Awan Mendung di Langit yang Cerah

Pagi yang cerah di pondok al-Basith. Seperti biasa, jalanan dengan bunga yang menghiasi pinggirnya ramai dengan langkah kaki para santri yang baru saja keluar dari Masjid usai melaksanakan sholat shubuh. Mereka bergerombol menyusuri jalan menuju asrama. Sebagian santri junior berlari kecil, mendahului santri-santri yang lain, karena ingin cepat-cepat mendapatkan kamar mandi. Beberapa santri meneriaki mereka, “ba’daka! (Setelahmu!)”. Jalan itu riuh dengan suara langkah kaki dan suara teriakan.

Di tengah keriuhan tersebut, seorang santri dengan sorban yang menutupi kepalanya, menyelinap masuk ke dalam gerombolan. Dia bukan dari arah masjid, tapi dari arah kelas. Yogi, begitu mereka memanggilnya. Dia baru saja keluar dari tempat persembunyiannya dan ikut masuk ke dalam gerombolan santri yang baru saja pulang dari masjid. Lagi-lagi dia berhasil melakukan aksi kotornya tanpa diketahui oleh mudabbir (pengurus).

Hampir setiap hari dia melakukan hal tersebut. Meski begitu, para pengurus tak ada yang mencurigainya. Sebab, Yogi bukanlah pelanggar seperti kebanyakan. Dia memang seorang pelanggar, tapi dia seorang yang pendiam sehingga tak banyak yang tahu tentang kebiasannya itu. Jangankan diketahui oleh pengurus, teman sekelas, sekamar bahkan seangkatan hampir tidak ada yang mengetahui mengetahuinya.

***

Sebenarnya Yogi adalah anak yang baik. Ketika masih bersergam putih-biru dongker, Yogi sering menjadi juara kelas. Sholat lima waktu juga tak pernah Dia tinggalkan. Ketika di rumah, Yogi adalah anak yang disiplin. Dia bisa membagi waktu belajarnya dengan baik. Namun, ketidaksukaannya terhadap suasana pondok yang penuh dengan aturan mengubahnya 180 derajat.

Berada di pondok ini bukanlah keinginan Yogi sendiri. Dia dipaksa oleh orang tuanya. Kata mereka, alasan dia dimasukkan ke dalam pondok agar dia menjadi orang yang baik. Namun, tampaknya harapan itu tidak ingin diwujudkan oleh Yogi. Malah sebaliknya, dia sering tidak mengikuti agenda keseharian pondok, terutama agenda setelah sholat shubuh. Dia lebih memilih menyendiri di tempat persembunyiannya, meratapi kehidupan pondok yang sangat tidak disukai olehnya.

***

Setiap kali selesai sholat Shubuh, Dia akan segera keluar dari masjid lalu menuju tempat persembunyiannya. Ada begitu banyak tempat persembunyian yang aman dan nyaman yang hanya diketahui olehnya. Di kelas, di gudang, di aula bahkan sebuah kamar mandi rusak, ia jadikan tempat persembunyian yang nyaman. Di tempat persembunyian itu, Dia akan melanjutkan tidurnya atau sekedar berkhayal  bisa memiliki seorang santriwati yang diidamkannya, Dhea namanya.

***

Dhea adalah santriwati yang cantik, ayu dan juga cerdas. Dia adalah teman sekelas Yogi. Dialah yang membuat Yogi tetap bertahan di pondok walaupun Yogi sangat benci dengan keadaannya saat ini. Dhea seolah menjadi obat bagi rasa benci Yogi terhadap penjara suci yang Dia tempati sekarang.

Namun, Yogi hanya bisa memandang Dhea tanpa berani mengungkapkan perasaannya. Yogi terlalu takut cintanya ditolak ketika ia menyatakannya secara langsung. Bagaimana tidak, Yogi dan Dhea bagaikan bumi dan langit. Yogi adalah pelangar, sedangkan Dhea adalah santri disiplin dan bahkan saat ini Dhea telah menjabat sebagai Ketua Bagian Keamanan Santri Putri. Hal itu membuat Yogi lebih memilih mencintai Dhea dalam diam meskipun Dia tidak tahu kapan cintanya akan terbalaskan. Cinta bertepuk sebelah tangan menjadi kisah asmara yang harus dijalani Yogi.

***

Sampai suatu ketika, Yogi disadarkan oleh kenyataan yang pahit. Sama seperti biasa ia keluar dari masjid dan menuju tempat persembunyian. Bumi masih gelap bahkan lebih gelap dari hari-hari biasanya, matahari pun belum menunjukkan sedikit pun sinarnya. Yogi menatap langit. Tak ada bintang di sana. Rupanya shubuh ini langit sedang mendung, menandakan pondok itu akan segera diguyur hujan. Hawa dingin yang menusuk kulit hingga ke tulang ikut menghiasi suasana pondok itu.

Hanya bermodal sorban yang agak tebal, Yogi kembali melakukan rutinitas buruknya itu. Kali ini tempat yang ia pilih adalah Aula. Tempat itu cukup luas, tapi tetap aman untuk persembunyian. Tak banyak barang yang ada di sana, hanya tumpukkan kursi, beberapa meja yang diselimuti kain, dan sebuah lemari yang agak besar disudut Aula yang sejajar dengan pintu. Barang-barang lain, seperti kursi sofa, sound system, dan peralatan lainnya berada di gudang penyimpanan. Gudang itu berada di sudut Aula bagian depan, dekat dengan panggung utama.

***

Yogi memasuki Aula lewat jendela samping yang berada tepat di belakang lemari. Jendela itu tidak di kunci, karena Yogi lah yang telah membuat jendela itu terbuka dan menjadi jalan tikus yang sangat rahasia. Dengan perlahan Yogi mulai membuka jendela dan mendorong lemari untuk membuat celah antara dinding dan lemari itu sehingga Dia bisa bersembunyi di sana. Setelah dirasa cukup untuk menjebloskan diri, Yogi segera melompat, masuk dan kembali menutup jendela agar tidak ada yang curiga. Kini Dia telah berada di dalam ruangan yang lengang dan gelap. Yogi duduk dibelakang lemari, diam dan berbaring untuk melanjutkan tidurnya.

Lama-kelamaan, Yogi mulai merasa kedinginan. Itu karena angin yang masuk dari ventilasi yang berada di atas jendela. Yogi agak merinding dengan suasana itu. Sekitar sepuluh menit menahan rasa dingin di aula, tiba-tiba Yogi dikejutkan dengan suara dari arah pintu. Terdengar seseorang sedang memasukkan kunci ke lubangnya dan mulai memutarnya hingga berbunyi “klek”. Gagang pintu turun dengan perlahan seakan tidak ingin ada yang tahu kalau pintu itu akan dibuka.

***

Sekarang pintu itu mulai terbuka dan sinar lampu yang ada di depan pintu mulai menyinari bagian dalam aula. Seseorang terlihat masuk. Yogi mengenali orang itu, kemeja putih lengkap dengan jas dan kopiah hitam yang tegak, sorban hijau di pundak kiri dan sebuah papan nama berwarna biru di dada sebelah kanan. “Guntur!”, besit Yogi dalam hati. “Apa yang dia lakukan di sini?”. Rupanya, hawa dingin telah membuat Yogi tidak sadar bahwa Guntur adalah seorang mudabbir yang jabatannya sama dengan Dhea. Guntur kembali menutup pintu dan menguncinya. Dengan membawa senter mini, Guntur mulai mengitari aula.

Yogi mulai ketakutan ketika Dia tersadar siapa sebenarnya orang yang telah membuka pintu tadi. Kini, Yogi tiarap dan menahan napas. Suara langkah kaki Guntur semakin mendekat kearahnya. Detak jantuk Yogi makin tidak beraturan. Rasa kantuk yang sedari tadi dia manja-manjakan kini hilang, berganti dengan cucuran air keringat yang membasahi kemeja putihnya. Kopiah hitam yang dia pakai juga telah dia tanggalkan. Rambutnya basah oleh keringat seolah-olah baru saja dia selesai mandi. Sorban hitam yang biasanya dia gunakan sebagai bantal, kini ia gunakan untuk menutup tubuhnya, berharap dengan itu Guntur tak mengetahui ada orang di baliknya.

Tak berani dia mengintip keluar untuk melihat sosok yang datang itu. Dia tetap diam pada posisinya. Hingga sebuah suara menghentikan langkah kaki itu sebelum benar-benar dekat dengan tempat persembuyian Yogi. “Sayang! Ngapain sih? Aku udah lama nunggu loh… sampe kedinginan gini”, keluh suara itu dari arah gudang aula. “Sabar, Sayang! Aku hanya merasa ada seseorang selain kita di sini”, timpal Guntur, membujuk. “Kamu itu suka aneh-aneh deh…, aku yang dari tadi di sini gak ngerasain apa-apa kok. Udah… gak usah mikirin itu. Waktu kita gak lama. Aku udah gak tahan nih”, Aduh suara itu, meminta kemauannya segera dipenuhi. “Iya, Sayang! Aku datang. Sebentar lagi rasa dingin itu akan hilang, karena kita akan saling menghangatkan”, jawab Guntur, merayu.

Yogi yang mendengar percakapan mereka hanya bisa tertegun tak percaya. Pupus sudah harapan yang selama ini dia pegang. Pasalnya, dia mengenali suara dari arah gudang aula itu. Dia tahu siapa yang berbicara dengan Guntur tadi. Ya, tak salah lagi, itu suara Dhea, sosok perempuan yang diidam-idamkan olehnya. Kini, wanita yang dianggapnya bak langit dengan awan yang suci itu telah menampakkan awan mendungnya dan badai petir yang menakutkan.

Oleh: Rasya Akhtar, Pengagum Cinta dalam Pena

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *