Berbicara peran dan fungsi sosok perempuan dalam kehidupan di Indonesia tidak lepas dari sosok Kartini. Sosok perempuan yang memperjuangkan hak kaum hawa di tengah jeratan budaya patriarki. Tentunya, hal itu tidak semudah membolak-balikan telapak tangan. Perlu adanya harta, jiwa dan raga yang dikorbankan untuk melepaskan perempuan dari keterbelakangan. Semua itu dilakukan hanya untuk membangun nasib bangsa Indonesia agar bisa lepas dari lingkaran penjajahan.
Perjuangan sosok Kartini sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita di tanah jawa sampai sekarang akan terus terkenang dalam sejarah Indonesia. Walaupun, sebenarnya sosok Kartini bukanlah satu-satunya wanita yang berjuang untuk kemajuan perempuan. Tentunya, kita mengenal Cut Nyak Dien dan Cut Meuthia dari Aceh, Dewi Sartika dari Jawa Barat, dan Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara. Mereka itulah sebagian perempuan hebat yang tumbuh di bumi pertiwi ini.
Mendekonstruksi budaya di masyarakat bukanlah hal yang mudah. Budaya patriarki yang melekat pada masyarakat Jawa saat itu, membuat Kartini harus berfikir keras untuk membebaskan kaum perempuan dari keterbelakangan. Pasalnya, pandangan masyarakat menganggap perempuan tidak perlu mengejar pendidikan tinggi. Karena posisi perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga yang tugasnya hanya kasur, sumur, dan dapur.
Melihat kenyataan pahit tersebut Kartini tidak lantas diam dan berpaku pasrah pada takdir untuk mengikuti arus air. Jika hal ini dibiarkan, maka bagaimana nasib masa depan perempuan bangsa ini ?. Mustahil, bangsa Indonesia akan melahirkan generasi-generasi hebat kalau perempuannya saja bodoh dan tidak berpendidikan. Lalu, kita tidak akan melihat sampai sekarang perempuan menjadi presiden, guru, dosen, bahkan menteri. Inilah perjuangan sosok Kartini yang ssmpai sekarang bisa diraskan oleh perempuan bangsa Indonesia saat ini.
Kini hampir 116 tahun yang lalu sosok Kartini telah menggoreskan kenangan terindah dalam catatan sejarah bangsa Indonesia. Lantas, apakah perjuangan sosok Kartini sudah terhenti? Menjawab percikan pertanyan tersebut dirasa belum saatnya Kartini berhenti melakukan perjuangan mencerdaskan perempuan. Bangsa ini masih perlu sosok Kartini untuk membawa perubahan bangsa ini. Berbagai problematika bangsa ini tidak mungkin hanya diselesaikan laki-laki sebatangkara. Karena Tuhan, telah menciptakan kehidupan ini terdiri sepasang laki-laki dan perempuan. Tujuanya. Untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lainnya.
Kohati dan Sosok Kartini
Kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi kaharusan bagi suatu bangsa, agar selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan perkembangan zaman. Peran perempuan mengambil andil besar untuk mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Sosok Kartini pada saat ini, akan sangat dibutuhkan untuk memenuhi berbagai sektor ideal ditataran pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk membentuk sebuah wadah untuk bisa menghasilkan Kartini masa depan.
Jika, dulu Kartini melakukan perjuangan untuk mendekonstruksi budaya patriarki, kini itu semua sudah selesai. Saatnya Kartini sekarang mengisi berbagai sektor ideal yang ada. Maka, perlu adanya pembekalan perempuan untuk bisa merekontruksi paradigma. Sehingga, akan melahirkan sosok Kartini masa depan bangsa Indonesia.
Korp-HMI-wati (Kohati) menjadi wadah yang ideal bagi perempuan untuk berproses selama menjadi mahasiswa. Kohati sebagai lembaga yang dinaungi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki kontribusi besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Terlihat output pasca berproses di Kohati dapat terjun diberbagai sektor, sebutlah Nursyi Arsyirawati sebagai pengusaha sukses, Reni Merlinawati sebagai dosen. Mereka merupakan sebagian perempuan yang berproses di Kohati yang berkontribusi besar dalam tatanan roda bangsa Indonesia.
Berdiri pada 17 September 1966 M dengan latar belakang untuk memberikan wadah bagi perempuan yang berproses di HMI, untuk menyelesaikan problem keperempuanan yang merupakan bagian dari umat. Dengan tujuan terbinanya muslimah berkualitas insan cita mempunyai arah yang visioner untuk meningkatkan kualitas dan perannya sebagai perempuan. Dalam, hal ini Kohati menjadi wadah pendidikan dan pelatihan bagi perempuan muslimah untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi. Melalui landasan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan diharapkan bisa menghasilkan bisa menghasilkan Kartini masa depan.
Kohati dan Kartini memiki peran yang erat kaitannya untuk meningkatkan kualitas perempuan. Maka, tepat jika kohati menjadi pendidikan kawah candradimuka bagi perempuan untuk ditempa, dididik, dan dibentuk untuk menghasilkan sosok Kartini masa depan yang tangguh. Maka, tidak lagi mengenal ungkapan bahwa perempuan tuganya hanya kasur, sumur, dan dapur. Dengan demikian, harapanya perempuan-perempuan di Indonesia bisa cerdas untuk membangun generasi khairu ummah dan harapan bangsa. Wallahu A’lamu Bi Al-Shawab.
Oleh : Ahmad Romadhon Abdillah, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FITK Korkom Walisongo Cabang Semarang.







