Oleh: Intan Amelia, Peserta LKK HMI Cabang Bogor asal Cabang Tasikmalaya
Bagi Generasi Z, bertani seringkali bukan pilihan karir yang menarik. Pandangan umum bahwa pekerjaan petani adalah profesi yang melelahkan, kurang dihargai, dan tidak relevan dengan gaya hidup modern membuat banyak Gen Z enggan menekuni sektor ini. Generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini tumbuh bersama teknologi digital dan internet, sehingga mereka cenderung lebih tertarik pada profesi yang berhubungan dengan teknologi dan inovasi.
Survei Jakpat pada 2022 menunjukkan hanya 6 dari 100 Gen Z (usia 15–26 tahun) yang tertarik menjadi petani. Sementara itu, hasil penelitian CNBC di Indonesia menyebutkan beberapa alasan utama rendahnya minat ini, antara lain:
- Tidak Ada Pengembangan Karier (36,3%)
- Pekerjaan Penuh Risiko (33,3%)
- Pendapatan Rendah (20%)
- Kurangnya Penghargaan Sosial (14,8%)
- Tidak Menjanjikan (12,6%)
Sebaliknya, banyak Gen Z lebih memilih profesi di bidang pendidikan (15,8%), teknologi informasi (13%), kesehatan (11,5%), seni kreatif (10%), dan pertambangan (7,1%).
Meski pertanian dianggap “tidak menarik,” sebenarnya sektor ini memiliki potensi besar jika digarap dengan teknologi modern. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, India, dan China, pertanian menjadi sektor strategis yang menghasilkan berbagai komoditas unggulan. Indonesia, dengan lahan yang jauh lebih subur, seharusnya mampu bersaing dan memanfaatkan peluang ini.
Salah satu solusi untuk menarik minat Gen Z adalah memperkenalkan konsep pertanian berbasis teknologi. Smart farming, penggunaan drone, analitik data, hingga aplikasi pertanian digital dapat menjadikan sektor ini lebih relevan dengan dunia digital yang mereka kenal.
Pembentukan komunitas petani Gen Z bisa menjadi langkah strategis untuk menghubungkan generasi muda dengan dunia pertanian. Komunitas ini dapat berfungsi sebagai:
1. Pusat Edukasi
Mengedukasi anggota tentang potensi pertanian modern, seperti urban farming, hidroponik, dan pertanian berkelanjutan.
2. Sarana Kolaborasi
Mendorong kerja sama dengan sektor pendidikan, pemerintah, dan startup agritech untuk menciptakan peluang inovasi di bidang pertanian.
3. Promotor Kesadaran Sosial
Mengubah stigma bahwa bertani adalah pekerjaan yang melelahkan dan kurang bergengsi menjadi profesi yang menjanjikan, modern, dan berdampak besar bagi keberlanjutan pangan.
Industri saat ini tengah mengurangi jumlah tenaga kerja, sehingga regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian menjadi sangat mendesak. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, generasi muda harus dipersiapkan sejak dini untuk memahami bahwa bertani tidak hanya sekadar profesi, tetapi juga kontribusi nyata bagi ketahanan pangan bangsa.
Melalui komunitas petani Gen Z, kita dapat menginspirasi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor yang tidak kalah bergengsi dibandingkan industri lainnya. Dengan kolaborasi, edukasi, dan inovasi, bukan tidak mungkin Gen Z menjadi motor penggerak revolusi pertanian di Indonesia.







