Semalam ku sangat larut untuk tidur, entah kenapa tak seperti biasa. Padahal aku tak minum kopi, ku mencoba tidur hingga aku tak terbangun amat siang. Dulu kala kecil sering tidur bersama ibuku, nasehat beliau jika susah akan tidur, berarti kamu tidak membaca doa tidur serta tidak mengambil air wudhu dan baca ayat kursi, serta surat-surat pendek pengantar tidur.
Tak pikir lama lagi, aku bergegas. Aku hidupkan kran air, aku suguhkan kedua tangganku untuk mengambil air wudhu. Taklama kemudian, aku berbaring, membaca doa dan ayat kursi, serta surat-surat pendek pengantar tidur. Selang dua puluh menit, aku terlelap tidur hingga pagi.
Terbanggun dari tidurku, tak biasanya aku menonton TV. Aku mencari Siaran Berita-berita terkini. Alhasil, aku terkesimak melihat berita bencana alam di Pulau Jawa dan sekitarnya.
Menurut pantauan Kompas, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir yang terjadi di sejumlah wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Tangerang, terus bertambah. Data terakhir, Sabtu (4/1/2020) pukul 10.00 WIB, yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 53 korban meninggal dunia, dan 1 orang dinyatakan hilang.
Data ini disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi BNPB Agus Wibowo, Sabtu pagi.
“Jumlah korban banjir dan longsor yang melanda DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat bertambah. Korban meninggal dunia tercatat per 4 Januari 2020, pukul 10.00 WIB menjadi 53 orang dan 1 orang hilang,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi BNPB Agus Wibowo.
Sebelumnya, berdasarkan data Jumat (3/1/2020) malam, jumlah korban meninggal diketahui ada di angka 47 jiwa. Penambahan korban meninggal dunia terjadi di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor. Untuk Kabupaten Bogor 5 orang meninggal. Namun identitas masih belum diketahui.
Sementara itu, wilayah yang terdampak banjir hingga pagi ini mencapai 277 kelurahan. Rinciannya, 103 kecamatan yang tersebar di Jakarta, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Lebak, dan Kota Depok.
Adapun ketinggian air saat ini relatif surut mulai dari 0-0.7 meter. Sedangkan, data pengungsi yang terdata hingga saat ini mencapai 173 064 jiwa yang berasal dari 39.627 KK.
Lalu siapa yang disalahkan? Menurut kacamata awamku, salah kita semua. Karena apa?
Pembuangan sampah sembarangan, drainase air yang tak kunjung dibanggun, wilayah di pingir-pinggir air dijadikan tempat tinggal. Pegunungan dikeruk hingga rata, lingkungan tidak dijaga dengan baik.
Alam pun menanggis, karena kelompok-kelompok monopoli kerap tak memikir dampaknya. Asalkan, nafsu-nafsu kapitalisme mereka sampai pada klimaksnya.
Alam pun mulai tak bersahabat jika tempat mereka diganggu oleh tuan-tuang yang rakus. Tak memiliki Rasa berkecukupan hingga masyarakat yang menjadi korban atas perbuatannya.
Sebab, Tuhan memberikan semuanya untuk dikelola sebaik-baiknya, semakin banyaknya manusia, Tuhan Pun Menjamin berkecukupan dalam kehidupan manusia.
Sungguh tak patut salah menyalahkan, ini semua karena sifat manusia yang rakus akan kekuasaan. Akibatnya, semua terkena karena ulahnya. Wa Allahu a’lam.
Semoga senantiasa kita sadar akan penting membuang sampah pada tempatnya, bukan merusak SDA yang ada. Mari bersama kita merawat dan melestarikannya.
Oleh: Wildan Hanafi, Wasekum PA Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LaPMI) HMI Cabang Bandar Lampung







