Iklim Komunikasi Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19

Persebaran Corona Virus Desease – 19 (Covid-19) di dunia ini kian hari kian meresahkan. Kabar buruknya virus ini juga telah sampai di Indonesia pada awal Februari. Wilayah yang jumlah populasinya banyak, seperti Jakarta mulai terjangkit. Beberapa masyarakat mulai memeriksa dirinya ke rumah sakit, kala mengetahui virus ini menimpa orang-orang sekitarnya. Selain takut tertular juga khawatir menularkan ke orang lain. Virus ini menyebar luas di daerah Ibu Kota sampai ke beberapa wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah di Indonesia lainnya.

Dalam skala nasional, sejak 02 Maret 2020 sampai 27 Maret 2020, angka orang yang positif Corona mencapai 1.046 orang, meninggal 87 orang, sembuh 46 orang data akumulatif (sumber Jawa pos). Untuk wilayah Jawa Timur sejak tanggal 05 maret 2020 ada 6 orang yang positif terjangkit virus Corona. Berdasarkan penyampaian dari Ahmad Yurianto selaku Jubir Pemerintah Covid-19, hingga 27 maret angka orang yang positif Corona mencapai 66 orang, 4 orang meninggal, 8 orang sembuh, 3781 orang dalam pemantauan, dan 267 pasien dalam pengawasan. Baru baru ini Jember termasuk zona merah Covid-19 (Sumber Jawapos).

Dalam menyikapi kasus ini, pemerintah hendak bergerak massif merespon situasi darurat ini. Pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan tentang larangan masyarakat berkerumun atau berkumpul dengan massa yang banyak. Menjaga jarak minimal satu meter dengan lawan bicara atau orang di sekitar kita. Mengatur pola hidup yang lebih baik dengan mekanisme yang dianjurkan oleh Kementrian Kesehatan (kemenkes).

Kebijakan ini didukung penuh oleh Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan instansi Pendidikan mulai Taman Kanak-Kanak hingga Universitas. Dengan ini, kemudian surat edaran masing-masing instansi keluar untuk mengalihkan metode aktivitas Pendidikan, Perusahan, dan Dinas kepada metode daring (Online). Kebijakan tersebut bertujuan agar terhindar dari kerumunan dan bersentuhan langsung dengan orang sekitar, sehingga Gerakan yang efektif dalam situasi ini ialah di rumah saja. Beberapa unversitas dan sekolah dasar sampai menengah atas, mengeluarkan surat edaran untuk aktifitas perkuliahan di ganti dengan metode daring sampai waktu yang tidak ditentukan.

Bacaan Lainnya

Komunikasi Simbolik Masyarakat

Masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan interaksi sosial, melalui aktifitas bersentuhan, sebagai tanda empathy antar sesama. Seperti tatap muka, berjabat tangan, dan menepuk bahu. Dalam teori komunikasi prilaku demikian disebut Phatic Communication, yakni komunikasi yang dilakukan oleh individu atau masyarakat kepada teman atau kerabat dekat, seakan akan mereka, antara komunikator dan komunikan satu keluarga, padahal tidak. Masyarakat Indonesia, terutama kalangan tradisionalis sangat erat sekali dengan kebiasaan berjabat tangan ketika bertemu dengan kerabat, saudara, atau orang yang baru kenal, bahkan kebiasaan ini menjadi wajib saaat bertemu dengan orang yang derajatnya lebih tinggi, seperti guru, ustadz, dan orang tua. Kebiasaan itu merupakan bentuk keakraban kepada teman atau saudara, juga bentuk penghormatan kepada yang lebih tinggi derajatnya.

Bahkan di daerah yang primitif, kebiasaan berjabat tangan dilakukan setiap bertemu dengan kawan interaksinya, di manana pun dan kapanpun. Bentuk penghormatan tersebut sebagai wujud komunikasi sebagai interaksi, dimana komunikan dapat memahami makna prilaku tersebut, tanpa perlu di jabarkan lagi mengapa prilaku tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk (simbol) pengormatan atau tanda keakraban, karena hal demikian sudah disepakati sejak dahulu sebagai lambang atau simbol penghormatan. Seperti dikatakan oleh Susanne K. Langer, seorang pakar komunikasi, bahwa kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang, dan itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Dedy Mulyana, pakar komunikasi Indonesia, Lambang atau simbol merupakan bentuk komunikasi yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok orang. Berjabat tangan di sini merupakan salah satu bentuk komunikasi simbolik yang dimaknai sebagai tanda penghormatan atau keakraban.

Iklim Komunikasi Masyarakat

Manusia sebagai makhluk sosial, sejatinya tidak bisa hidup tanpa orang lain, sehingga terjadi proses interaksi sosial untuk memenuhi kebutuhan sosial manusia. Proses interaksi sosial terjadi dalam segala bentuk komunikasi, komunikasi berupa penyampaian aspirasi, ide-ide, sikap-sikap, dan emosi dari individu ke individu lainnya terutama melalui simbol-simbol atau lambang. Peralihan metode aktivitas masyarakat (daring) telah merubah pola komunikasi masyarakat pada biasanya. Di tengah-tengah pandemi Covid-19, masyarakat dipaksa untuk mengganti model interaksisosial dan pemenuhan kebutuhan sosial mereka dengan pola komunikasi jarak jauh. Situasi ini memaksa masyarakat untuk memaksimalkan teknologi informasi sebagai salah satu jalan untuk komunikasi dengan sesama, segala kebutuhan sosial masyarakat mulai dari Pendidikan, pendapatan, dan interaksi sosial lainnya terpaksa menggunakan pola komunikasi jarak jauh, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi. Bagi masyarakat yang kehidupan sehari-harinya menggunakan teknologi sebagai media komunikasi tidak menjadi perosalan baru, namun menjadi hal baru untuk masyarakat yang kehidupannya jarang atau tidak pernah menggunakan teknologi dalam komunikasi.

Tidak bisa dipungkiri keduanya tetap menjadi persoalan besar apabila aktifitas (komunikasi) masyarakat tidak bisa dilakukan dengan tatap muka atau bersentuhan. Yang jelas beberapa bentuk komunikasi simbolik sementara waktu akan ditinggalkan oleh masyarakat dan diganti dengan pola komunikasi baru.

Komunikasi dalam situasi ini memerlukan bangunan sistem (simbol) baru dan bentuk komunikasi baru. Tentu disepakati dan menjadi lumrah ketika melakukan praktik komunikasi jarak jauh. Masyarakat harus mulai beradapdatasi dengan lingkungan jika hendak hidup dengan kondisi yang stabil. Membuat suatu mekanisme baru dengan pola dan bentuk komunikasi melalui media teknologi, sehingga capaian makna komunikasi masyarakat dengan sesama tetap sama sebagaimana pola komunikasi sebelumnya. Begitu pula dengan bentuk komunikasi simbolik, masyarakat harus membuat bangunan simbol (lambang) baru sebagai pengganti akan tetapi tidak mengurangi makna komunikasi tersebut. Menurut Sackman (1989) Situasi atau gambaran pola komunikasi dalam masyarakat disebut iklim komunikasi. Iklim komunikasi bisa berubah seiring perkembangan manusia dan lingkungannya.

Iklim komunikasi masyarakat di tengah pandemi Covid-19 telah berubah drastis, segala bentuk dan pola komunikasi untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat di lakukan dengan jarak jauh, demi menjaga masyarakat agar terhindar dari serangan virus. Masyarakat sudah dilarang berkumpul atau bertatap muka dalam berinteraksi, menggantinya dengan metode online (daring), masyarakat dilarang berjabat tangan ketika bertemu kerabat atau saudara, menggantinya dengan adu siku, salam hormat, dan bentuk simbolik lainnya sebagai bentuk komunikasi baru. Namun, karena unsur darurat, masyarakat mencoba memahami dan mengerti perubahan bentuk komunikasi tersebut, walau terkadang masih canggung atau ragu mempraktikkannya. Dan semua perubahan pola komunikasi tersebut sejatinya dalam rangka melawan Covid-19 yang mematikan. Semoga kita senantiasa terlindungi,

Oleh: Ahmad Ma’mun, Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Jember, sekaligus Aktivis HMI Jawa Timur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *