Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku ‘Empat Titik Lima Dimensi’
Jika usia kita telah sampai pada waktunya ‘tutup buku’, tidak ada kesempatan kedua untuk membuka lembaran baru. Ajal tak bisa diundur, tak bisa juga dimajukan. Dan yang mati mustahil kembali ke alam dunia. Semua berjalan sesuai ketentuan. Saya dan Anda semua sebenarnya menunggu antrean untuk berjumpa malaikat maut. Kemudian menuju alam barzah.
Kita tak kuasa menahan waktu yang kian menggerus diri. Tengok saja nenek-nenek yang saat ini keriput. Bukankah dulunya kulit mereka segar dan kencang? Bahkan sebagian jadi primadona di masa mudanya. Namun sekarang, giginya tinggal dua;
sendirian di kursi roda. Bunga yang dulu mekar mewangi, kini layu dan membisu. Tubuhnya mulai membungkuk, sorot matanya memudar, dan ingatannya melemah.
Demikian pula dengan kita saat ini yang merasa muda dan energik. Akan tiba saatnya, masa keemasan ini pergi. Apa yang terlewati bakal jadi jejak langkah yang akan mengisi catatan sejarah hidup kita. Hendak dipenuhi dengan amal kebaikan atau sebaliknya, tergantung kita.
Mau memanfaatkan atau tidak nikmat sehat dan waktu luang, keputusan ada di tangan kita. Yang jelas, waktu tidak berhenti berputar.
Pemuda hari ini adalah calon orang tua beberapa tahun lagi. Dengan catatan, usia kita cukup panjang. Sebab, malaikat Izrail tak kenal kompromi. Siapa pun orangnya; mau tua atau muda, anak pejabat atau orang biasa, kalau sudah waktunya ‘game over’, akan dicabut nyawa kita. Izrail bekerja sesuai ‘Standard Operating Procedure’ (SOP) dari Tuhan. Saat itu, tamat riwayat hidup kita. Semua yang dimiliki; rumah, kendaraan, istri, anak, uang, dan materi lainnya, meninggalkan kita. Padahal, sebagian dari kita mati-matian mengejarnya. Seolah akan hidup selamanya.
Dalam Alquran Surah Al-Anbiya’ ayat 35, Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.”
Kita sebatas singgah di dunia. ibarat pengembara yang akan kembali melanjutkan perjalanan panjang. Artinya, tidak menetap. Berhenti untuk pergi lagi. Sebab itu, sebagai pengembara kita dituntut untuk mempersiapkan bekal sebaik mungkin untuk melanjutkan perjalanan ke alam barzah dan akhirat. Persiapan itu bisa berupa dengan memperbanyak zikir, salawat, sholat sunnah, sedekah, menyebarkan ilmu dan pengetahuan, dan amalan-amalan lainnya.
Selain itu, kita mesti senantiasa berupaya untuk menghindari atau setidaknya meminimalisir perbuatan tercela. Karena, malaikat Raqib dan Atid tidak memiliki jadwal tidur. Mereka mencatat amal baik dan buruk kita siang dan malam non-stop.
Kita tak bisa bersembunyi dari pengawasan malaikat pencatat. Karena kita diciptakan bukan untuk sekadar ada. Lebih dari itu, untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Mengabdi kepada-Nya dengan sepenuh jiwa.
“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan (kehidupan) setelah kematian.” [HR.Tirmidzi]
Kemudian, menyeruaklah sebuah pertanyaan: sebenarnya apa yang kita cari di dunia? Silakan renungi sendiri. Siapa tahu, ada orientasi hidup yang perlu direvisi lagi. Sebelum semuanya terlambat. Sebab, kita tidak punya ‘orang dalam’ di alam barzah dan alam akhirat. Semua sibuk dengan amalnya masing-masing. Yang kita dambakan kelak hanyalah syafaat Rasulullah SAW. Sebab, melalui perantara beliaulah, kita bisa selamat.
Zest Hotel, Jl. Jemursari, Surabaya
Ahad, 29 Mei 2022
08.30 WIB







