Beban si Bungsu sebagai Harapan Terakhir Orangtua

Oleh: Dwi Qurrota Ainun, Peserta LKK HMI Cabang Bogor 2024 asal Cabang Serang

Sebagai anak terakhir dalam keluarga, si bungsu seringkali dianggap sebagai harapan terakhir orang tua. Banyak yang mengira si bungsu selalu dimanjakan, dianggap anak kecil, “anak mami,” atau bahkan anak yang paling disayang. Namun, kenyataannya tidak semua anak bungsu mendapatkan perlakuan istimewa tersebut. Ada banyak anak bungsu yang justru merasakan beban berat karena harus memenuhi harapan orang tua yang mungkin tidak dapat diwujudkan oleh kakak-kakaknya.
Harapan orang tua yang dilimpahkan kepada si bungsu kerap kali berupa cita-cita atau keinginan yang tidak tercapai oleh anak-anak sebelumnya. Hal ini menciptakan tekanan tersendiri bagi si bungsu. Terkadang, di balik kesan manja dan perhatian lebih yang diberikan, si bungsu sebenarnya menyimpan perasaan tertekan karena merasa harus memenuhi ekspektasi besar dari orang tua.

Menjadi anak bungsu memang memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri. Di satu sisi, si bungsu sering dianggap sebagai anak yang paling disayang. Namun di sisi lain, mereka juga harus menghadapi beban harapan yang tidak ringan. Oleh karena itu, menjadi si bungsu berarti siap menerima tantangan untuk terus berkembang, bekerja keras, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga.

Saat kecil, kehidupan si bungsu sering dianggap menyenangkan. Mereka biasanya menjadi pusat perhatian, diutamakan, dan keinginannya sering kali diikuti oleh orang tua. Bahkan, tidak jarang kakak-kakaknya harus mengalah demi memenuhi keinginan si bungsu. Di masa kecil, si bungsu terlihat bebas merengek atau bercanda dengan kakaknya tanpa banyak beban. Namun, seiring bertambahnya usia, si bungsu mulai menyadari bahwa kehidupan dewasa tidak semudah yang dibayangkan. Mereka sering kali menjadi satu-satunya anak yang tinggal bersama orang tua ketika kakak-kakaknya sudah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Di saat seperti ini, si bungsu diharapkan mampu menjaga, merawat, dan membahagiakan orang tua, membalas kasih sayang yang diterima semasa kecil. Lebih dari itu, si bungsu juga sering merasakan “warisan” tanggung jawab yang sebelumnya diemban oleh kakaknya. Beban menjadi anak terakhir sekaligus harapan terakhir orang tua membuat si bungsu merasa harus tegar, mandiri, dan mampu memenuhi ekspektasi keluarga.

Di saat kakak-kakaknya Telah Dewasa dan pergi dari rumah untuk melanjutkan kehidupannya masing-masing maka anak bungsu yang diharapkan untuk bisa menjaga, merawat dan membahagiakan orang tuanya seperti Ia di bahagiakan semasa kecil. Maka dari itu si bungsu harus selalu siap siaga dengan berbagai tantangan dan hambatan yang mungkin akan datang di masa depan ketika ia menjadi satu-satunya bungsu di rumah. beban yang dirasakan sang kakak juga turut dirasakan oleh si bungsu. kadang si bungsu merasa beban kakaknya sebagai sulung turun ia rasakan.

Salah satu tantangan terbesar bagi si bungsu adalah menghadapi “saingan” yang bukan orang lain, melainkan umur orang tua. Kekhawatiran terbesar si bungsu adalah jika mereka tidak mampu memberikan kebahagiaan atau membalas jasa orang tua sebelum waktu memisahkan mereka. Perasaan ini sering menjadi motivasi bagi si bungsu untuk bekerja keras, menjadi mandiri, dan bertanggung jawab.

Sebagai anak bungsu, mereka harus mampu membuktikan bahwa anak yang sering dianggap manja ini juga bisa menjadi individu sukses dan mandiri. Dengan semangat dan tekad yang kuat, si bungsu bisa memenuhi harapan orang tua sekaligus menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri dan keluarga.

Pandangan para ahli mengenai pola asuh anak bungsu sering kali mengacu pada ciri khas yang berkembang akibat posisi anak bungsu dalam keluarga. Salah satu pakar psikologi keluarga, Alfred Adler, menjelaskan bahwa urutan kelahiran  memengaruhi kepribadian anak. Menurut Adler, anak bungsu sering kali mendapatkan perhatian lebih dari orangtua dan saudara kandung. Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa pola asuh yang terlalu memanjakan bias membuat anak bungsu kurang mandiri. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menemukan keseimbangan antara memberikan perhatian dan membangun kemandirian anak bungsu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *