Oleh: Keysaralituhayu, Santri-Murid Kecil (Sancil) Planet Nufo Rembang
Malam yang indah.
Aku berjalan di tengah keramaian, berusaha menjauhi indahnya bulan sabit. Berusaha menentang takdir.
Namaku Anujara de Arjuna, seorang gadis SMP yang gemar akan banyak hal—termasuk berkelana.
Pagi itu mendung. Seakan langit sedang malas menatap bumi yang biasa disinari matahari. Anujara berjalan menuju sekolah dengan wajah kesal. Bukan karena mendung, tapi karena hari ini adalah tahun ajaran baru.
Sekolah terasa seperti pasar. Murid-murid berdesakan di lapangan, bagai lautan manusia. Hari yang melelahkan bagi Anujara, tapi ia berusaha bersikap normal.
Anujara masuk ke kelas 1 SPA 2. Saat memasuki kelas, ia sempat melihat sebuah bayangan besar dari luar jendela. Bayangan itu terasa aneh, karena kelas Anujara berada di lantai dua. Walau hanya sekelebat, Anujara paham apa maksud kedatangan bayangan tersebut.
Tak lama, guru mata pelajaran pertama masuk.
“Oke, anak-anak. Berhubung ini tahun ajaran baru, mari kita mulai dengan perkenalan,” ucap guru itu dengan wajah malas.
Satu per satu murid memperkenalkan diri hingga giliran Anujara.
“Saya Anujara de Arjuna, berasal dari Rembang. Mohon bimbingannya.”
Guru hanya mengangguk, lalu keluar begitu saja tanpa menyebutkan namanya.
### 14:30
Siang, di hari yang sama.
Anujara terbangun dari tidur siangnya. Ia mengumpulkan tenaga, lalu berusaha bangkit dari ranjang. Setelah berjalan menuju dapur, ia mengambil segelas air putih dan meneguknya perlahan.
Setelah gelas kosong, Anujara berdiri termenung di dapur.
Langit masih mendung. Rerintik hujan membuat perasaan Anujara semakin tak menentu.
“Ketika aku mati nanti… kau akan tersenyum, kan?” bisiknya lirih.
Seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak tampak.
—
Malam kembali datang.
Aku berjalan di tengah keramaian.
Berusaha melupakan indahnya bulan sabit.
Berusaha menentang takdir.
Sambil melewati ibu kota, aku berjalan dalam diam. Perjalanan membawaku menuju sebuah hutan yang jauh dari hiruk pikuk. Hutan itu dipenuhi pepohonan rindang. Aku terus berjalan sampai menemukan sebuah pantai tersembunyi.
Di mulut pantai itu aku berhenti.
“Keluarlah. Tunjukkan dirimu. Aku datang untukmu. Jadi, perlihatkan wujudmu.”
Tak lama setelah ucapanku, seorang perempuan muncul. Ia mengenakan pakaian adat dengan perhiasan emas, menyerupai sosok Nyai Roro Kidul. Perempuan itu melangkah mendekat perlahan. Entah karena aku yang tidak fokus, atau memang karena ia begitu cepat, tiba-tiba saja ia sudah berdiri di hadapanku.
“Bagaimana? Tumbalku yang ke-66, dengan orang yang sama. Apakah kau akan kabur lagi seperti dua tahun lalu?” ucapnya, membuat rasa kesalku memuncak.
“Aku bukanlah anak kecil yang datang dua tahun lalu! Aku adalah Anujara de Arjuna!!” bentakku.
“Oh?” ucapnya dengan nada iba. “Kalau memang begitu, kemarilah. Mendekatlah. Aku sudah menunggu kesempatan ini sejak kejadian itu.”
Aku pun terjebak dalam dekapannya. Perempuan itu memelukku sangat kuat hingga aku sulit bernapas.
“Sudah siap, manis?” ucapnya.
Aku mengangguk perlahan. Tiba-tiba dari arah belakang punggungku terasa sebuah benturan keras. Dalam detik-detik terakhir sebelum aku pingsan, aku mendengar bisikan perempuan itu:
“Good bye, my dear…”
—
### 10 Tahun Kemudian
Kepanikan menyelimuti Rumah Sakit Garuda Indonesia.
“Ayo, Bu! Tarik… hembuskan… tarik… hembuskan!” seru seorang perawat.
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan. Semua orang bersorak gembira menyambut kelahiran satu jiwa baru di dunia.
“Merilla de Arjuna,” ucap sang ibu dengan wajah berseri-seri, berbeda dengan ayahnya.
Simleen de Arjuna, lelaki itu, justru menatap penuh kekhawatiran pada bayi mungil yang baru lahir. Sorot matanya tidak menunjukkan kebahagiaan, melainkan rasa cemas mendalam.
“Kau tak perlu khawatir,” ucap istrinya lembut, “panggil dia Zylian de Arjuna.”
“Tentu saja aku khawatir,” balas Simleen, menghela napas panjang. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”
“Memberitahu kebenaran… pada waktunya,” jawab sang istri.
“Apakah dia akan mengerti nanti?”
“Tidak sekarang, sayang. Nanti, saat ia sudah dewasa. Saat ia mampu menghadapi kenyataan itu.”
Simleen menatap lekat istrinya, lalu tersenyum samar.
—
### Tahun Ajaran Baru
Aku, Merilla de Arjuna.
Hari ini aku memulai kehidupan baru. Orang tuaku sibuk dengan dokumen-dokumen untuk pindah negara, jadi aku harus pergi ke sekolah sendirian. Seru? Tentu saja tidak. Aku merasa kesepian, karena yang bisa kuajak bicara hanyalah sopir taksi yang bahkan tak tahu apa-apa.
Akhirnya, aku menginjakkan kaki di halaman sekolah. Setelah sekian lama duduk di kursi taksi yang keras, aku merasa pegal, tapi tak apa.
Bel sekolah berbunyi. Aku buru-buru berlari menuju kelas.
Kelas 7, lantai dua, dekat tangga. Ruangannya rapi. Tidak ada meja berantakan, papan tulis bersih tanpa coretan. Inilah salah satu sekolah elit di Amerika. Sedikit aneh rasanya, karena dari novel yang kubaca, anak-anak Amerika digambarkan lebih banyak yang nakal ketimbang yang tidak.
Beberapa menit setelah masuk, guru tiba dan pelajaran pertama pun dimulai.
Namun, di tengah pelajaran yang membosankan, aku melihat sesuatu.
Sebuah bayangan hitam di luar jendela.
Aku tercengang. Bagaimana mungkin ada bayangan sebesar itu di lantai dua? Tidak masuk akal. Cepat-cepat kualihkan pandangan kembali ke papan tulis, pura-pura memperhatikan guru.
Bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas. Koridor penuh sesak. “Mengapa muridnya bisa sebanyak ini?” gumamku.
Aku menuju kantin. Antriannya panjang. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh.
Seorang siswa berdiri di belakangku. “Hei, kalau lagi antre jangan melamun,” katanya.
Aku baru sadar antrean di depanku sudah maju jauh. Dengan malas kujawab, “Ya, ya.”
“Kau dari mana?” tanyanya.
“Bukan urusanmu,” sahutku ketus.
“Tentu saja itu urusanku.”
“Hah?!”
“Maju.”
Aku maju ke depan sambil meliriknya. “Apa maksudmu ini urusanmu?”
“Tak apa,” jawabnya singkat.
“Dasar merepotkan,” gumamku.
Belum sempat aku protes lagi, suara lain terdengar dari samping. Suara seorang perempuan.
“Kau dari keluarga de Arjuna, kan? Boleh aku berteman denganmu?” tanyanya.
Aku menoleh bingung. “Y-ya… boleh.”
Seketika suasana di sekitar kami jadi ramai. Banyak murid ikut melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kumengerti. Guru datang dan menenangkan keadaan. Setelah semua kembali teratur, aku membeli camilan lalu mencari meja kosong di pojok ruangan.
Aku baru saja duduk ketika siswa tadi ikut duduk di sampingku.
“Apa maumu?” tanyaku jengkel.
“Hanya ingin tahu namamu,” jawabnya santai.
“Itu bukan urusanmu!” bentakku.
“Aku tahu,” katanya tenang.
“Kalau begitu kenapa kau masih di sini?”
“Memangnya tidak boleh? Lagipula ini meja umum.”
Aku mendengus. “Terserahmu.”
“Oke. Terserahmu juga.”
Aku semakin jengkel. Sambil mempercepat makanku, aku bersiap pergi. Tapi sebelum aku sempat bangkit, dia bersuara.
“Merilla de Arjuna.”
Aku berhenti, menoleh dengan tatapan sinis. “Dari mana kau tahu?”
Dia terdiam beberapa saat, lalu menjawab datar, “Dari seragammu, bodoh.”
Setelah berkata begitu, ia pergi meninggalkanku.
Aku terdiam. Baru sadar… kali ini akulah yang salah.
Hari berikutnya, pelajaran berlangsung seperti biasa. Namun aku masih kepikiran tentang bayangan hitam kemarin. Rasanya tidak wajar.
Sepulang sekolah, aku sengaja memilih jalan memutar, melewati taman belakang sekolah yang jarang dilewati murid lain. Langkahku terhenti ketika bayangan itu kembali muncul.
Bayangan besar. Hitam. Tidak jelas wujudnya.
Aku mematung.
“Aku tahu kau bisa melihatku,” suara berat itu terdengar jelas, padahal tidak ada siapa pun di sekitarku.
Jantungku berdetak kencang. Aku berusaha bersuara, “Si-siapa kau?”
Bayangan itu bergerak, membesar, lalu perlahan berubah wujud menjadi sosok manusia. Seorang pria berambut hitam panjang, wajahnya pucat, matanya merah menyala.
“Akhirnya, aku menemukanmu… pewaris de Arjuna,” katanya.
Aku mundur selangkah. “Apa maksudmu?”
“Sepuluh tahun lalu, ada seorang gadis bernama Anujara de Arjuna. Dia gagal menjadi tumbalku yang ke-66. Sekarang… giliranmu.”
Darahku seakan membeku.
Nama itu—Anujara. Ibu pernah menyebutnya. Nenek buyutku, yang meninggal secara misterius.
“Jangan bohong… dia sudah mati!” bentakku.
Sosok itu tersenyum tipis. “Mati? Tidak. Dia hanya menunggumu… di sisi lain.”
Langkahku semakin mundur. Aku ingin lari, tapi kakiku seakan terpaku. Sosok itu mengulurkan tangannya, dan tiba-tiba udara di sekitarku bergetar.
“Aku akan menjemputmu… pada waktunya.”
Lalu, dalam sekejap, bayangan itu menghilang. Aku terjatuh ke tanah, tubuhku gemetar.
Sementara itu, dari kejauhan, seseorang memperhatikan. Siswa laki-laki yang kemarin menegurku di kantin. Ia menatapku serius, lalu bergumam, “Jadi… bayangan itu sudah menemukannya.”
—
Malam itu Millea tidak bisa tidur. Tulisan lama yang ia temukan terus mengganggu pikirannya. Kenangan tentang liburan bersama Natha—yang dulu terasa indah—sekarang justru seperti memberi petunjuk. Ada sesuatu yang Natha sembunyikan.
Besoknya, tepat tanggal 2 Agustus, ia memberanikan diri. Dengan flashdisk di saku, ia berjalan menuju tempat yang disebutkan samar dalam catatan lama: sebuah rumah kosong di pinggiran kota. Konon, tempat itu sering menjadi tempat nongkrong Natha dan Pranic akhir-akhir ini.
Saat tiba, suasananya sunyi. Pintu setengah terbuka. Millea melangkah masuk dengan hati-hati.
“Natha…?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban. Hanya suara angin.
Namun dari dalam ruangan, terdengar bisikan. Millea mengintip. Di sana, Natha dan Pranic duduk menghadap meja penuh kertas, laptop, dan… foto-foto lama. Salah satunya adalah foto mereka bertiga di kolam renang, bertanggal tahun lalu.
Hati Millea tercekat.
“Aku tahu kau ada di sana, Millea,” suara Natha tiba-tiba terdengar.
Millea kaget, melangkah masuk. “Kenapa kamu jarang masuk sekolah? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Natha menatapnya tajam, lalu menghela napas.
“Kau masih mengingat hari itu, bukan? Kolam renang, tawa kita, semua yang indah. Tapi ada satu hal yang tidak pernah kau sadari.”
Pranic berdiri, menambahkan, “Hari itu, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat hidup kita berubah.”
Millea menelan ludah. “Apa maksud kalian?”
Natha berjalan mendekat. “Liburan itu… adalah hari terakhir kita benar-benar bahagia. Setelahnya, aku dan Pranic menemukan sesuatu—sebuah rahasia yang bahkan guru-guru tidak tahu. Rahasia yang berhubungan dengan tulisanmu di flashdisk itu.”
Millea gemetar. Flashdisk di sakunya terasa semakin berat.
“Rahasia… apa?”
Natha menatap langsung ke matanya.
“Rahasia tentang siapa kita sebenarnya… dan kenapa semua kenangan itu ditulis untuk mengingatkan, bukan sekadar tugas sekolah.”







