Beasiswa ‘Cuma-cuma?’ No!!

Secara umum, beasiswa hadir setidaknya didasari atas dua hal;  prestasi/talenta dan kesulitan dalam pembiayaan pendidikan. Pelajar/mahasiswa berprestasi sudah selayaknya diberikan beasiswa sebagai salah satu bentuk penghargaan (reward) sekaligus penghormatan atas prestasi yang telah dicapai dengan tidak mudah itu. Di sisi lain, ada juga siswa/mahasiswa berprestasi tetapi tidak bisa melanjutkan studi lantaran kesulitan untuk membiayai pendidikan yang akan/sedang ditempuh.

Dari kondisi itulah, sekali lagi, beasiwa bertebaran dengan beragam nama, program dan persyaratan. Sumber beasiswa pun juga beragam; dari pemerintah, perusahaan, yayasan hingga per-orangan. Semua ini muncul semata-mata dalam rangka memudahkan anak-anak bangsa dalam mengarungi proses mengenyam bangku pendidikan di sekolah/perguruan tinggi.

Muarsih (2009) menjelaskan bahwa tujuan beasiswa secara umum ada tiga: (1) meningkatkan pemerataan dan kesempatan belajar bagi siswa/mahasiswa (pelajar) yang mengalami kesulitan membayar biaya pendidikan. (2) mendorong dan mempertahankan semangat belajar pelajar. (3) agar bisa fokus belajar sehingga prestasi akademik semakin meningkat.

Jika disederhanakan lagi, tujuan akhir beasiswa adalah menghasilkan sumber daya manusia (kader) unggul dan berakhlak yang mampu berperan dalam mempercepat pembangunan bangsa dan negara.

Bacaan Lainnya

Untuk mewujudkan tujuan tersebut terdapat beragam cara, tergantung instansi penyedia beasiswa. Namun, yang paling umum, para penyedia beasiswa itu mematok kriteria atau syarat tertentu sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang hendak mendapatkan beasiswa. Artinya, beasiswa itu tidak diberikan secara cuma-cuma, yang penting syarat administratif terpenuhi. Harus diakui dan diketaui bahwa tidak ada beasiswa yang diberikan secara cuma-cuma. Namun, istilah cuma-cuma yang penulis maksud dalam uraian ini adalah tanpa adanya persyaratan ketat dan evaluasi yang berkelanjutan.

Beasiswa cuma-cuma inilah yang kemudian menjadikan tujuan beasiswa tidak tercapai dengan baik. Ada sejumlah kajian yang menyebutkan bahwa program beasiswa belum berdampak pada peningkatan prestasi sebagaimana tujuan beasiswa itu sendiri. Alih-alih fokus atau tekun belajar meningkatkan kemampuan diri, yang ada justru beasiswa bikin terlena. Yang demikian ini bukanlah bualan belaka, namun fakta lapangan yang berbicara.

Ibarat Dua Mata Pisau

Rasanya tidak berlebihan apabila salah satu penerima beasiswa di Amerika, Irfan AmaLee (2013) mengatakan bahwa lebih susah masuk Amerika daripada masuk ‘surga’. Pernyataan ini bukan bermaksud merendahkan surga dan menjunjung AS, tetapi sebagai ilustrasi bahwa untuk mendapatkan beasiswa studi lanjut di AS sangatlah susah, baik dari kriterianya maupun banyaknya persaingan. Yang demikian inilah justru yang menjadikan peraih beasiswa semangat belajar, tidak  leha-leha.

Kajian Widya Ningrum (2013) tentang pengaruh beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) terhadap prestasi mahasiswa FE UNY menyebutkan bahwa pemberian beasiswa PPA tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Memang, dalam kajian lain, seperti yang dilakukan Antonius Goa dan Ignatius Adiwidjaja dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuana Tungga Dewi (Vol. 7, No. 1: 2018) tentang pengaruh beasiswa terhadap mahasiswa menyatakan sebaliknya, yakni beasiswa sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar dan peningkatan prestasi.

Dari perbedaan hasil sebagaimana kesimpulan kajian di atas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa beasiswa ibarat dua mata pisau: bisa menjadi pelecut semangat belajar dan meningkatkan prestasi. Di sisi lain, bisa menjadikan seseorang merasa aman sehingga menjadikannya bak katak dalam tempurung. Dalam konteks inilah, beasiswa harus selalu diarahkan agar bisa mendorong mahasiswa untuk terus menempa diri dan punya semangat belajar di atas rata-rata.

Singkatnya, dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, memiliki kader terbaik bangsa yang cerdas dan sesuai dengan harapan serta dapat menjadi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara ilmu pengetahuan saja, tapi juga harus beriman serta bertaqwa (IMTAQ), maka dari itu, saya mendukung sepenuhnya program YAPI untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa dengan syarat yang ketat dan terukur, tidak cuma-cuma!

Lalu, seperti apa syarat yang ketat dan terukur itu? Saya yakin para orang tua kita di YAPI lebih paham. Meskipun demikian, saya mengusulkan salah satu persyaratan ini, yaitu mampu melampui minimal dua kompetensi dasar sebagaimana yang telah dirumuskan dalam buku pedoman pengkaderan Asrama YAPI. Jadi, menurut hemat penulis, yang berhak memperoleh beasiswa Asrama YAPI adalah mereka yang mampu melampui kompetensi akademik dan salah satu dari 4 kompetensi dasar lainnya (bisa akademik plus karakter Islami; kepemimpinan plus kewirausahaan; karakter Islami plus kepemimpinan).**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *