Guru dan Harapan Bangsa

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk menghilangkan kebodohan. Salah satu cita-cita negara yang sangat penting adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa atau rakyat yang cerdas diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada di negara. Hal ini bertujuan untuk memajukan negara sehingga  mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat bahkan bersaing di ranah global.

Dalam hal mencerdaskan bangsa, guru merupakan sosok yang dituntut untuk memberikan dorongan, mengajarkan pelajaran bahkan kehidupan, dan melakukan berbagai hal untuk menciptakan generasi yang berkelas dan cerdas. Namun, kualitas penghargaan terhadap guru kian hari kian menurun apalagi di Indonesia. Guru dianggap sebagai profesi sepele dan dapat dilakukan oleh semua orang meskipun kualitas Intelejensianya sangat rendah. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan gaji guru menurun bahkan guru disalahkan bahkan dihukum jika melakukan kesalahan.

Beda halnya dengan Finlandia yang sangat memperhatikan kualitas guru. Bahkan, yang berhak menjadi guru adalah lulusan terbaik dan bergelar master. Profesi guru juga merupakan hal sangat diidam-idamkan oleh banyak orang di sana. Hal ini diidentifikasi  karena adanya konstruksi pemikiran yang berlaku bahwa guru adalah profesi mulia dan hanya generasi unggullah yang berhak menjadi guru.

Hal ini berbanding terbalik dengan kualitas guru di Indonesia. Pandangan masyarakat seringkali tertuju pada aspek materi. Pekerjaan guru dianggap biasa saja bahkan rendah karena gaji yang diperoleh tidak seberapa. Fenomena tersebut juga melahirkan pandangan masyarakat bahwa guru bisa dari kalangan tidak terlalu cerdas dan kelas rendah.

Pada dasarnya, gaji guru di Indonesia sama bahkan lebih rendah gaji guru yang ada di Finlandia. Namun, beban guru di Indonesia jauh lebih tinggi. Guru dituntut harus memahami isi kurikulum, melakukan kegiatan pembelajaran sesuai pedoman dari pemerintah, memeriksa tugas siswa yang sangat banyak, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya, tidak jarang jika guru setres bahkan efektivitas kegiatan belajar mengajar di kelas menurun. Apalagi di masa pandemi, guru dituntut membuat media pembelajaran dan lain sebagainya yang membuat mereka merasakan double burden.

Selain itu, rasio guru dan murid di Finlandia sangat ideal, yaitu maksimal 1:4. Rasio tersebut dirancang mengingat efektivitas di kelas. Guru dapat dengan mudah mengontrol kelas dan memperhatikan anak muridnya. Hal ini yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingkat keberhasilan yang dicapai lebih tinggi. Beda dengan Indonesia, konsep mengajar dengan murid yang jumlahnya membludak sudah biasa dilakukan. Terkadang, ada juga sekolah yang melanggar aturan rasio yang berlaku.

Jika hal tersebut terus berlanjut, kualitas pendidikan dari masa ke masa tidak akan mendekati kemajuan bahkan akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk melahirkan konstruksi pemikiran bahwa guru merupakan profesi paling mulia, tidak memberatkan guru dengan berbagai kurikulum dan aturan yang bahkan sering diubah, serta memberikan penghargaan yang layak kepada guru.

Selain pemerintah, beberapa faktor yang telah disebutkan selayaknya menjadi evaluasi bagi banyak pihak, yaitu pengelola pendidikan dan umumnya masyarakat luas. Untuk melahirkan generasi yang cerdas, bukan hanya dana pendidikan, tetapi juga kualitas pendidik juga perlu ditekankan agar generasi yang lahir bukan menjadi generasi yang lemah yang tidak diinginkan oleh negara bahkan agama (4:9).

Wa Allahu a’lamu bi ash-shawwab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *