Jangan fokus pada satu titik pandang saja. Cobalah menyebar. Mungkin kau akan menemukanku di pojok tergelap yang kau sebut sama itu.

Tidak semua harus diceritakan. Berusaha memejamkan mata walau kedua telinga tetap terjaga. Menggantungkan harap pada kata-kata yang tak tau sebab.

Sesetel kaki mulai merayap menghapus jejak di penghujung hari mengubah terang menjadi gelap kerontang, sampai aku (melebur) lepas ingatan pintu itu tercipta tanpa kunci pembuka.

Aku terjebak. Meemintal ijuk-ijuk menjadi sapu pembersih. Mengumpulkan retakan serpih mencetaknya menyerupai kunci.

Kukira itu bukanlah nyata saat penghianatan hadir di depan mata. Saat tubuh memilih diam tanpa diperintah. Saat semua terjadi dan berlalu menggores nestapa.

Aku adalah ranting yang iklas ketika daun-daun terlempar jatuh melepas hubungan karena termakan cumbuan angin.

Aku adalah panas saat kemarau menjalin ikatan terlarang dengan rintiknya hujan.

Aku adalah belanga yang rela terbakar legam demi menjadi bagian dari proses hidangan. Ikut andil mengambil peran saat takdir memang harus terjadi dan dijalani.

Kamu adalah hadir yang menjadi pergi.

Relakan. Ketika kata “henti” tak layak lagi ku-ucapkan. Biarkan bejana itu terkuras tak lagi terisi, memberi sekat memulai bernapas kembali, walau pada kenyataannya semua menggumpal menjadi kristal: sesal.

 

Tertanda: Intan Rifqia Nabila Putri

 

Baca Juga  Ruhut Tuduh Umat Islam Merongrong Pemerintah?

Nikmati Masanya, Jalani Prosesnya

Previous article

Alternatif Penyelesaian Sengketa Transaksi Elektronik melalui Online Dispute Resolution (ODR)

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Zetizen