Istilah childfree muncul di Barat oleh para penganut paham feminisme. Ketika membaca bahwa feminisme adalah pencetus childfree, penulis langsung berpikir ini pasti salah. Sebab, paham feminisme barat lebih mengarah kepada kesetaraan gender. Sedangkan penulis sangat menentang kesetaraan gender dan lebih memilih keadilan gender.

Meski dikatakan bahwa alasan dibalik memilih childfree itu bermacam macam, bisa faktor ekonomi atau kesiapan mental, namun pasti ada kaitannya dengan paham feminisme yang ingin menyetarakan antara laki laki dan perempuan. Jika laki laki tidak mengandung, melahirkan dan menyusui, maka perempuanpun berhak demikian. Pemahaman seperti inilah yang dirasa kurang tepat dan menyalahi kodrat sebagai perempuan. Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan perempuan dengan rahim yang kokoh dan payudara yang berisi ASI adalah agar bisa melahirkan dan menyusui. Itulah yang penulis maksud dengan keadilan gender yakni menempatkan sesuatu sesuai fitrahnya.

Memilih untuk tidak memiliki anak adalah hak. Meskipun jika boleh penulis memberikan rekomendasi, lebih baik childfree bertarget atau berjangka. Jika masalahnya dalah faktor ekonomi dan mental, maka suami istri boleh memutuskan childfree sampai benar benar matang ekonomi dan mentalnya. Pastinya seiring berjalannya waktu baik itu ekonomi ataupun mental akan semakin kuat. Kecil kemungkinan selama hidupnya tidak pernah siap memiliki anak. Beda lagi apabila pahamnya adalah paham feminis yang secara ideologi memang tidak ingin hamil dan melahirkan layaknya laki laki.

Childfree sesungguhnya, meski itu adalah hak, bertentangan dengan hakikat pernikahan. Di dalam UU dijelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara laki laki dan perempuan dengan tujuan membentuk keluarga. Definisi keluarga sendiri secara umum terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Meski demikian bukan berarti memilih tidak memiliki anak itu melanggar Undang Undang. Lagipula pemerintah memiliki program yang dinamakan KB atau keluarga berencana dengan tagline “dua anak lebih sehat”. Salah satu tujuannya adalah menciptakan keluarga kecil yang sejahtera secara ekonomi. Berarti poin pentingnya adalah menunggu masa kehamilan sampai benar benar siap, bukan tidak hamil sama sekali.

Baca Juga  Senja Bercerita; "Rela!!!"

Allah SWT menjelaskan mengenai hakikat pernikahan. Diantaranya di dalam Qur’an surat an-Nisa ayat 1.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa hakikat menikah adalah memiliki keturunan. Bahkan diperjelas oleh Rasulullah dalam banyak hadist mengenai anjuran banyaknya keturunan. Namun dengan syarat ekonomi sudah mapan. Allah berfirman; “Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS An-Nisa: 9)

Bagi muslim perlu diketahui bahwa menikah bukan hanya semata mata untuk tujuan duniawi seperti memiliki keturunan, pewaris, dan penerus. Lebih dari itu, menikah memiliki tujuan ukhrowi diantaranya adalah agar sang anak menjadi jalan bagi orang tua menuju surga-Nya. Bukankah Rasulullah SAW mengatakan semua amal manusia tatkala meninggal akan terputus kecuali tiga dan salah satu diantaranya adalah anak shaleh yang mendoakan.

Alwi Husein Al Habib
Ketua Umum HMI Korkom Walisongo Semarang 19/20, Presiden Monash Institute Kabinet Nova, dan Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

BEASISWA KULIAH DI UICI DAN MENGHAFALKAN AL-QUR’AN DI PESANTREN PLANET NUFO

Previous article

Pandemi Terus Berlanjut Beresiko Meningkatnya Kasus KDRT

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Zetizen