pun kembalil tidak terkendali. Lebaran dengan konotasi ini tentnya bukan hanya tidak tepat, tapi juga sebagai suatu yang memprihantikan.

Baca Juga  Belajar Hidup Bersih kepada Singapura

Penamaan maupun pemaknaan hari Raya Idul Fitri di masyarakat memang beragam. Ada yang menamai sebagai lebaran seperti di atas. Adapula yang memaknai “kembali suci”. Penerjemahan ini paling banyak dilakukan oleh umat Islam khususnya di Indonesia dengan menganggap kembali ke fithrah (suci) alias tidak punya dosa setelah berpuasa satu bulan lamanya. Bahkan menganggap kembali seperti bayi yang baru lahir, tidak punya dosa. Dosa-dosa yang pernah dilakukan selama satu tahun, terhapuskan dengan puasa dan ibadah-ibadah lain yang dikerjakan di bulan Ramadhan.

Asumsi ini sebenarnya dapat berdampak negatif. Orang merasa puas dengan ibadah yang telah dikerjakan selama Ramadhan, merasa tidak punya dosa lagi. Seandainya melakukan dosa-dosa lagi seperti korupsi, menipu, menyuap, dan sebagainya, tidak ada beban, sebab nanti akan terhapus lagi dengan hadirnya “Idul Fitri”, yaitu kembali suci dari dosa.

Adapula sebagian masyarakat yang memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Banyak acara khususnya di TV diadakan dengan tema ”Merayakan Hari Kemenangan”. Terkadang pembawa acara dengan semangatnya mengatakan ”Mari kita rayakan hari kemenangan”, meskipun belum tentu pembawa acara tersebut menjalankan puasa.

Asumsi pemaknaan Idul Fitri sebagai ”Hari Kemenangan” juga berdampak negatif. Orang merasa telah menang melawan hawa nafsu. Padahal sulit sekali seseorang untuk menang melawan hawa nafsu yang merupakan rayuan setan. Apabila yang dimaksud menang melawan hawa nafsu selama puasa, dari nafsu makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan puasa, agak relevan. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak puasa yang juga ikut merayakan Hari Raya Idul Fitri?

Baca Juga  Zakat dan Potensi Pemberdayaan Ekonomi Umat

Apabila merujuk pada sumber primer ajaran agama Islam; al-Qur’an dan hadits, tidak ada rujukan yang mengajarkan seorang Muslim merasa suci. Sebaliknya, orang yang merasa berdosa itulah yang baik. Islam mengajarkan; yang paling baik adalah mereka yang selalu mengingat kesalahannya. Sedang yang paling buruk adalah mereka yang melupakan kesalahannya. Pemaknaan hari raya Idul Fitri dengan ”kembali suci” dan/atau ”hari kemenangan” justru dapat mempengaruhi perilaku manusia, hingga ia meraka suci dan menang melawan setan.

Makna sebenarnya dari Idul Fitri dapat merujuk pada sebuah hadits shahih yang menyebutkan: “al-Fithr yauma yufthiru al-nas wa al-adha yauma yudahi al-nas (Disebut Idul Fitri karena pada hari itu orang-orang makan, dan disebut Idul Adha karena pada hari itu orang-orang mengorbankan binatang ternak”). (H.R. al-Turmudzi).

Menurut hadits tersebut, hari raya Idul Fitri adalah hari raya manusia diharuskan makan atau “kembali makan”, sehingga diharamkan berpuasa. Makan merupakan kebutuhan primber sehingga wajib. Sebab, manakala manusia tidak makan dapat membahayakan kehidupannya.

Ketika umat Islam tidak makan dengan berpuasa, ia sedang menjalankan perintah Allah Swt. dengan penuh ketaatan, sehingga bernilai ibadah. Sebaliknya, ketika manusia makan alias tidak berpuasa, dan ia menjalankannya juga karena menaati perintah Allah Swt. dalam rangka memenuhi kebutuhan primer, maka makan juga sebagai ibadah. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam justru diharamkan berpuasa, dan harus makan.

Secara etimologi, kata fithri dalam Idul Fitri dengan merujuk pada hadits di atas, adalah bermakna futhur diambil dari kata al-fithr yang artinya makan atau berbuka. Kata fithri bukan diambil diambil dari kata al-fithrah yang berarti kesucian atau sifat-sifat manusia ketika diciptakan pertama kali.

Baca Juga  Manusia; Makhluk Bodoh dan Penegakan Amanah

Pemaknaan Idul Fitri dengan merujuk hadits Nabi sebagai “hari diharuskan makan atau hari raya makan” juga sejalan dengan kewajiban zakat fitrah yang biasa dikeluarkan malam Idul Fitri. Zakat fitrah merupakan zakat yang bernilai konsumtif berupa makanan pokok yang diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan agar mereka di hari Idul Fitri tidak ada yang kekurangan makan, apalagi sampai tidak memiliki makanan. Sebab, di hari raya Idul Fitri diharuskan makan karena haram menjalankan puasa. Wallahu ’alamu bi al-shawab.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Memaknai Silaturahim sebagai Pembuka Pintu Rezeki

Previous article

Idul Fitri di Masa Pandemi Tetap Harus Bersilaturahim

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan