Ibuku

Ibu..

Di sini aku menuliskan tentangmu

Tentang seseorang yang amat hebat yang selalu ada untukku

 

Ibu…

Adalah orang yang paling tangguh

Adalah orang yang paling perkasa

Adalah orang yang sangat sabar, tulus nan ikhlas membimbingku

 

Ibu….

Banyak dosaku padamu yang belum aku tebus

Aku taktahu bagai mana cara mengungkapkan cinta yang teramat untukmu

 

Ibu…

Kau adalah pahlawanku,

Kaulah orang paling sabar mendidiku

Kaulah orang yang memiliki kasih sayang terbesar hingga tak bisa ku mengukur luasnya

 

Ibu…

Entah bagaimana caranya aku mengungkapkannya

Aku mencaintaimu dan menyayangimu

Maaf bila banyak salah dalam diriku padamu

Namun aku tahu bahwa engkau penyabar dan pemaaf

Selamat Hari Ibu..

 

Ibu, seseorang yang menjadi pahlawan yang amat tangguh, ia bagaikan perisai yang selalu aku genggam. Wanita tangguh yang mengutamakan anaknya dibandingkan dirinya. Wanita yang sangat tulus nan sabar menghadapi seluruh cobaan dan rintangan demi kelangsungan hidup sang anak sedari masih didalam kandungan hingga sebesar ini. Dalam setiap lantunan doa yang ia utarakan kepada sang pengusa langit dan bumi, dan di dalam sujudnya ia memohon akan keselamatan yang amat teruntuk sang anak dan keluarganya.

Ibu, adalah orang yang paling pertama merasakan sakit dan paling merasakan kesakitan saat anaknya terluka atau saat sedang jatuh sakit. Namun, ia lah yang akan menjadi obat pertama yang akan berusaha menyembuhkan sang buah hati tercintanya. Cintanya tak mungkin terbayarkan dengan permata terindah, cintanya yang tak mungkin terbayarkan dengan luasnya bumi ini, cintanya tak mungkin terbayarkan luasnya tata surya. Bagitulah besar cinta seorang ibu.

Umi, adalah panggilan yang aku gunakan untuk memanggil wanita yang amat tangguh itu. Aku ingat salah satu hadist nabi yang berbunyi;

 

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

Saat itu ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, Seperti yang telah ditegaskan dalam hadist di atas, seorang sahabat yang datang menghampiri Rasulullah dan bertanya

“Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini,” tanya sahabat itu.

Rasul menjawab, “Ibumu.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Lalu siapa?”

Rasul menjawab, “Ibumu.”

“Kemudian lagi, ya Rasul,” tanya orang itu. ”

Rasul menjawab, “Ibumu.”

Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; “Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?

“Bapakmu,” jawab Rasulullah.

Dari hadist di atas, timbul sebuah pertanyaan dalam benakku, ‘mengapa nama Ibu disebut tiga kali dalam sabda Rasulullah?’ itu karena ibu melewati tiga tahapan terberat dalam hidupnya yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Di sini peran ayah bukan berarti tidak berguna, tetap saja seorang ayah tetap diperlukan untuk mencari nafkah untuk anak istri dan keluarganya.

Di tiga tahap itu ibu bersusah payah berjuang tanpa lelah demi seorang anak. Ia harus mengandung selama sembilan bulan, dimana hamper seluruh kegiatan yang dilakukan ibu menjadi terbatas dikarenakan ia sedang mengandung sang buah hatinya selama sembilan bulan. Kemudian sang ibu harus menghadapi sebuah tahapan kehidupan yang mempertaruhkan nyawanya demi sang anak selamat. Lagi-lagi, demi sang buah hati. Di sana sang ibu harus kuat dan harus bertahan menahan rasa sakit yang mungkin saja dari kejadian itu bisa saja merengut nyawa sang ibu. Kemudian, di tahapan terakhir, sang ibu harus menyusui sang buah hati yang telah susah payah ia lahirkan dan mempertaruhkan nyawanya demi kehidupan dan keselamatan sang anak. Semua susu yang diberikan ibu kepada anaknya semua tergantung sang ibu. Jadi, sang ibu harus menjaga kesehatan dirinya agar bisa memiliki anak yang sehat.

Semua itu dilakukan oleh ibu demi anaknya. Demi melahirkan generasi yang baru dan membimbingnya agar bisa menjadi penerus bangsa.

Aku ingat yang selalu di ucapkan Umi saat aku hendak bersekolah, beliau berpesan saat selepas aku mencium kedua tanganya,

“Mas, jangan lupa bahagia, Umi sayang sama kamu, dan ingat sekolah itu menyenagkan! I love yau to the moon and back, till jannah” itu yang selalu di ucapkan Umi setiap pagi saat hendak sekolah hingga hari ini masih melekas di benakku.

 

Oleh: Raktaa Rajendra. Wakil Ketua OSIS Bidang Keamanan SMP Alam Nurul Furqon, Redaktur Pelaksana Majalah Pers SMP Planet Nufo, Anggota IPNU Ranting Planet Nufo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *