Jika tak ada mesin ketik, aku akan menulis dengan tangan
Jika tak ada tinta hitam, aku akan menulis dengan arang
Jika tak ada kertas, aku akan menulis di dinding
Jika menulis dilarang, aku akan menulis dengan pemberontakan dan tetes darah!
Puisi Penyair karya Widji Thukul
Teman-teman, apakah kalian tahu bahwa tulisan dapat menjadi tombak pemberontakan di tengah peliknya situasi di dalam negeri akibat para oligarki. Kebijakan semena-mena yang dilakukan oleh pemerintah tentu tak boleh luput dari awasan masyarakat di dalam negeri. Musabab, kebijakan yang sekiranya tak masuk akal, barangkali merupakan siasat dari para tikus yang sukanya memberangus. Satu hal yang pasti, demonstrasi merupakan salah satu wujud ekspresi dalam melawan ketidakadilan, yang dalangnya siapa lagi, kalau bukan para keparat yang sedang asyik mengangkang di atas tumpukan penderitaan rakyat marjinal.
Negeri ini mendekati akhir. Bukannya pesimis, tetapi lihatlah orang-orang di atas kursi pemerintahan yang saling menyetir satu sama lain. Saya harap kalian masih ingat lukisan Yos Suprapto yang dibredel dengan dalih mengandung gambar sensual, lagu dari band Sukatani yang liriknya berisi kritik pedas dan realita yang sebenarnya terjadi, malah diintimidasi hingga disuruh klarifikasi. Lalu tempo hari, masyarakat yang disatroni hanya karena mengibarkan sebuah bendera bajak laut karena dinilai menciderai merah putih. Semuanya bergerak dari perintah paling atas menuju antek-antek yang ada di bawah, demi melanggengkan yang namanya kepentingan. Kebebasan bersuara tak lagi sama, malahan makin mirip dengan masa Orba.
Yap, kamu benar. Semuanya demi kepentingan segelintir orang, bukan publik secara menyeluruh. Slogan “suara rakyat adalah suara Tuhan” nyaris tak berlaku di negeri yang dipimpin oleh seorang tirani. Sungguh, hanya ajal yang dapat membuat mereka sadar. Namun, satu hal yang pasti, perjuangan tak mengenal kata lelah, perjuangan tak mengenal gender, perjuangan berpihak kepada siapa saja yang menaruh harapan atas nama keadilan, perjuangan-perjuangan akan terus lahir. Satu dibabat habis, sepuluh tumbuh melahirkan para humanis.
Apa kabar Mahasiswa? Selamat pagi. Sudah baca berita hari ini? Sudahkah kalian melihat tingkah konyol anggota dewan yang begitu “pongah” dengan segala jogetannya?Atau masih sibukkah kalian dengan dunia Akademik?Masih ingin lanjut pacaran dengan perempuan yang membuat kalian stagnan?Atau suguhan petualangan di Game Online sudah membuat kalian merasa menjadi pahlawan?Kawan, masihkah telinga kalian dungu dengan jeritan rakyat yang tiap hari menangis karena kelaparan?Atau mata kalian sudah dibutakan dengan megahnya gedung-gedung bertingkat? Padahal di belakangnya terdapat gubuk reot seorang Janda lumpuh yang hanya bisa mengharap uluran tangan tetangga.Atau barangkali hidung-hidung “pinokio” kalian sudah terlalu bersahabat dengan karbondioksida.Kawan, bangunlah. Sadarlah. Ibu Pertiwi memanggilmu.Kawan, sedikit kuceritakan kepadamu tentang kegigihan pendahulumu. Dan coba renungilah!!!Kawan, inilah momen-momen kita…1928…1945…1966…1998…Angka-angka itu bukan deret kosong. Angka itu adalah saksi sejarah. Bahwa kita pernah mengukirnya. Ada banyak lagi momentum untuk kita taklukkan. Entah kapan lagi. Entah tahun berapa lagi. Atau, benamkan ini dalam sanubarimu; “MARI KITA CIPTAKAN MOMEN ITU!”Mari berhenti sejenak, lalu menoleh sekitar. Betapa bangsa ini lemah dalam nestapa. Berlapis penderitaan. Berkuadrat kemelaratan. Persis seperti kata Rendra, “Kita telah dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain. Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri”.Kita harus berkata jujur pada nurani. Kita merindukan pemimpin yang menjadi sebenar-benarnya pemimpin. Bukan tukang revisi janji, sebab rakyat bukan dosen penguji.Tidakkah kau tanyakan pada keluargamu? Berapa pajak yang harus dibayarkan sekarang? Berapa harga singkong? Berapa harga Gas eceran di agen? Uang kuliahmu sekarang berapa? Berapa iuran BPJS? Berapa tagihan listrik?Tidakkah kau sadari, betapa rezim jagung ini begitu melukai hati?Tidakkah kau renungi, betapa rezim bonsai ini begitu menciderai rasa keadilan? Sedang kata orang nun jauh disana, “Negeri ini begitu kaya. Negeri ini begitu ramah. Sungguh mimpi di atas ironi.”
Tak ada lagikah pemuda-pemuda berani pada malam sebelum proklamasi? Atau tak ada lagikah ibu yang merelakan anaknya untuk berjuang? Seperti dalam syair, “Bunda relakan darah juang kami. Untuk membebaskan rakyat..” Atau, sebegitu pengecutkah kita di hadapan kebatilan?
Di tengah kegundahan ini, aku merindukanmu. Mengingatkanku pada tekad kita, pada momen kita. Kita dipanggil oleh zaman. Kita dibisiki oleh ilham. Kita melaksanakan takdir kita sebagai arus perubahan”.
Ada apa denganmu? Apakah arti dari deretan angka itu? Atau, betulkah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”.
Kemana saja kau pergi?Cukupkanlah istirahatmu.Gedung-gedung mewah itu menanti diteriaki, bukan hunian para tikus berdasi…Aspal panas itu rindu untuk kita shalati, bukan ditumpahi bahan bakar yang melukai…Panji-panji itu ingin dikibarkan kembali, bukan dibiarkan usang tak berarti…Kembalilah ke jalan. Bawalah kesadaran.Bangkitlah. Bukalah mata hati yang membuta.Turunlah. Leburkan nurani yang membatu.Kenakan kembali almamater perangmu.Agar terbukti, bahwa yang benar itu selamanya benar. Dan yang batil, itu menyerah pada kebenaran.Agar yang putih itu tetap putih. Dan yang hitam, kembali memutih.Jadilah pahlawan sejarah. Menyejarahlah bersama tinta peradaban.Atau jika kau sudah jemu, biarlah kepada diriku saja aku berkata: “Jadilah Pahlawan itu.”Allahu a’lam.







