Ketika Anak Menjadi Korban Broken Home, Siapa yang Harus disalahkan?

Ketika mendengar kata broken home, mungkin di telinga kita sudah tidak terasa asing lagi. Karena akhir-akhir ini banyak kasus yang menyebabkan anak menjadi korban, salah satunya yaitu kasus broken home ini. Arti dari broken home sendiri merupakan istilah dari suatu keadaan keluarga yang tidak harmonis sehingga akan menimbulkan perpecahan di dalam keluarga tersebut.

Banyak faktor yang menyebabkan tidak utuhnya keharmonisan keluarga tersebut. Kebanyakan masalahnya yaitu mengenai ekonomi, kurangnya waktu untuk kumpul keluarga, kurangnya edukasi orang tua, bahkan kurangnya persiapan yang matang sebelum menikah. Dapat kita simpulkan bahwa persiapan orang tua sebelum menikah itu sangat berpengaruh untuk masa depan anak. Karena ketika keluarga tidak harmonis dampak yang timbul dari kasus tersebut yaitu rusaknya psikis seorang anak.

Orang tua harus perhatian terhadap tumbuh kembang anak, pada dasarnya yang dibutuhkan seorang anak yaitu kehangatan di dalam keluarga. Karena keluarga merupakan tempat untuk pulang dan berbagi semua keluh kesah yang telah ia alami. Coba kita bayangkan ketika rumah yang harusnya memberikan kehangatan untuk diri kita tetapi rumah itu tidak ada rasa kehangatan sama sekali, lalu kita akan pulang ke mana? Kita tidak bisa memilih dari orang tua mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa memilih untuk hidup di dalam keutuhan atau perpecahan.

Ketika anak tumbuh di dalam keluarga yang tidak harmonis mereka akan kehilangan kasih sayang, yang pada hakekatnya itu adalah sebuah kebutuhan. Jika sebuah keluarga tidak harmonis banyak dampak negative yang akan mengelilingi buah hatinya. Ada beberapa dampak dari anak broken home yaitu:

  1. Masalah emosional

Berdasarkan penelitian World Psychiatry, perpisahan orang tua berisiko mengganggu kesehatan mental anak. Broken home dapat memicu depresi dan rasa cemas serta rentan mengalami masalah tidak seimbangnya keadaan emosional jangka panjang.

  1. Masalah pendidikan

Broken home dapat memicu prestasi akademik anak akan menurun. Banyak anak yang sedang berada di posisi tersebut mereka akan mencari perhatian orang tuanya dengan cara bolos sekolah, bikin ulah, ataupun hal-hal lainnya. Dan terkadang orang tua banyak yang tidak memahami situasi tersebut, Tindakan yang mereka lalukan tidak sesuai dengan ekspetasi yang anak bayangkan. Mereka hanya membutuhkan kasih sayang orang tua, tetapi sebaliknya orang tua malah akan memerahi mereka.

  1. Perubahan peran anak

Perpisahan orang tua yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang anak mereka akan mengalami schok serta akan mengalami perubahan peran saat usia remaja. Ketika orang tua mereka berpisah mau tak mau mereka harus bisa mengurus apapun dengan mandiri. Apalagi seorang anak pertama yang memiliki adik. Dia akan menggantikan peran kedua orang tuanya. Padahal dia juga masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tuanya. American Association menerbitkan penelitian bahwa efek perceraian tidak hanya anak rasakan saat ini saja. Tetapi efek ini bisa bertahan lama dalam jangka waktu yang panjang, sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan. Hal tersebutlah yang menimbulkan banyak anak-anak yang mengalami broken home mereka memilih tidak untuk berumah tangga. Sampai ada yang emang membutuhkan bantuan psikologis untuk membantu mengontrol emosinya sendiri.

Di dalam Al-Quran Surat Al-Furqon ayat 74:

وَٱلَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰ⁠جِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا

Artinya:

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang beetaqwa.”

(QS. Al-Furqon [25]: 74)

Tafsir dari ayat di atas yaitu ketika ada seseorang yang memohon kepada Allah untuk di berikan itu semua, mereka yaitu orang-orang yang akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi dalam surga, yang penuh dengan segala kenikmatan lahir maupun batin atas kesabaran mereka dalam melaksanakan semua perintah Allah. Hal tersebut mencerminkan bahwa seorang kepala keluarga harus bisa menjaga keluarganya untuk menjadi utuh dan memiliki keharmonisan samapi ajal menjemput.

Bagi semua orang tua harus bisa mengurus anaknya dengan baik. Karena anak merupakan asset mereka ketika mereka sudah berada di alam kubur. Anak juga termasuk asset negara untuk memajukan bangs akita. Maka dari itu kita sebagai calon orang tua di masa depan harus dipersiapkan dengan matang agar mencetak generasi yang unggul. Jangan sampai kita belum mempersiapkan menjadi orang tua, tetapi kita sudah memiliki anak. Karena hal tersebut akan menimbulkan hal-hal yang merugikan pada banyak hal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *