Ilustrasi Covid-19

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan sebaik- baiknya bentuk seperti yang sudah termaktub dalam surat At-Tin ayat 4, manusia berada dalam poros kesempurnaan dari makhluk lainnya mengapa demikian? karena manusia dianugerahi akal dan nafsu, tidak usah dibayangkan apalagi mencari kelogisan dalam pernyataan tersebut, malaikat diciptakan hanya diberi akal sehingga tatkala turun perintah bersujud tak ada kata penolakan atau keberatan sedikitpun, lalu bagaimana dengan hewan, makhluk yang hanya diberikan nafsu memang hewan memiliki kemampuan berpikir namun tidak di beri akal sehingga hewan tidak pernah dapat menilai perilakunya salah atau benar.

Social distancing adalah menjaga jarak sosial dengan cara penutupan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah dan penekannya ditujukan bukan hanya jarak fisik antara individu satu dengan individu lain namun dampak yang diakibatkan yakni menciptakan kecenderungan menutup diri secara sosial, nah dari pengertian serta dampaknya maka WHO (World Health Organization) sepakat menggunakan kata physical distancing yang berarti menjaga jarak fisik dengan mengisolasi diri ketika sedang sakit untuk memastikan penyakit tidak menyebar tanpa memisah secara sosial dan menjaga jarak 1-2 meter.

Pembatasan sosial maupun pembatasan fisik yang kerap kali disalah artikan oleh sebagian orang terutama di negara kita Indonesia ini, pembatasan yang awalnya di jadikan sebagai salah satu peraturan baru karena adanya virus corona yang terus menerus meluas dan meningkatnya angka kematian pada penderita. Apalagi seperti saat ini banyak informasi baru yang menyatakan bahwa ada mutasi baru dari corona virus tersebut.

Baca Juga  Kualifikasi Ideal Ketum PB HMI: Sebuah Harapan

Kita sebagai manusia yang dianugerahi akal untuk berpikir dan berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi peraturan dari pemerintah yang sesuai dengan syariat agama Islam. Nilai keaswajaan dengan metode berpikir (Manhaj Al Fikr) yang didalamnya meliputi 4T (Tawassuth, Tasamuh, Tawazun, Ta’adul) dapat di implementasikan sebagai orientasi kita dalam menghadapi kebijakan baru dari pemerintah.

Pertama, Tawasuth (Moderat) dengan adanya pembatasan sosial bukan berarti membudayakan menutup diri dari kegiatan sosial kita harus memiliki sikap moderasi terhadap orang lain yang terjangkit virus covid19 ini, dengan tetap menjalankan kegiatan sosial pada umunya namun tidak menutup kemungkinan untuk melarang orang yang terjangkit mengikuti acara tersebut, kan masih ada alternatif  yang dapat dilakukan seperti menyenggalarakan kegiatan sosial secara langsung bagi yang merasa sehat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan menyelanggarakan kegiatan melalui online pula agar yang terinfeksi virus masih dapat mengikuti kegiatan tanpa harus  menghadiri secara langsung.

Kedua Tasamuh (Toleransi), terjangkit virus covid19 bukanlah pilihan dan bukan keinginan namun semuanya merupakan siklus alam dan kondisi stamina tubuh sebagai tamengnya. Orang yang terkonfirmasi positif virus corona tetaplah manusia bukan zombie yang akan membunuh dan bukan juga hantu yang menakutkan, anjuran menjaga jarak bukan berarti mengucilkan dan anjuran isolasi diri bukan mengarah pada konsep frustasi, sikap toleransilah yang mampu menyadarkan dan memberi semangat bagi mereka yang sedang terkonfirmasi positif bahwa menjadi sehat adalah jalan terbaik,

Baca Juga  Kartu Prakerja Untuk Siapa?

“Tak selamanya yang sakit itu lemah dan tak selamanya yang sehat itu kuat.” (Anonim)

Ketiga Tawazun (Seimbang), covid-19 harusnya menjadi cambuk untuk kita agar lebih menyeimbangkan kehidupan ini dalam berbagai hal karena suatu hal yang terlalu itu tidak baik dan sangat kurang itu juga lebih tidak baik lagi jadi semuanya harus seimbang, seimbang bukan untuk kepentingan pribadi namun demi kesejahteraan dengan sadar bahwa protokol kesehatan semata mata penting untuk memutus penyebaran virus corona ini,

“Kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengawalinya? kalau tidak sekarang kapan lagi?”

Keempat Ta’adul (Adil), terkonfirmasi positif dari virus corona bukan akhir dari sebuah kehidupan namun jika berusaha untuk sembuh dengan mengkonsumsi vitamin, makan makanan bergizi, dan mengisolasi dirinya sendiri minimal 14 hari, berolahraga, dll. Tidak ada kata tidak mungkin untuk sembuh karena sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil, sebaliknya keadaan sehat total dan tanpa keluhan bukan juga alasan dari seseorang untuk tidak terkonfirmasi positif virus covid19, toh sekarang banyak juga yang terkonfirmasi tanpa adanya gejala namun dilihat dari hasil tes orang tersebut.

Dalam berserawung dengan orang banyak kita harus bersikap adil sehingga tidak ada yang merasa terkucilkan atau terpojokkan dengan perilaku kita dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah di anjurkan dimanapun dan kapanpun, jadi bukan berarti dalam pandangan kita, kita selalu berada dilingkungan yang sehat dan selalu berinteraksi dengan orang orang sehat mustahil untuk kita terkonfirmasi virus itu adalah pandangan yang salah.

Baca Juga  Selamatkan Lahan Gambut dari Si Jago Merah

“Keadilan berdiri bukan karena adanya peraturan, namun keadilan berdiri karena adanya penegakan.” (Anonim)

Oleh: Taschiyatul Hikmiyah, Mahasiswi program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Angkat Isu Lingkungan, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Adakan Forum Diskusi Eco-Spirituality

Previous article

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Memberikan Bibit Tanaman dan Mengadakan Kegiatan “Resik Deso”

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan