Ketika kita membahas mengenai pasangan, pasti kita akan tertuju pada kata ‘cinta’. Memiliki pasangan atau pacaran sering dianggap membuat seorang dapat dewasa apalagi ketika sedang sakit hati dan menvmcoba mengikhlaskan.

Dalam lagu dijelaskan bahwa seseorang dewasa lewat luka.
Walaupun jatuh cinta rasanya mengasyikkan, tapi tetap saja apapun yang berlebihan, tidak akan baik bagi diri sendiri maupun banyak orang. Cinta haruslah diberikan sesuai dengan porsinya. Cinta kepada Sang Pencipta, kepada orang tua, suami atau istri, pacar, memiliki porsi yang tidak sama. Khususnya Cinta kepada manusia yang statusnya sebagai pacar atau sedang pendekatan, jangan terlalu berlebihan karena dapat membuat hati tersiksa.
Berkaitan dengan cinta dan benci kepada seseorang, Rasulullah SAW pernah berpesan untuk tidak berlebih-lebihan. “Mencintai atau membenci sesuatu tidak boleh berlebih-lebihan, biasa-biasa saja, tetapi berikan ketenangan kepada yang orang yang anda cintai itu maupun yang anda benci. Jangan sampai karena teramat membenci seseorang, akhirnya anda menganiaya mereka secara keji dan tidak boleh pula karena teramat cintanya hingga Anda melupakan Allah SWT.”
Sayyid Seif Alwi yang merupakan keturunan Sunan Gunung Jati, dalam sebuah video mengatakan: “kata baginda Rasul, cintai sesuatu itu jangan keterlaluan. Yang sedang-sedang saja. Membenci sesuatu juga jangan keterlaluan, yang sedang-sedang saja. Bisa jadi yang kalian sangat cintai itu akan mengecewakan kalian sehingga membuat kalian sangat sakit. Membenci sesuatu juga jangan keterlaluan. Karena bisa jadi suatu saat apa yang kalian benci justru itu yang kalian cintai. Malah justru kalian jatuh hati kepadanya. Banyak yang seperti itu. Dulu benci, sekarang cinta. Cieee,”

Baca Juga  Bangsa yang Dikepung Masalah

Selanjutnya, kita akan membahas tentang hubungan yang sehat itu bagaimana. Banyak sekali artikel yang membahas tentang hubungan toxic, tidak sehat, atau yang bermasalah. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas kriteria relasi antarpasangan yang sehat.

1. Saling mendengarkan.
Ilmu mendengarkan itu ilmu yang sepele tapi tidak semua orang mampu melakukan hal tersebut.
Pasangan yang mendengarkan seringkali mereka menyimak apa yang kita sampaikan, tidak memainkan handphone ketika bercerita, tidak sekadar mengatakan ‘oh’, tidak mengganti topik pembicaraan, tidak merespon dengan hal negatif, dan mencoba menasihati jika ada kesalahan.

2. Berani saling mengutarakan pendapat atau saling jujur.
Apapun pendapat atau kejujuran pasangan, asalkan tidak mengarah ke ranah negatif, itu sudah termasuk hubungan yang sehat.

Pokoknya, apapun itu pendapat dan kejujurannya, kalian bisa saling berbicara tanpa masalah dan bisa berubah serta bisa saling terima.

3. Berkompromi.
Mirip dengan bertukar pendapat, namun hal ini lebih musyawarah, saling bertukar pikiran dan pendapat, saling berbagi, saling mengingatkan satu dan yang lain.
Hubungan yang sehat merupakan impian semua orang. Semua masalah itu bisa dikompromikan atau dimusyawarahkan.
Poin kesatu, bila saling mendengarkan maupun supportnya “hanya” formalitas.

Maksud dari jujur adalah saat kita memiliki kesalahan di masa lalu, atau kekurangan, kita saling mengutarakan dan bukan untuk menutupi keburukan.

 

Oleh: Siti Mastiah, Disciples 2021 Monash Institute Semarang.

Guru dan Harapan Bangsa

Previous article

Apa Saja Kejadian di Bulan Dzulhijjah?

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan