Salah satu solusi untuk melapangkan rezeki yaitu dengan menjalin silaturahim kepada kerabat dekat maupun jauh. Hubungan yang terancam putus, bisa dirajut kembali dengan silaturahim. Di dalam surah an-Nisa ayat 1 jelas adanya perintah untuk menjalin silaturahim(al-arham). Sebab, ibadah yang satu ini meskipun mudah, namun termasuk ibadah yang agung dan penuh keberkahan. Rasa cinta sesama manusia dan interaksi sosial yang terkandung di dalam silaturahim menunjukkan murninya akhlak.

Untuk itu, sebagai umat Islam, agar tidak melupakan silaturahim—tidak ada lagi alasan meninggalkannya. Tak perlu khawatir dengan jarak yang jauh, zaman sudah berkembang. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada saat ini, kita tetap bisa melakukannya. Kecanggihan alat komunikasi dan transportasi mesti dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai alat yang memudahkan manusia.

Banyak sekali dalil di dalam al-Qur’an yang berisi perintah silaturahim, bahkan ada laknat dan azab dari Allah bagi mereka yang berbuat kerusakan dan memutuskan silaturahim(dalam tafsir al-Muyassar). Termaktub dalam surah Muhammad ayat 23: ”Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”

Silaturahim. Bukan sebatas kumpul-kumpul keluarga dan salam-salaman, namun lebih dari itu. Ketika kita mengaitkannya ke dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, silaturahim adalah sebagai sarana meningkatkan persatuan dan ukhuwah antar ormas ataupun kelompok lainnya.

Silaturahim merupakan tanda keimanan seseorang, berarti ia taat kepada Tuhan Sang Pencipta. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung silaturahim,” (Muttafaq ‘alaih).

Baca Juga  Memaknai Idul Fitri dan Silaturrahmi

Silaturahim juga merupakan salah satu penyebab orang masuk surga. Maka, sebisa mungkin untuk menghindari dari hal-hal yang dapat memutus silaturahim. Rasul pernah berkata “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim” al-Bukhari (no. 5984) dan Muslim (no. 2556). Adanya Hadits tersebut cukup mengetuk hati betapa manfaat yang terkandung di dalamnya dan memutuskan silaturahim termasuk perbuatan yang diharamkan.

Bagaimana dengan silaturahim dan rezeki? Apakah benar memiliki hubungan? Ya, tentu saja. Keduanya memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipungkiri. Mengingat, ekonomi yang masih saja menjadi masalah yang menghantui, dan tidak ada harapan lain selain menyelesaikannya. Dengan silaturahim, atau menyambung kembali tali yang sebelumnya putus, in Sya’a Allah solusi akan diperoleh. Sebab, melalui perantara manusia lah Allah menurunkan dan membuka pintu rezekinya. Dan ini berlaku ketika kita tidak hanya diam di rumah, namun keluar mencari rezeki.

Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, manusia tentu tidak bisa hidup sendiri. Butuh orang lain untuk membantunya. Hubungan vertikal(kepada Allah) memang penting, namun hubungan horizontal(kepada manusia) jangan dilupakan. Keduanya harus seimbang, tidak meninggalkan salah satunya. Sehingga, doa yang seringkali kita ucapkan yakni memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan dikabulkan. Aamiin.

Pentingnya silaturahim dalam upaya senantiasa menjaga hubungan baik terhadap sesama. Sehingga akan lahir keterikatan atas rasa saling percaya yang dibangun. Dan memang, karena suatu waktu akan saling membutuhkan satu sama lain. Rezeki akan mengikuti bagi siapa saja yang menjemput dan mengusahakannya. Diantara cara untuk mudah mendapatkannya ialah dengan memperlebar jaringan, sebab akan berpengaruh terhadap mudah dan lapangnya rezeki seseorang.

Baca Juga  Perhatikan! Beberapa Dosa Kecil ini Bisa Jadi Dosa Besar

Maka dari itu, jadikan momen puasa sebagai ajang kita untuk bersilaturahim. Merekatkan hubungan persaudaraan hingga nanti tiba hari kemenangan. Tidak hanya di bulan ini, namun seterusnya silaturahim semoga tetap terjaga. Silaturahim harus dimaknai secara mendalam dan agar menjadikan hubungan semakin erat. Diantaranya ialah dengan berupaya saling tolong-menolong dalam ekonomi dan sosial. Dan yang terpenting ketika memaknai silaturahim sebagai upaya kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Di dalam sebuah hadits (Sahih al-Bukhari: 5527) diterangkan bahwa silaturahim dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Dengan begitu, perlahan permasalahan ekonomi akan teratasi.

Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti Muda di Pon Pes Dar al-Qolam Semarang.

    Kapan Idulfitri 1442 H?

    Previous article

    Lebaran Bukan Bar-baran

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Kajian