Sosok perempuan yang menjadi salah satu pelopor pergerakan perempuan pribumi adalah Kartini. Ia merupakan anak perempuan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Sejak usia 12 tahun, ia mulai berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Kala itu, ia sangat tertarik dengan kemajuan wanita-wanita di Eropa sehingga muncul keinginan dalam dirinya untuk mengejar cita-citanya dengan bersekolah. Namun, keinganannya itu direspon kurang baik oleh keluarganya.
Kartini menyadari betul atas ketertinggalan perempuan pribumi bila dibandingkan dengan perempuan Eropa. Ia sangat merasakan hal ini, ia yang menjadi anak seorang bupati saja hanya diperbolehkan sekolah sampai jenjang sekolah dasar. Apalagi, anak-anak perempuan dari keluarga biasa yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan. Kartini merasa sedih melihat keadaan yang demikian.
Kartini memiliki niat untuk memajukan perempuan pribumi. Menurutnya, langkah yang bisa dicapai untuk mewujudkan niatnya adalah melalui pendidikan. Kartini berinovasi mendirikan sekolah perempuan di Jepara sebagai usaha untuk merealisasikan niat dan cita-citanya. Ia mendirikan sekolah gratis dan perempuan-perempuan di sana diberikan pelajaran-pelajaran dasar bagi perempuan, yaitu menjahit, menyulam, dan memasak.
Sejarah telah mencatat bahwa Kartini telah berhasil menjadi pahlawan kaum hawa di bumi pertiwi. Namanya harum dan dikenal oleh masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Meski Kartini bukan seorang artis, dia memiliki peran layaknya seorang artis. Setiap April, terkhusus tanggal 21 ia selalu menjadi trending topic. Bahkan kisah-kisahnya ditampilkan berulang-ulang tiap tahun melalui berbagai media hingga mulut ke mulut. Sehingga ia selalu dikenal oleh setiap generasi.
Khalayak masyarakat pribumi perempuan banyak yang mengagumi perannya. Bukan hanya perempuan, bahkan kaum lawan jenis pun ikut terinspirasi oleh semangat kisah perjuangannya. Kesadaran akan kesataraan pentingnya peran perempuan telah ditanamkan kartini. Sebab, perjuangan yang dilakukannya, kini perempuan-perempuan bisa memiliki kebebasan dan hak-hak yang sama dengan laki-laki.
Sebelum adanya pergerakan oleh Kartini, perempuan selalu dipandang rendah. Peran perempuan hanya di rumah. Idealnya, tugas seorang perempuan tidak hanya pakem dengan pekerjaan rumah, tapi perempuan juga berhak menempuh pendidikan yang layak. Mengapa demikian? Karena, seorang perempuan nantinya akan menjadi seorang ibu sehingga memiliki peran penting terhadap anaknya. Terutama di bidang pendidikan, ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya. Jika seorang ibu kurang cukup bekal pendidikan, maka bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anaknya dengan pendidikan yang cukup. Padahal majunya suatu bangsa itu ditentukan oleh generasi muda bangsa tersebut. Mutu kualitas pendidikan generasi bangsa perlu diperhatikan demi membangun peradaban dan memajukan bangsa.
Usaha perjuangan yang dilakukan oleh Kartini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kebangkitan bangsa ini. Kartini telah berhasil mewujudkan mimpi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan terbebas dari belenggu budaya patriarki. Sekarang, hasilnya bisa kita nikmati. Perempuan bisa bebas keluar masuk rumah untuk bersekolah dan bekerja. Kita sebagai perempuan generasi penerus harus melek dan sadar dari keterkungkungan dan pembatasan hak-hak perempuan. Perempuan harus bangkit dari ketertindasan pola pikir. Oleh karena itu, kita harus memiliki kecerdasan untuk mewujukan kesetaraan. Mari kita refleksikan perjuangan Kartini. Wallahua’lam bi al-shawwab.
Oleh: Uswatun Khasanah, Kader HMI Komisariat Iqbal, Korkom UIN Walisongo Semarang







