Istimewa

Akhir tahun 2019, dunia digegerkan oleh munculnya wabah baru di Wuhan, Cina. Wabah ini diduga muncul dari salah satu pasar daging hewan liar yang ada di sana. Corona, semua orang tak asing dengan namanya. Ia menjadi makhluk paling terkenal di muka bumi hari ini. Tua maupun muda, semua antusias membicarakannya. Wabah ini seolah telah mengubah tatanan kehidupan dunia.

Saat ini, corona sudah menyebar hampir di seluruh permukaan bumi. Ia menjadi trending topic yang renyah dibicarakan siapa saja. Bahkan, wabah corona beberapa pekan yang lalu sudah menghantui tanah air Indonesia. Akibat dari wabah ini menimbulkan banyak kegiatan terganggu. Dari sektor ekonomi misalnya, pendapatan perkapita Indonesia menjadi turun, dolarpun mengalami kenaikan hinggan Rp. 16.000, 00. Masyarakat resah nan gelisah. Menanti solusi dari pemerintah terhadap permasalahan baru ini.

Dari bidang pendidikan, corona mempunyai dampak besar. Terutama saat pemerintah menetapkan untuk meliburkan sekolah dan perguruan tinggi. Siswa dan mahasiswa harus belajar di rumah. Hal ini menimbulkan banyak meme kocak yang dibuat oleh anak-anak milenial sebagai bentuk curhatannya kepada guru dan pemerintah. Ada yang membuat video dengan kata-kata yang menyindir banget, ada juga pantun dari murid yang ditujukan pada guru, ada juga balasan pantun dari guru untuk murid.

Siapa yang direpotkan?

Semenjak diberlakukannya himbauan social distancing, para guru memberikan tugas melalui ponsel orang tua. Dengan demikian, orang tua akan lebih sering mendampingi anaknya belajar, mengerjakan tugasnya. dan lain sebagainya. Dalam hal ini, pekerjaan orang tua menjadi bertambah, bukan hanya siswa pada tingkat pendidikan dasar, mahasiswa pun merasakan ketidaknyamanan. Biasanya mereka ke kampus untuk melakuakn ibadah menuntut ilmu dengan model bertatap muka, tapi semenjak virus ini menghantui alam semesta, kuliah dengan sistem tatap muka diganti dengan kuliah online. Ibadah kuliah malah digantikan dengan pemberian tugas dari dosen, yang dibuat meme “tugasnya gada akhlak”.

Baca Juga  Pemerataan Pendidikan di Daerah Pelosok, Apakah Berlaku?

Siapa yang rugi? Tak jarang kalimat siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan apabila proses pembelajaran harus dilakukan dengan sistem tanpa tatap muka. Sistem ini memang merupakan jalan tengah yang bisa menjadi pilihan terbaik saat ini demi tetap terwujudnya proses pembelajaran di saat social distancing diterapkan. Diskusi di grup WA adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mengisi jam pembelajaran. Namun, sistem ini kurang efektif disebabkan tingkat kefokusan siswa sering teralihkan dengan pesan-pesan atau aplikasi yang lain.

Memang, sistem ini adalah sistem pilihan pemerintah yang dipilih untuk sementara waktu. Namun, dengan diberlakukannya system belajar tanpa tatap muka, tidak hanya menyebabkan kerepotan pada pelajar. Susah sinyal sering kali menjadi alasan pelajar saat harus melakukan system ini. Kuota internet yang terbatas, jaringan yang susah didapatkan, anak-anak rewel, dan juga masih banyak alasan lain yang muncul di sistem ini. Bagi pelajar yang mengambil konsentrasi eksakta, mereka mengeluhkan diberlakukan system ini. Ujarnya “diterangin aja belum tentu paham, apalagi kalau online kaya begini? Makin pusing tujuh keliling”. Kurangnya interaksi secara langsung dengan pengajar ternyata juga mempengaruhi tingkat pemahaman pelajar.

Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Sistem ini juga mempunyai beberapa kelebihan. Proses belajar ini bias dilakukan kapan saja, di mana saja, dengan apa saja. Sistem ini juga menguntungkan bagi kaum rebahan. Mereka bias menyimak grup diskusi dengan rebahan tanpa harus beranjak dari tempat ternyaman. Kelebihan lain yaitu biasanya pengajar relatif cuek saat dichat pelajar, semenjak diberlakukannya sistem ini, mau tidak mau pengajar harus lebih memberikan respon yang lebih bagus pada pelajar.

Baca Juga  Polemik E-Learning dalam Pendidikan

Corona mengajarkan kepada para pembelajar untuk bisa memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Mestinya, ini bukan hal yang aneh, di era teknologi yang sudah berkembang seperti sekarang ini. Namun, ternyata banyak yang tidak menfaatkan media yang sangat bermanfaat untuk pendidikan di era milenial ini. Semoga kita bisa terus belajar dengan lebih baik lagi, baik ada corona maupun tidak.

Oleh: Fina Syifaurrahmah, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang, Sekretaris Umum HMI Komisariat FITK Walisongo Semarang.

Fina Syifaurrahmah
Menteri Pendidikan Monash Institute Kabinet Militan, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FITK Walisongo UIN Semarang.

    Terkekang Rindu

    Previous article

    Hadapi Corona dengan Qoro’na

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Pendidikan