“Mak, saya mau kekamar mandi,” Juminten memberitahu Sumirah.
Sumirah menjawab“Butuh bantuan tidak, Nduk? Kalau butuh, saya panggilkan Jayadi,” Juminten menolak tawaran mertuanya.
Belum lama kekamar mandi tiba-tiba “Mak………Mak………Mak Sumirah tolongin saya!” teriak Juminten.
Sumirah yang berada di kamar Juminten tunggang langgang menuju kamar mandi sambil berkata “Ada apa, nduk?”
“Tolong panggilin Mas Jayadi, Mak!” Pinta Juminten kepada Sumirah.
“Le…….. Jayadi………………di…… Jayadi, ayo tolongin istrimu!” Sumirah meminta tolong kepada Jayadi yang sedang membereskan peralatan di bengkelnya sendiri.
Jayadi segera menuju kamar mandi sembari bertanya kepada Sumirah tentang apa yang terjadi. Namun Sumirah menolaknya dan lebih meminta Jayadi untuk segera menuju kamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi “Praakkkkk” (suara pintu kamar mandi yang di dobrak Jayadi setelah bertanya kepada Istrinya).
“Mas, air ketuban saya sudah pecah, ayo bantu saya kekamar kita” kata Juminten.
Sumirah, Suminten (Mbkyu Jayadi), dan Jayadi saling bantu membantu mengangkat Juminten kekamarnya.
Tanpa diminta Sumirah, Jayadi pergi untuk memanggil bidan terdekat yang ada di desanya. Sebab, ketika melahirkan tidak boleh menggunakan dukun bersalin. Dua puluh menit kemudian sang bidan datang dan segera memberikan pertolongan.
Keluarga dan tetangga diminta untuk menunggu di luar kamar. Ketika moment ini, Sumirah meminta salah satu tetangga untuk memberi kabar kepada orang tua Juminten.
“Ayo Bu. Tarik napas kemudian hempoaskan,” kata Bu Bidan.
“heeeeeeeeeeeeeeem…..huuuuuuuuuuuuuuuuuuuh…………..heeeeeeeeeeeem……….huuuuuuuh.”juminten menarik napas kemudian menghempaskannya.
“terus Bu, ayo dorong lagi,” perintah Bu Bidan.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………..sakiiiiit, ” teriak Juminten.
Bayi Juminten lahir bertepatan dengan datangnya Paiman dan Sundari (orang tua Juminten). Suasanana tegang pada malam hari itu cair seketika. Adzan sesegera mungkin di kumandangkan Jayadi di telinga sang bayi.
Setelah selesai Adzan, bidan bilang kepada Jayadi bahwa ternyata masih ada bayi di dalam perut Juminten Setelah diperiksa kembali. Jayadi memutuskan untuk menemani istrinya untuk melakukan persalinan ke dua.
Senang bercampur bingung dialami oleh Jayadi, keluarga, dan tetangga. Karena Juminten tidak pernah bilang kepada mereka bahwa anaknya ada dua. Seperti kelahiran bayi yang pertama, Jayadi juga mengumandangkan adzan di telinga bayi kedua. Ketika selesai adzan, Jayadi segera membawa dua anaknya menuju puskesmas terdekat atas permintaan bidan.
Mentari menampakkan diri menyinari dunia. Burung-burung berkicau merdu diatas pepohonan. Juminten sudah siap pergi ke Puskesmas untuk mendapat perawatan bekas kelahiran dan penanganan sakit cacarnya.
Setelah Jayadi menengok istrinya, dia pergi ke Rumah sakit besar terdekat untuk mengantar bayi pertamanya supaya mendapatkan pertolongan yang maksimal. Sebab peralatan di Puskesmas belum ada dan belum memadai seperti inkubator. Kemudian menuju kerumahnya untuk memakamkan bayi kedua.
Paras bayi kedua Jayadi cantik. Anggota badan dan bibirnya mungil. Kulitnya bersih seperti kulit Ibunya. Hidungnya mancung seperti Ayahnya. Klenting Kuning begitulah Jayadi memberikan nama untuknya.
Selayaknya orang yang meninggal biasanya. Klenting Kuning dimakamkan di pemakaman terdekat yang ada di Desa Jayadi. Lebih tepatnya di sebelah makam Ayah Jayadi. Namun yang membedakan dengan orang mati biasanya adalah tidak memakai keranda dan dikuburkan oleh beberapa kerabat ataupun tetangga dekat.
Satu minggu sudah berlalu, Juminten sudah boleh pulang ke Rumah dan Jayadi masih bolak balik menemani bayi pertama di Rumah sakit setelah pekerjaannya selesai. Lelah dan letih tidak pernah ditunjukkan Jayadi kepada keluarga ataupun istrinya. Sebab menurutnya, ini adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Hari ke sepuluh, Juminten harus pergi ke Rumah sakit dan harus tinggal disana sampai anaknya keluar dari inkubator. Di Rumah sakit, Juminten diajari berbagai macam cara merawat bayi lang lahir prematut. Seperti cara memandikan dan memberikan asi kepada bayi.
Satu bulan sepuluh hari, akhirnya mereka pulang kerumah. Semua perlengkapan yang dibutuhkan bayi sudah disiapkan. Setiap hari tetangga memberikan ucapan selamat kepada Juminten dan Jayadi ketika menjenguk anak mereka.
Aji adalah nama untuk bayi Juminten dan Jayadi. Nama ini diambil dengan harapan bahwa bayi mereka akan dapat menjadi orang yang berharga bagi diri sendiri, orang lain, agama, bangsa , dan negara. Setiap hari Aji di jemur agar lebih sehat. Tangan dan kakinya yang mungil selalu meronta kuat ketika busananya di lepas meskipun kecil seperti burung dara.
Satu tahun akhirnya terlewati, Aji sudah bisa berjalan. namun belum bisa bicara. Tepat ketika pembagian sembako dan uang oleh Pemerintah Indonesia pada Rezim Preseiden Jokowi, Aji mengalami sakit mata. Cairan hijau pekat selalu keluar dan menutupi mata Aji.
Semula orang tuanya menganggap hal ini biasa. Mereka sadar bahwa ini bukan biasa ketika sudah satu bulan Aji sakit. Mereka membawa Aji untuk berobat ke beberapa dokter mata. Namun sebagian dokter bilang bahwa mereka harus menunggu Aji sampai besar dan bisa bicara agar tahu keadaan yang dialami. Kemudian yang sebagian lainnya berkata bahwa mata Aji bisa dioperasi ketika Aji sudah besar.
Usaha lain yang dilakukan Juminten dan Jayadi adalah membawa Aji ke beberapa orang pintar (Kyiayi). Sebagian orang pintar ada yang memberi suruh dan air dan ada juga yang memberi batu untuk dimasukkan ke air dan di beri doa.
Langkah selanjutnya harus diminumkan dan dioleskan ke mata Aji. Namun semua itu sia-sia dan tidak berbuah manis. Hingga keduanya memutuskan untuk menunggu Aji sampai besar dan bisa bicara.
Empat tahun telah berlalu, Aji belum kunjung bisa berbicara juga dan yang paling menyakitkan keduanya adalah Aji berjalan dengan cara meraba. Itu adalah satu pertanda bahwa Aji tidak bisa melihat. Mungkin sampai kapanpun Aji tetap tidak akan bisa melihat dunia.
Tidak menyerah sebagai orang tua yang menginginkan anaknya bisa melihat dan memiliki dunia, Juminten dan Jayadi menghubungi beberapa Ustadz yang ada di desanya agar mau mengajar ngaji kepada putra no ke dua. Bahkan mereka mengirimkan anak-anak muda ke pesantren yang ada di Luar kota untuk menjadi hafidz dan hafidzah yang nantinya akan mengajar Aji.
Oleh : Lia Puji Lestari







