Di era digital yang semakin maju, anak-anak memiliki akses yang lebih luas dan cepat ke berbagai platform media. Televisi, media sosial, permainan daring, hingga konten streaming kini menjadi bagian dari keseharian mereka. Situasi ini menuntut peran aktif orang tua sebagai “gatekeeper” dalam mengelola dan mengarahkan pengalaman bermedia anak agar tetap aman, positif, dan bermanfaat.
Menurut Wayne Danielson dalam National Television Violence Study 1995-1997, disimpulkan bahwa anak-anak lebih rawan daripada orang dewasa ketika menonton kekerasan. Anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat, mempunyai kemungkinan untuk meniru adegan kekerasan di televisi (Vivian, 2008 : 487)
Orang tua bukan hanya penonton pasif dalam kehidupan bermedia anak, melainkan pengawal dan pengarah utama. Namun, peran ini seringkali dihadapkan pada tantangan besar, Informasi yang berlimpah dan tidak tersaring dapat membawa risiko paparan konten yang tidak sesuai, penyalahgunaan data pribadi, dan dampak buruk lainnya terhadap perkembangan psikologis dan sosial anak.
Menyadari pentingnya peran ini, edukasi gatekeeper bagi orang tua dalam hal bermedia menjadi sangat penting. Dengan pengetahuan yang memadai, orang tua dapat mengambil langkah pencegahan untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif media dan di sisi lain, memanfaatkan sisi positif media untuk mendukung pembelajaran dan kreativitas anak.
Beberapa alasan pentingnya edukasi getkeeper dalam bermedia anak yakni; Pertama, media digital dapat memengaruhi perilaku dan pemikiran anak-anak.
Konten yang tidak sesuai usia dapat membentuk persepsi yang keliru dan memicu perilaku yang tidak diinginkan. Dengan edukasi yang tepat, orang tua dapat mengidentifikasi konten apa yang aman dan sesuai, serta bagaimana mengomunikasikan batasan kepada anak-anak dengan cara yang sehat dan edukatif. Kedua, literasi digital yang rendah di kalangan orang tua dapat menghambat pengawasan yang efektif.
Banyak orang tua mungkin tidak memahami mekanisme privasi pada aplikasi atau permainan daring, atau bagaimana mengatur kontrol orang tua (parental control). J. L. Singer menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara parental mediation, tingkat agresivitas anak, dan seringnya anak menonton televisi. Anak prasekolah yang jarang menonton televisi menunjukkan tingkat agresivitas dan parental mediation yang rendah.
Anak yang sering menonton televisi dengan orangtua yang melakukan parental mediation menunjukkan tingkat agresivitas yang lebih rendah daripada anak yang sering menonton televisi dengan orangtua yang jarang melakukan parental mediation (Moeller, 2001 : 144).
Adapun beberapa langkah penting yang dapat diambil dalam membangun peran gatekeeper orang tua:
1. Mengikuti Kursus Literasi Digital
Program literasi digital yang disediakan oleh sekolah, komunitas, atau lembaga nirlaba dapat memberikan informasi mengenai cara mengelola media dengan bijak. Orang tua yang mengikuti kursus ini dapat mempelajari teknik-teknik pengawasan yang aman dan memahami dampak psikologis dari penggunaan media.
2. Membuat Perjanjian Bermedia dengan Anak
Dialog terbuka dengan anak untuk membuat kesepakatan tentang durasi dan jenis media yang dikonsumsi sangatlah penting. Melibatkan anak dalam proses ini juga akan membangun kesadaran mereka tentang tanggung jawab bermedia yang sehat.
3. Memanfaatkan Teknologi Kontrol Orang Tua
Saat ini, hampir semua platform memiliki fitur pengaturan keamanan dan privasi. Orang tua perlu memahami cara mengatur filter konten, memonitor waktu layar, dan menjaga privasi data anak.
4. Mengajarkan Etika Bermedia
Orang tua harus mendidik anak tentang bagaimana bersikap bijak dalam interaksi daring, seperti mengenali berita palsu, memahami etika komentar, dan menghindari penyebaran informasi pribadi.
Edukasi gatekeeper bagi orang tua adalah kunci dalam menciptakan pengalaman bermedia yang aman dan membangun bagi anak-anak. Dengan pendekatan yang proaktif dan bijaksana, orang tua dapat mengarahkan anak-anak untuk memanfaatkan media sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan diri, sambil menghindari risiko yang dapat membahayakan.
Peran ini menuntut usaha berkelanjutan, tetapi manfaat jangka panjangnya bagi perkembangan anak tidak ternilai harganya.
*Oleh; Najwa Qotrunnada, Mahasiswa Universitas Islam Negeri KH Abdurrahman Wahid Pekalongan Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.





