Sudah saatnya manusia melek akan teknologi. Hal ini dikarenakan semua aspek dapat diakses dengan mudah menggunakan teknologi. Tidak terkecuali pada aspek transfer ilmu pengetahuan. Untuk mencari informasi tentang keilmuwan, internet menjadi pilihan banyak orang karena sangat mudah dijangkau dibanding harus melakukan perjalanan yang melelahkan seperti ulama terdahulu. Imam al-Bukhari misalnya.
Pada eranya, teknologi sangat susah untuk diakses, bukan seperti era sekarang yang serba praktis. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, ia harus berkelana dari satu kampung ke kampung lain, menempuh ratusan kota, bahkan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Hal ini ia lakukan demi belajar dan mengumpulkan hadits hingga akhirnya terkenal sebagai Amir al-Mu’minin fi al-Hadits.
Perjalanan beliau paling luar biasa adalah dari Khurasan menuju Mesir yaitu sekitar 2.292 km. Cukup melelahkan apalagi dilakukan dengan berjalan kaki. Namun, Alhamdulilah, manusia modern tentu tidak perlu menimba ilmu dengan melakukan perjalanan jauh dengan naik unta apalagi berjalan kaki. Cukup dengan kendaraan yang sudah tersedia dan serba cepat, urusan manusia cenderung lebih mudah. Apalagi pada era merebaknya COVID 19 yang menyebabkan perjalanan manusia terhambat, teknologi menjadi pilihan utama untuk mengakses pengetahuan. Untuk mencari informasi tentang ilmu pengetahuan cukup ke Google saja. Semuanya akan tersedia, murah dan mudah diperoleh.
Adanya kemajuan teknologi ini ternyata tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga dampak negatif pada pekerjaan, termasuk profesi guru. Reporter Merdeka.com Fatimah Rahmawati mengatakan bahwa ada 10 profesi yang akan punah dan salah satunya adalah guru dan dosen. Hal ini disebabkan teknologi yang akan menggantikan peran mereka. Teknologi cenderung lebih cerdas dan dapat menggantikan kecerdasan manusia. Manusia pernah lupa, namun tidak dengan Google yang menyimpan dan akan memberikan berbagai macam data.
Jika guru hanya berfungsi sebagai pemberi ilmu saja, maka tidak salah kalau reporter merdeka.com tersebut menyatakan bahwa profesi guru akan punah. Namun, pada dasarnya, pendidikan yang ideal bukan hanya mencakup aspek transfer of knowledge, tapi mencakup transfer of value. Transfer of value inilah yang menjadi basis Islam dalam mendidik yang dikenal dengan nama “Tarbiyah”. Konsep ini sudah banyak dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya, seperti nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya sebagai dasar dalam mendidik anak.
يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(Luqman: 17)
Dengan adanya konsep bahwa guru bukan hanya mengajarkan ilmu tapi mendidik agar siswa lebih berkarakter dan berpikiran terbuka, pernyataan tentang guru sudah tidak diperlukan lagi dan profesi guru akan punah dapat ditepis dengan mudah. Teknologi tidak akan bisa mendidik bahkan mengubah karakter siswa karena teknologi hanya bersifat menyampaikan saja.
Namun tidak bagi guru, karena guru memiliki nurani dan pikiran tentang bagaimana cara mendidik siswa agar memiliki akhlak al-Karimah. Karakter sangat diperlukan dalam segala aspek. Dalam 10 faktor kesuksesan, jujur menempati urutan pertama. Untuk menjadi pribadi yang jujur, teknologi tentu tidak bisa mendidik anak agar memiliki karakter itu. Selain itu, teknologi juga tidak bisa mendidik manusia menjadi pribadi yang disiplin karena hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia yang diberi akal dan nafsu.
Pendidikan karakter sejak dini sangatlah penting, karena sejak dini, anak masih dapat dicuci otaknya (brain wash) untuk melakukan kebaikan. Dalam rangka menanamkan basis karakter pada anak, butuh waktu 13 tahun. Hal ini selaras dengan bambu yang membutuhkan waktu yang lama untuk tumbuh. Oleh karena itu, teknologi bukan pilihan yang dapat digunakan untuk melakukan hal tersebut.





