Doktor Penggembala

Baladena.ID/Istimewa

Setiap pemimpin harus bertanggung jawab atas amanat yang diberikan untuk mengurus yang dipimpin. Rasulullah saw. memberikan perumpamaan bahwa pemimpin laksana penggembala (ra’in).  Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…

“Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya)” (HR. Imam Bukhari dan Imam Ahmad).

Melalui hadis tersebut, kita dapat memahami bahwa seorang pemimpin adalah seorang penggembala juga. Maksud penggembala di sini adalah sosok yang harus memberikan arahan kepada setiap gembalannya untuk berjalan sesuai dengan perintah sang penggembala. Sedangkan, rakyat diibaratkan gembalaan yang tidak tahu arah, sehingga memerlukan seorang penggembala untuk menuntun mereka berjalan dengan arah yang benar. Oleh sebab itu, setiap pemimpin harus bisa dan mempunyai keahlian untuk dapat mengarakan rakyatnya.

Ada banyak binatang yang bisa digembalakan. Salah satu yang paling lazim dan dilakukan di berbagai dunia adalah menggembalakan kambing atau domba. Seorang penggembala mendapatkan titipan dari tuannya, yaitu sang pemilik domba-domba untuk menggembalakannya. Penggembala itu harus menggiring domba-domba gembalaan menuju kepada ladang gembalaan yang hijau.

Bacaan Lainnya

Penggembala juga harus memperhatikan bahwa domba-dombanya makan dengan kenyang, dan minum air bersih untuk melepaskan dahaga setelah puas mengunyah. Tidak hanya itu, seorang penggembala juga harus memberi batasan-batasan terhadap gembalaannya sampai mana wilayah yang boleh dan tidak boleh dijamahnya. Dia harus memastikan bahwa domba-dombanya makan dan minum di tempat yang sudah disediakan atau menjadi miliknya.

Dalam hal ini, penulis menggunakan domba-domba sebagai simbol, karena para nabi terdahulu merupakan seorang penggembala domba. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ » . فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ « نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ »

Tidak ada Nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing.” Mereka para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Iya, saya telah menggembala dengan imbalan beberapa qirath (mata uang dinar, pen.) dari penduduk Mekah.” (HR. Bukhari, No. 2262).

Mohammad Nasih adalah salah satu contoh individu yang mengambil peran sebagai penggembala untuk domba-domba tuannya. Baginya, menjadi penggembala bukan soal yang mudah. Nasih kecil pernah menggembalakan dombanya sendiri di kampungnya. Ia membeli 10 domba untuk digembalakan di padang rumput belakang rumah. Sebelum sekolah, ia mengikatkan tali untuk domba pada pasak-pasak. Siang sewaktu pulang sekolah, ia melihat domba-dombanya dan memberinya minum. Lalu ditinggal lagi sekolah Madrasah Diniyah di sore hari. Pulang diambillah domba-domba itu untuk dibawa pulang. Jika hari libur, ia akan memanfaatkan waktu itu untuk menggembalakan domba-dombanya.

Perlu menjadi catatan, penggembala harus dapat memahami karakter setiap gembalaannya dan memiliki kesabaran yang besar. Komitmen dan konsistensi sangat dibutuhkan agar dapat membuat gembalaannya kuat dan sehat. Selain itu, diperlukan ketelitian lebih dalam menggembala supaya kebutuhan makan, minum, dan tidur setiap gembalaannya tercukupi. Banyak individu lain yang berusaha mendaftarkan dirinya sebagai penggembala, tetapi karena persyaratan yang rumit dan berat itu, maka dia mundur di tengah jalan.

Dia juga memberi batasan-batasan kepada gembalaannya tentang wilayah yang boleh dilewatinya. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan agar domba-dombanya tetap dalam koridor yang seharusnya, dan memastikan bahwa domba-dombanya tidak merusak barang-barang yang bukan menjadi miliknya. Selain itu, Mohammad Nasih juga memberitahu bahaya apa saja yang mengancam mereka semua. Menunjukkan mana racun dan mana madu, mana rumput dan mana plastik, serta mana air bersih dan mana air beracun. Supaya ketika mereka menyusuri seluruh ladang yang hijau mereka tetap merasa aman dan sudah tahu daerah mana yang berbahaya.

Sayangnya, tidak semua individu memiliki ketahanan menjadi penggembala. Bagi sebagian orang, menjadi penggembala merupakan hal yang repot dan tidak mudah. Ketahanan mental dan fisik yang baik sangat diperlukan dalam menggembala dan pemahaman terhadap kebutuhan gembalaannya. Meski ada sebagian orang yang mendaftar diri sebagai penggembala, namun tidak banyak yang bertahan lama. Konsistensi yang kurang menyebabkan mereka menyerah di tengah jalan. Akibatnya, banyak gembalaan yang tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga lambat laun tubuhnya akan menjadi kurus kering tak berdaya.

Doktor Nasih adalah bagian dari kelompok individu yang terus berjuang menghidupi gembalaannya agar tetap hidup. Bersama bagian kecil tersebut, Pak Doktor memiliki mimpi agar semua domba-domba yang digembalanya dapat tumbuh besar, kuat, dan sehat. Atas dasar mimpi tersebut, Pak Doktor harus memiliki konsistensi tinggi dalam membawa gembalaannya agar hasil yang telah lama diimpi-impikan dapat terwujud.

Dalam urusan menggembala manusia memang tidak sesederhana menggembala domba atau hewan lainnya. Dengan artian juga memerhatikan kebutuhan pokok manusia yang bersifat kompleks. Manusia punya akal, sementara hewan tidak punya, sehingga manusia lebih memiliki pilihan-pilihan yang banyak untuk berkendak. Dengan begitu, penggembala manusia harus memiliki kemampuan yang jauh lebih banyak dan lebih baik. Dia harus memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif sekalipun untuk menopang segala disain penggembalaan yang tentu saja tidak murah.

Jelas bahwa menggembala manusia membutuhkan kapasitas keahlian menggembala yang lebih besar daripada kapasitas yang diperlukan untuk menggembala domba. Hanya saja esensialnya sama, yaitu sama-sama melakukan pengurusan terhadap yang digembalanya. Berbekal ilmu pengetahuan dan pengalaman, Pak Doktor sangat mumpuni dalam memenuhi kebutuhan gembalaannya dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi.

Di dalam kurikulum sekolah alam yang didirikannya, yakni Sekolah Alam Planet Nufo, setiap santri akan diajari menanam pohon, lalu memelihara hewan, dan terakhir baru bisa menjadi mentor yang bertugas mengkader. Urutan yang demikian itu bukan tanpa sebab. Menanam pohon menjadi pilihan pertama, karena ia ia tidak memiliki nyawa dan relatif murah. Demikian seterusnya. Tingkat kesulitannyapun secara berurutan bertingkat. Dengan demikian, setiap kader bisa mendapatkan pelajaran terbaik soal pengurusan sesuatu, dari yang tidak bernyawa, bernyawa, hingga bernyawa dan berakal.

Begitu juga di Monash Institute, para mahasiswa yang tinggal di dalamnya juga dididik dengan model paradigma yang demikian. Mereka harus berhasil menanam tanaman sampai berbuah, menggembala kambing, hingga baru dizinkan untuk mengkader dengan kualitas tertentu. Tidak hanya kader-kader yang dianggap sebagai anak ideologisnya, anak-anak biologisnyapun dilatih menggembala sejak kecil. Mereka dibelikan kambing untuk digembalakan di lahan sekitar rumah perkaderan Monash Institute.

Dua Anak Doktor Nasih; Hokma dan Hekma sedang menggembalakan kambing di pinggir jalan menuju Monash Institute.

Membuahkan Hasil

Usaha-usaha yang dilakukan Pak Doktor sedikit demi sedikit membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Tidak sedikit gembalaannya yang tumbuh berkembang dengan baik, besar, dan sehat. Walaupun begitu, Pak Doktor belum merasa puas dan tidak akan berhenti menggembala hingga suatu saat memiliki koloni besar yang berisikan domba dengan varietas terbaik, dan siap untuk dilepas tanpa harus diarahkan lagi. Pasalnya, sudah terlalu banyak individu yang tidak bahkan kurang memperhatikan keadaan domba-domba yang ada di setiap ladang.

Penulis menantang Anda, pembaca sekalian, untuk ikut mencalonkan diri sebagai penggembala agar dapat melahirkan domba-domba yang unggul dan siap bertarung di arena global. Karena impian itu akan sulit terwujud, jika hanya ada satu penggembala saja. Pekerjaan ini sampai kini terus dilakukannya hingga ia mendapatkan impiannya kelak. Tidak banyak yang mau melakukan hal seperti ini, karena banyak manusia yang beranggapan bahwa mengurus diri sendiri lebih utama sebelum mengurus orang lain.

Mohammad Nasih pernah berkata, “Jika aku mengurus umat, maka Allah akan mengurus segala kebutuhanku, termasuk keluargaku akan terurus. Jika aku hanya mengurus keluargaku, Allah belum tentu mencukupi kebutuhanku.” Hal ini sesuai dengan sikap Rasulullah yang lebih mementingkan ummat dibanding keluarganya sendiri. Tidak peduli seberapa keras dan lelahnya,  tetap mengurus umat agar menjadi manusia yang kuat, sehat, dan baik.

Akhir dari pembahasan ini, penulis ingin menekankan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat terhadap perbuatannya di dunia, baik dia mengambil peran sebagai penggembala maupun tidak. Tetapi setiap manusia esensinya adalah penggembala. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ « أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi SAW sesungguhnya bersabda: Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya.

Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.

Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.

Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya.

Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya” (HR. Muslim).

Semoga kita termasuk hamba-hambanya yang  mendapat neraca dengan bobot amal shaleh lebih besar dibanding amal buruk kita alias surplus amal baik. Aamiin.

Oleh: Ahmad Muntaha, Disciple 2017, Sekretaris Umum HMI Korkom Sultan Agung Semarang.

Editor: Anzor Azhiev

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *