Isolasi dan Masa Memantaskan Diri

Kau tahu kali ini hatiku tengah terisolasi. Iya, aku menggunakan kata ini karena aku tak menerima satu cinta pun yang datang. Aku hanya menunggu cinta darimu. Cinta yang suci dan cinta yang akan membuat hari-hariku diberkahi.

Calon imam, namamu belum juga terbayang dalam fikiran. Mengapa? Apakah karena aku belum pantas untuk bersanding denganmu? Atau karena dirimu menutup hati untukku?

Calon imam. Aku sering menyebutmu pada Tuhanku agar dia tahu serpihan isi hatiku. Orangtuaku juga sering mendengar keluh kesahku tentangmu.

Mungkinkah kau sekarang sedang menutup mata untuk berhibernasi di sana. Berhibernasi untuk memantaskan diri guna menemukan cinta yang panjang.

Bacaan Lainnya

Apakah kau tahu. Suatu saat nanti aku adalah orang yang paling menyesal karena telah mengenalmu. Mengapa? Kau mungkin merasa kecewa karena mendengar kalimatku ini. Namun, jawaban sebenarnya karena aku pasti akan takut jika rindu mencabik-cabik ruang hatiku ketika tak bersamamu. Aku tak mau kita berpisah. Aku tak mau kau jauh dari pandanganku nanti.

Calon imam. Aku menunggu kedatanganmu untuk sekadar memberitahu suatu berita yang akan membuat hati ini berbunga-bunga.

Aku menunggu kedatanganmu untuk sekadar pamit pada orangtuaku bahwa dirimu akan menggantikan posisinya dalam mendidikku…

Aku tahu bahwa dirimu dan diriku sama-sama sedang terisolasi dalam rangka memantaskan diri.

Aku harap dalam masa isolasi ini, kita sama-sama berjuang dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Maaf bila diriku terlalu mengharapkanmu.

Salam dariku untukmu.

 

Oleh: Mardhiyah Lee

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *